Seorang Ibu di gigit oleh cheetah

Foto diambil oleh seorang turis dari Skotlandia dimana di foto ini menunjukkan wanita sedang bergulat  di tanah, dengan darah di lehernya, dengan dua ekor cheetah yang mengigitnya. nama wanita itu : Violet D'Mello of Aberdeen diserang oleh cheetah di sebuah pusat penangkaran hewan  Kragga Kamma Afrika Selatan.

Legenda Si Kelingking dari Belitung

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terdiri dari dua pulau utama yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung serta pulau-pulau kecil seperti P. Lepar, P. Pongok, P. Mendanau dan P. Selat Nasik, total pulau yang telah bernama berjumlah 470 buah dan yang berpenghuni hanya 50 pulau. Bangka Belitung terletak di bagian timur Pulau Sumatera, dekat dengan Provinsi Sumatera Selatan. Bangka Belitung dikenal sebagai daerah penghasil timah, memiliki pantai yang indah dan kerukunan antar etnis. Ibu kota provinsi ini ialah Pangkalpinang.

Di sebuah desa di Pulau Belitung, hiduplah sepasang suami-istri yang miskin. Walaupun hidup miskin, mereka tetap rukun dan bahagia. Namun, kebahagiaan itu terasa belum lengkap, karena mereka belum mempunyai anak. Untuk itu, setiap malam kedua orang suami-istri itu senantiasa berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai seorang anak.

“Ya, Tuhan! Karuniakanlah kami seorang anak, walaupun sebesar kelingking!”
Rupanya doa mereka dikabulkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Tidak beberapa lama kemudian sang Istri hamil. Sepasang suami-istri itu sangat senang, karena tidak lama lagi akan mendapatkan seorang anak yang selama ini mereka dambakan.

Beberapa bulan kemudian, sang Istri pun melahirkan. Namun, mereka sangat terkejut ketika melihat bayi yang keluar dari rahim sang Istri hanya sebesar kelingking.
“Bang! Kenapa anak kita kecil sekali, Bang?” tanya sang Istri sedih.

Mendengar pertanyaan istrinya, sang Suami hanya diam. Ia seakan-akan tidak percaya apa yang sedang mereka alami. Akhirnya, sang Suami teringat dengan doa yang sering mereka ucapkan.
“Dik! Ingatkah doa kita selama ini? Bukankah kita selalu berdoa agar diberikan anak walaupun sebesar kelingking?” tanya sang Suami mengingatkan istrinya.

“Ooo, iya. Rupanya Tuhan mengabulkan doa kita sesuai dengan permintaan kita,” kata sang Istri.
Bayi itu pun mereka pelihara dengan sebaik-baiknya. Waktu terus berjalan hingga anak itu berusia enam tahun. Namun, badan anak itu tetap sebesar kelingking. Oleh karena itu, mereka memberinya nama Si Kelingking.

Mulanya, sepasang suami-istri itu sayang kepada Si Kelingking. Tetapi, ada suatu hal yang membuat mereka risau, yakni walaupun badannya kecil, Si Kelingking banyak sekali makannya. Sekali makan, ia dapat menghabiskan secanting[1] nasi, bahkan terkadang masih kurang. Setiap hari suami-istri itu selalu bingung, karena penghasilan yang mereka peroleh hanya cukup untuk dimakan oleh Si Kelingking sendiri. Oleh karena sudah tidak kuat lagi menghidupi Si Kelingking, kedua suami-istri itu bersepakat hendak menyingkirkannya dari kehidupan mereka.

“Bang! Bagaimana caranya kita menyingkirkan Si Kelingking?” tanya sang Istri bingung.

“Abang punya cara,” jawab sang Suami.
“Apa itu, Bang?” tanya sang Istri penasaran.

“Besok pagi, aku akan mengajaknya ke hutan,” jawab sang Suami.
“Ke hutan? Untuk apa, Bang?” tanya sang Istri tambah bingung.
“Aku akan membuangnya di tengah hutan,” jawab sang Suami.

Sang Istri pun setuju. Keesokan harinya, sang Ayah mengajak Si Kelingking ke hutan untuk mencari kayu. Setibanya di tengah hutan, sang Ayah segera menebang pohon besar.

“Kelingking! Kamu berdiri di situ saja! Ayah akan menebang pohon ini!” seru sang Ayah.
“Baik, Ayah!” jawab Si Kelingking menuruti perintah ayahnya.

Namun, tanpa disadari oleh Si Kelingking, ayahnya menebang pohon itu diarahkan kepadanya. Sang Ayah sengaja melakukan hal itu, agar pohon itu menimpanya. Beberapa saat kemudian, pohon besar itu pun roboh menimpa Si Kelingking. Melihat hal itu, sang Ayah bukannya sedih, melainkan gembira.
“Matilah kau kerdil! Ha... ha... ha...!” seru sang Ayah sambil tertawa terbahak-bahak, lalu mendekati pohon besar itu.

Setelah memastikan dan yakin anaknya mati, sang Ayah segera kembali ke rumahnya untuk menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Mendengar cerita suaminya, sang Istri pun menjadi senang.
“Bang! Mulai hari ini, hidup kita akan jadi tenang,” kata sang Istri kepada suaminya.
Namun, menjelang siang hari, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar rumah.
“Ayah...! Ayah....! Diletakkan di mana kayu ini?”
“Bang! Sepertinya itu suara Kelingking. Bukankah anak itu sudah mati?” tanya sang Istri heran.
“Ayo, kita keluar melihatnya!” seru sang Suami penasaran.
Kedua suami-istri sangat terkejut saat melihat Si Kelingking sedang memikul sebuah pohon besar di pundaknya.

“Ayah! Diletakkan di mana kayu ini?” tanya Si Kelingking.
“Letakkan di situ saja!” perintah ayahnya.

Setelah meletakkan kayu itu, Si Kelingking langsung masuk ke dalam rumah mencari makanan. Oleh karena merasa kelaparan usai memikul pohon besar, ia pun menghabiskan secanting nasi  yang sudah dimasak ibunya. Sementara ayah dan ibunya hanya duduk bengong melihat anaknya, dan tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.

Sejak Si Kelingking kembali ke rumah, kehidupan mereka semakin susah. Semakin hari Si Kelingking semakin banyak makannya. Tidak cukup jika hanya makan secanting nasi. Melihat keadaan itu, sepasang suami-istri itu kembali berunding untuk mencari cara menyingkirkan Si Kelingking dari kehidupan mereka.
“Bang! Apa lagi yang harus kita lakukan?” tanya sang Istri bingung.

“Besok Abang akan mengajaknya pergi ke gunung untuk mengambil batu,” jawab sang Suami sambil tersenyum.

“Tenang, Dik! Recanaku ini pasti akan berhasil,” tambah sang Suami dengan penuh keyakinan.
Keesokan harinya, sang Ayah mengajak Si Kelingking ke gunung untuk mengambil batu. Sesampainya di kaki gunung, sang ayah berhenti.

“Kelingking! Ayah akan naik ke atas gunung hendak mendongkel batu-batu itu. Kamu tunggu di sini saja sambil menghadang dan mengumpulkan batu-batu itu,” perintah sang Ayah.
“Baik, Ayah!” jawab Si Kelingking.

Setelah itu, sang Ayah mendaki gunung itu sambil membawa sebatang kayu untuk digunakan mendongkel batu. Pada awalnya, ia hanya mendongkel batu-batu kecil, lalu batu yang agak besar, dan kemudian batu yang lebih besar lagi. Pada saat mendongkel batu besar itu, ia sengaja mengarahkannya kepada Si Kelingking. Batu itu pun menindih Si Kelingking. Melihat hal itu, sang Ayah segera turun dari gunung dan menghampiri Si Kelingking yang tertindih batu.

“Kelingking! Kelingking! Kelingking!” seru sang Ayah memanggil anaknya.

Beberapa kali ia memanggil anaknya, namun tidak mendapat jawaban. Ia yakin bahwa Si Kelingking telah mati. Dengan perasaan gembira, ia pun segera kembali ke rumah dan menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Namun, sang Istri tidak langsung percaya dengan cerita itu.

“Apakah Abang yakin jika anak itu benar-benar sudah mati?” tanya sang Istri dengan perasaan ragu-ragu.
“Iya, Dik! Abang berhasil menindihnya dengan batu besar,” jawab sang Suami.

“Ya, syukurlah kalau begitu. Hidup kita akan benar-benar jadi tenang kembali,” kata sang Istri dengan perasaan lega.

Namun, ketika menjelang sore, tanpa mereka duga sebelumnya, tiba-tiba terdengar lagi suara dari luar rumah.

“Ayah...! Ayah...! Diletakkan di mana batu ini?” tanya suara itu.
“Letakkan di situ!” jawab Ayah Si Kelingking tanpa sadar.
Suami-istri itu tersentak kaget saat keluar dari rumah. Mereka melihat Si Kelingking sedang meletakkan sebuah batu besar. Setelah itu, seperti biasanya, Si Kelingking langsung masuk ke rumah untuk mencari makanan, karena kelaparan.

Akhirnya, kedua orang suami-istri itu merasa kasihan kepada anak mereka, Si Kelingking. Mereka pun menyadari bahwa walau bagaimana pun Si Kelingking lahir karena permintaan mereka sendiri. Sejak saat itu, mereka tidak pernah lagi berniat untuk membunuhnya. Mereka telah menerima kembali Si Kelingking sebagai anggota keluarga. Sementara Si Kelingking yang memiliki kekuatan lebih dari orang-orang biasa semakin rajin membantu ayahnya bekerja. Bahkan, semua pekerjaan yang berat-berat dia yang melakukannya, sehingga pekerjaan ayahnya menjadi lebih ringan dan kebutuhan hidup mereka dapat terpenuhi.

Cerita tentang Telu Pak dari Lampung

 Lampung adalah sebuah provinsi paling selatan di Pulau Sumatera, Indonesia. Di sebelah utara berbatasan dengan Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Provinsi Lampung dengan ibukota Bandar Lampung, yang merupakan gabungan dari kota kembar Tanjungkarang dan Telukbetung memiliki wilayah yang relatif luas, dan menyimpan potensi kelautan. Pelabuhan utamanya bernama Pelabuhan Panjang dan Pelabuhan Bakauheni serta pelabuhan nelayan seperti Pasar Ikan (Telukbetung), Tarahan, dan Kalianda di Teluk Lampung.

Telu Pak adalah panggilan kepada seorang laki-laki bernama si Buyung. Ia adalah anak orang kaya yang pemalas dan boros. Sejak kecil hingga memiliki istri, si Buyung tidak mau bekerja dan suka berfoya-foya. Akibatnya, ia dan istrinya pun jatuh miskin. Karena itulah, sang istri menyuruhnya untuk berguru kepada orang pandai. Setelah berguru, ia pun mengganti namanya menjadi Telu Pak. Mengapa si Buyung mengganti namanya menjadi Telu Pak? Lalu, berhasilkah ia menjadi orang kaya lagi? Simak kisahnya dalam cerita Kisah Telu Pak berikut ini!

Dahulu, di daerah Lampung, ada seorang anak laki-laki yang masih berumur belasan tahun. Anak itu bernama si Buyung. Ia adalah anak orang terkaya di kampungnya. Ia pun amat dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Apapun kemauannya selalu dituruti. Semua kebutuhannya selalu tercukupi. Hal itulah yang membuat si Buyung menjadi anak pemalas. 

Sepuluh tahun kemudian, si Buyung pun tumbuh menjadi dewasa dan menikah dengan seorang wanita cantik. Tak berapa lama setelah menikah, kedua orang tuanya meninggal dunia. Sebagai anak tunggal, ia pun mewarisi seluruh harta kekayaan kedua orang tuanya. Namun sayang, ia tidak pandai menjaga harta warisan tersebut. Hidupnya hanya diisi dengan berfoya-foya. Lama-kelamaan hartanya pun habis digunakan untuk bersenang-senang. Meskipun ia menyesal, si Buyung tetap saja tidak mau bekerja karena tabiatnya yang pemalas.

Suatu hari, tampak si Buyung sedang duduk termenung seorang diri. Istrinya pun datang menghampirinya.
“Sudahlah, Abang tidak perlu putus asa seperti itu,” ujar sang istri, “Sebaiknya Abang pergi merantau dan berguru kepada orang-orang pandai. Siapa tahu mereka dapat membantu kita bisa keluar dari penderitaan ini.”

Mendengar nasehat istrinya, pikiran si Buyung terbuka. Apa yang dikatakan istrinya itu memang benar.
“Kamu benar, istriku. Kita harus bangkit dari penderitaan ini,” kata si Buyung, “Abang akan pergi merantau.” 

Keesokan harinya, si Buyung akhirnya pergi merantau dan berguru kepada seorang guru. Di hadapan gurunya, ia pun menyampaikan masalah yang sedang dihadapinya.
“Tuan, Guru. Ajarilah aku cara mengatasi masalah ini,” pintanya.

“Angon sukhhok bidi cutiku. Artinya, kalau mengerjakan sesuatu yang baik, meskipun hati enggan, kamu harus memaksakan diri melakukannya,” petuah sang guru, “Pelajaran ini harus kamu terapkan selama tiga bulan dan niscaya hidupmu akan berubah.”

Mendengar nasehat itu, si Buyung pun kembali ke kampungnya dan mengamalkan ajaran itu. Namun, setelah tiga bulan kemudian, hidupnya tetap saja tidak berubah. Ia merasa kecewa atas nasehat gurunya itu. Namun, sang istri terus memberinya dorongan agar terus berguru.

“Jangan putus asa, Bang. Abang harus berguru lagi,” ujar istrinya.

Si Buyung pun menuruti nasehat istrinya. Ia kemudian berguru kepada guru yang lain. Pada gurunya itu, ia mengaku bahwa bahwa dirinya pernah mendapat pelajaran dari gurunya yang pertama.
“Saya sudah pernah berguru, tapi belum mendapatkan hasil,” ungkapnya.

“Baiklah, kalau begitu. Saya akan memberi pelajaran yang lain,” kata guru keduanya itu, “Angon tilansu sepak cutik. Artinya, jangan terlalu berangan-angan pada sesuatu yang tidak masuk akal.”
Guru kedua itu juga menyuruhnya untuk mengamalkan pelajaran itu selama tiga bulan. Namun, hidup si Buyung tetap saja tidak berubah. Sang istri pun tak henti-hentinya memberikan semangat kepadanya.
“Jangan putus asa, Bang. Carilah guru lagi ke negeri lain,” kata istrinya.

Si Buyung pun kembali berguru kepada guru yang ketiga. Oleh gurunya itu, ia dianjurkan untuk tidak menuruti perkataan perempuan.

“Cawani babai mak dapok titukhutkan, bila ditukhut kon cadang pendirianmu. Artinya, perkataan perempuan sebaiknya jangan dituruti, bila semua dituruti akan rusak pendirianmu,” titah gurunya yang ketiga.
“Baik, Tuan Guru,” jawab si Buyung seraya perpamitan kembali ke kampungnya.

Setelah tiga bulan lamanya mengamalkan ajaran itu, si Buyung tidak mendapatkan apa-apa. Hidupnya masih saja miskin. Dengan semangat ini berubah, ia pun mencari berguru yang keempat. Oleh guru yang keempatnya itu, ia diajarkan agar jangan pernah menolak untuk menolong orang lain setiap ada orang yang meminta pertolongan.

“Kiwat kilu tulung tengah bingi semawas mak dapok ditulak. Artinya, jika ada orang yang meminta pertolongan pada tengah malam atau dini hari sekalipun, jangan ditolak,” kata sang guru, “Jika kamu mengamalkan ajaran ini dengan sungguh-sungguh, niscaya hidupmu akan bahagia. Tapi ingat, setelah berguru kepadaku, kuharap kamu tidak berguru lagi kepada orang lain. ”
“Baik, Tuan Guru,” jawab si Buyung seraya berpamitan.

Setiba di kampung halamannya, si Buyung pun menyadari bahwa dirinya memang tidak perlu lagi berguru. Ia yakin bahwa dengan mengamalkan ajaran tersebut, hidupnya akan berubah. Sejak itulah, ia mengganti namanya menjadi Telu Pak (telu: tiga, pak: empat), yang berarti orang yang sudah berguru sebanyak empat kali.

Suatu malam yang larut, saat Telu Pak sedang khusyuk berdoa, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Mendengar suara ketukan itu, Telu Pak segera membuka pintu rumahnya. Alangkah terkejutnya ia setelah melihat dua orang pegawai istana datang membawa sesosok mayat.
“Ada apa ini?” tanya Telu Pak.

“Maaf, Tuan. Kami menemukan mayat ini tergeletak di ujung kampung. Tolong, kuburkan mayat ini,” kata salah seorang pegawai itu, “Kami harus segera kembali ke istana karena ada urusan penting.”
Pekerjaan itu tidaklah mudah bagi Telu Pak. Di samping suasana sangat gelap, ia pun harus menguburkan mayat itu seorang diri. Namun karena teringat pada pesan gurunya, ia segera mengambil cangkul. Ketika ia menggali kubur, cangkulnya mengenai sebuah batu. Di luar dugaannya, tiba-tiba batu itu memancarkan sinar. Dengan bantuan sinar itu, ia pun dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.

Setelah itu, Telu Pak membawa pulang batu bersinar itu lalu disimpannya di bawah jendelanya. Batu itu terus memancarkan sinar sehingga mengundang perhatian dua orang tetangganya yang lewat di depan rumahnya.
“Hai, lihat!” seru salah seorang dari mereka, “Bukankah itu batu intan?”

“Iya, kamu benar. Batu intan pasti sangat mahal harganya,” kata seorang yang lainnya.
Kedua orang tersebut berniat ingin mengambil batu itu. Namun, ternyata istri Telu Pak kebetulan terbangun mendengar percakapan mereka. Ia pun segera mengambil batu intan dan membawanya masuk ke dalam rumah. Kedua orang itu pun pergi dengan perasaan kecewa.

Keesokan harinya, istri Telu Pak bertanya kepada suaminya mengenai batu intan itu.
“Dari mana Abang mendapatkan batu itu?” tanyanya.

Telu Pak pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya semalam. Namun, ia sama sekali tidak tahu jika batu itu adalah batu intan.

“Ketahuilah, Bang! Batu yang Abang temukan semalam itu adalah batu intan. Harganya mahal sekali,” ungkap istrinya.

Betapa terkejutnya Telu Pak mendengar pernyataan istrinya. Karena penasaran, ia pun segera memecah batu intan dan pecahannya mereka tunjukkan kepada seorang saudagar perhiasan. Ternyata benar, saudagar itu membenarkan bahwa itu adalah batu intan. Saudagar itu bahkan mau menukarkan tokonya dengan batu intan itu. Kedua belah pihak akhirnya bersepakat meminta saksi dari pihak kerajaan. Namun, rupanya Raja tertarik pada batu intan itu. Ia pun berniat untuk berbuat curang kepada Telu Pak.

“Hai, Telu Pak. Aku juga mempunyai batu intan kecil. Sementara batu intan milikmu itu adalah induknya,” ungkap sang Raja, “Kupikir induk intan itu sedang mencari anaknya.”

Telu Pak tidak percaya pada pernyataan Raja. Ia tahu bahwa sang Raja menginginkan batu intan miliknya. Ia pun membuat sebuah kesepakatan dengan raja itu.

“Baiklah, Baginda. Mari tunjukkan intan kita masing-masing. Jika intan milik hamba bergerak mendekati intan milik Baginda, maka ambillah intan hamba,” tantang Telu Pak, “Tapi, jika intan milik Baginda tidak bergerak, maka Baginda harus menandatangani kesepekatan hamba dengan saudagar itu.”
“Baik, Telu Pak. Aku terima tantanganmu,” kata sang Raja.

Telu Pak pun meletakkan intan miliknya di tanah, sedangkan sang Raja menaruh intannya di telapak tangannya.  Ternyata, tak satu pun dari kedua intan tersebut yang bergerak. Dengan demikian, sang Raja kalah dan terpaksa menandantangani kesepekatan antara Telu Pak dan saudagar perhiasan itu.

Teluk Pak dan istrinya kemudian pindah ke toko itu. Dengan modal batu intan yang dimiliki,  mereka akhirnya menjadi saudagar perhiasan yang kaya dan dermawan. Karena kedermawanannya, ia amat dihormati dan dicintai oleh masyarakat. Setelah sang Raja wafat, Telu Pak diangkat menjadi raja. Ia memerintah dengan arif dan bijaksana. Rakyatnya pun senantiasa hidup rukun, damai, dan sejahtera.

Legenda Si Bugu yang pandir cerita dari Lampung

Lampung adalah sebuah provinsi paling selatan di Pulau Sumatera, Indonesia. Di sebelah utara berbatasan dengan Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Provinsi Lampung dengan ibukota Bandar Lampung, yang merupakan gabungan dari kota kembar Tanjungkarang dan Telukbetung memiliki wilayah yang relatif luas, dan menyimpan potensi kelautan. Pelabuhan utamanya bernama Pelabuhan Panjang dan Pelabuhan Bakauheni serta pelabuhan nelayan seperti Pasar Ikan (Telukbetung), Tarahan, dan Kalianda di Teluk Lampung. - berikut adalah cerita tentang sibugu yang pandir :

Si Bugu adalah seorang pemuda pandir yang tinggal di sebuah kampung di daerah Lampung. Ia disebut pandir karena daya berpikirnya yang sangat lemah. Meskipun demikian, si Bugu pada akhirnya mampu menjadi raja dan memiliki seorang permaisuri yang cantik jelita. Bagaimana pemuda pandir itu bisa menjadi raja? Ikuti kisahnya dalam cerita Si Bugu yang Pandir berikut ini!

Dahulu, di suatu kampung di Lampung, ada seorang pemuda pandir bernama si Bugu. Ia tinggal bersama ibunya sebuah gubuk yang terletak di pinggir hutan. Sehari-hari ia membantu ibunya bercocok tanam di ladang peninggalan ayahnya. Hasilnya pun cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Suatu hari, si Bugu bersama ibunya sedang duduk di depan gubuk. Sang Ibu sedang menambal pakaian si Bugu yang sudah bolong. Sementara si Bugu yang pandir itu sedang asyik menggores-gores tanah dengan sebatang ranting kayu kering. Saat si Bugu sedang asyik, tiba-tiba ibunya berkata kepadanya.

“Bugu, anakku. Bukankah kamu sudah dewasa? Alangkah baiknya jika kamu mencari seorang gadis untuk kamu jadikan istri!” ujar ibu Bugu.

Tanpa berkata-kata, Bugu langsung menuruti nasehat ibunya. Namun, setiap gadis yang ia temui, tidak seorang pun yang bersedia menikah dengannya. Dengan perasaan kecewa, ia pulang ke rumah untuk mengadukan nasibnya kepada sang Ibu.

“Ibu, aku sudah berusaha, tapi semua gadis yang kutemui menolak,” keluh si Bugu.
“Jangan putus asa, anakku,” ujar sang Ibu, “Teruslah mencoba, siapa tahu ada yang mau menerimamu. Besok, jika kamu menemukan seorang gadis dan ia hanya diam, itu tandanya setuju.”
“Baik, Bu,” jawab si Bugu.

“Hari sudah sore, Nak. Sebaiknya, kamu mandi dan istirahat dulu. Besok kamu bisa mencoba lagi,” ujar ibunya.

Bugu pun menuruti nasehat ibunya. Keesokan harinya, pemuda pandir itu kembali melanjutkan pencarian jodohnya. Ketika ia menyusuri sebuah jalan yang sepi, tiba-tiba ia melihat seorang gadis sedang tergeletak di pinggir jalan. Ia pun langsung menanyai gadis itu, namun tidak menjawab.

“Gadis ini hanya diam saja. Berarti dia pasti mau menjadi istriku,” gumam si Bugu dengan perasaan senang.
Dikiranya gadis itu sedang tidur untuk melepas, padahal ia sudah meninggal dunia karena terjatuh. Tanpa berpikir panjang, si Bugu pun mengangkat gadis itu pulang ke rumahnya. Betapa senangnya hati ibunya ketika ia sampai di rumah.

“Bu, Anakku. Ternyata kamu berhasil juga menemukan jodohmu,” ujar ibunya tanpa memperhatikan keadaan gadis itu.

Sementara itu, si Bugu langsung membawa gadis itu ke dalam kamarnya. Ketika hari sudah sore, sang Ibu ingin menemui gadis itu. Namun, ia mengurungkan niatnya karena mengira gadis itu sedang beristirahat. Ia tidak ingin mengganggunya. Hingga tengah malam, ibu Bugu terus menunggu gadis itu keluar dari dalam kamar.

“Kenapa gadis itu mengurung diri terus di dalam kamar?” gumam ibu Bugu.
Rupanya, ibu Bugu sudah kuat menahan rasa kantuk hingga ia pun terlelap. Saat terbangun pada pagi harinya, tiba-tiba ia mencium bau busuk yang amat menyengat dari dalam kamar. Oleh karena penasaran, janda itu pun memberanikan diri masuk ke dalam kamar. Betapa terkejutnya ia saat melihat tubuh gadis itu terbujur kaku dan berbau busuk.

“Buguuu… Buguuu… ternyata gadis yang kamu bawa itu sudah meninggal,” gumam ibu Bugu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Perempuan tua itu pun segera menemui anaknya.

“Bugu, rupanya kamu membawa mayat ke rumah ini. Gadis itu berbau busuk. Itu artinya ia sudah sudah meninggal dunia,” ungkap ibu Bugu.

“Oh, begitu,” jawab Bugu dengan lugunya.

Akhirnya, Bugu dan ibunya segera mengubur mayat gadis itu. Begitu usai mengubur gadis itu, tiba-tiba ibunya kentut.

“Aduh, Ibu bau sekali. Rupanya Ibu sudah mati juga,” kata Bugu.
Pemuda pandir itu langsung mengangkat ibunya untuk dikubur. Ibunya pun meronta-ronta lalu pergi meninggalkan Bugu. Tak berapa lama kemudian, kini giliran Bugu yang kentut.

“Hmm… aku bau sekali. Berarti aku juga sudah mati,” gumam Bugu, “Tapi, siapa yang akan menguburku?”
Bingung karena tidak orang yang menguburnya, Bugu kemudian terjun ke sungai dan terus menyelam. Namun karena tidak tahan di dalam air, ia pun segera mengapung. Saat itu, ia melihat seorang pria yang sudah dikenalnya. Namun, pria yang bernama Bakhetih itu rupanya seorang pencuri. Saat itu Bakhetih sedang berdiri di bawah pohon mangga di tepi sungai. Bugu lalu menghampirinya.
“Hai, Bakhetih. Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya Bugu.
“Aku sedang menunggu mangga jatuh, Bugu,” jawab Bakhetih.

Akhirnya, Bakhetih pun mengajak Bugu ikut bersamanya pergi mencuri. Mula-mula Bugu diajak mencuri ayam karena ia amat menyukai hati ayam. Namun, Bugu menolak.
“Aku ingin hati yang lebih besar,” kata Bugu.

“Baiklah, kalau begitu. Sebaiknya kita mencuri kerbau saja,” ujar Bakheti.
Malam harinya, kedua orang itu mendatangi rumah seorang warga untuk mencuri kerbau. Namun, ketika hendak mengeluarkan kerbau itu dari kandangnya, tiba-tiba Bugu batuk-batuk sehingga kehadiran mereka ketahuan oleh si pemilik kerbau. Rencana mereka pun gagal.

Malam berikutnya, Bakhetih menyuruh si Bugu seorang diri untuk mencuri uang di istana raja. Sebelum ia pergi, Bakheti berpesan kepadanya.

“Bugu, ketahuilah bahwa ciri-ciri uang itu adalah berat, licin jika dipegang, dan berbunyi jika dipukul!” ujar Bakhetih.

“Baik, Bakheti,” jawab si Bugu.
Setelah itu, berangkatlah si Bugu ke istana raja. Sesampai di sana, ia pun berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar tempat penyimpanan uang raja melalui loteng. Karena suasana gelap, Bugu pun meraba dan merasakan ada benda menonjol dan licin.
“Benda ini pasti uang,” pikirnya.

Untuk menyakinkan dirinya bahwa benda itu adalah benar-benar uang, si Bugu memukul-mukul benda itu.
“Ting…. Ting… Ting…!!!” demikian suara uang logam itu.

Karena suaranya nyaring sekali, penjaga kamar yang sedang terlelap pun terbangun. Tak ayal, aksi Bugu pun ketahuan dan akhirnya ditangkap. Ia kemudian dilaporkan kepada sang Raja.
“Cepat masukkan ke dalam pencuri itu!” titah sang Raja.

Malam itu juga, si Bugu dimasukkan ke penjara. Pada esok harinya, raja memerintahkan kepada pengawalnya untuk memberi hukuman mati kepada si Bugu.

“Bawa pemuda itu ke hutan dan bakarlah dia!” titah sang Raja.
Bugu pun dibawa ke hutan oleh beberapa pengawal istana. Setiba di hutan, Bugu diikat di sebatang pohon. Sementara para pengawal pergi mencari kayu bakar. Selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang pedagang lewat dan bertanya kepada Bugu.
“Hai, kenapa kamu diikat seperti itu?” tanya pedagang itu.

“Saya sedang berobat, Tuan. Pinggang saya sekali karena terlalu sering berdagang,” jawab Bugu.
Rupanya, pedagang itu terpengaruh oleh ucapan si Bugu. Ia pun ingin berobat seperti halnya si Bugu.
“Kalau begitu, bolehkah saya ikut berobat? Pinggang saya sakit sekali,” pinta pedagang itu.
“Tentu, Tuan,” jawab si Bugu, “Tapi, lepaskan dulu tali ini!”

Akhirnya, pedagang itu melepaskan tali ikatan Bugu. Setelah itu, ia diikat di batang pohon itu menggantikan si Bugu. Sementara itu, si Bugu segera meninggalkan tempat itu.

Selang beberapa saat kemudian, para pengawal telah kembali. Tanpa memperhatikan tawanannya, mereka langsung menimbuni pedagang itu dengan kayu lalu membakarnya. Pedagang itu pun akhirnya tewas karena hangus terbakar.

Sementara itu, si Bugu kembali ke istana untuk membalas dendam kepada Raja. Alangkah terkejutnya sang Raja saat melihat si Bugu masih hidup.

“Hai, anak muda. Kenapa kamu masih hidup? Bukankah seharusnya kamu sudah mati terbakar?” tanya raja dengan heran.

“Benar, Baginda. Hamba memang sudah mati dibakar, tapi para bidadari mengangkat hamba ke kahyangan. Di sana hamba bertemu dengan kerabat Baginda. Mereka sangat rindu dan ingin bertemu dengan Baginda,” kata si Bugu, “Tapi, Baginda harus mati dulu dengan cara membakar diri.”
“Benarkah begitu, wahai anak muda?” tanya sang Raja seolah-olah tidak percaya.

“Benar, Baginda. Silakan saja jika Baginda Raja ingin ke kahyangan menemui mereka!” ujar si Bugu.
Sang Raja pun ingin sekali ke kahyangan untuk menemui kerabatnya. Ia lalu membakar diri hingga akhirnya tewas. Melihat peristiwa itu, permaisuri raja amat sedih. Si Bugu pun berusaha menenangkan hatinya.
“Sudahlah, Permaisuri! Restuilah kepergian Baginda, semoga hidupnya tenang di surga,” ujar si Bugu.
“Bagaimana dengan kerajaan ini?” tanya permaisuri bingung.

“Tenang, Permaisuri! Selama Baginda berada di surga, saya diminta menggantikannya sebagai raja dan engkau menjadi permaisuriku,” ujar si Bugu.

Sang Permaisuri pun tak kuasa menolak kenyataan itu. Maka, sejak itulah si Bugu menjadi raja dan kemudian mengangkat Bakhetih si pencuri menjadi pengantar surat istana.

Legenda Putri Pinang Gading cerita dari Belitung

Membalong yang dulu dikenal dengan Belantu adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung (Babel), Indonesia. Konon, di daerah ini pernah hidup sepasang suami-istri yang bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Pada suatu hari, sang suami baru selesai menangkap ikan di tepi laut. Namun, dalam perjalanan pulang ke rumahnya, ia menemukan sebatang bambu yang sangat aneh. Bambu itu dapat bergerak sendiri dan selalu menghalang-halangi jalannya. Bagaimana bambu itu dapat bergerak sendiri? Lalu, apa yang akan dilakukan Pak Inda terhadap bambu itu? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Putri Pinang Gading berikut ini.

Di sebuah Kubok[1] yang bernama Kelekak Nangak yang terdapat di Kecamatan Membalong, hiduplah sepasang suami-istri yang miskin dan tidak mempunyai anak. Sang Suami bernama Pak Inda, sedangkan sang Istri bernama Bu Tumina. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang beratap nangak[2] dan berlantai kayu gelegar berlapik tuntong.[3] Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka menanam padi di ladang dan menangkap ikan dengan cara memasang sero[4] di tepi laut. Ketika air surut, ikan-ikan akan terperangkap dalam sero itu.

Pada suatu hari, musim panen padi bertepatan dengan waktu air laut surut. Pak Inda betare (berpamitan) kepada istrinya untuk melihat sero yang dipasang di tepi laut.

“Dik! Hari ini Abang akan pergi memeriksa sero di tepi laut. Bagaimana kalau Adik sendiri saja yang berangkat ke ladang memanen padi?” tanya sang Suami.

“Baik, Bang! Kebetulan juga hari ini kita tidak mempunyai lauk untuk makan siang,” jawab sang Istri.
Dengan membawa ambong,[5] berangkatlah Pak Inda ke laut. Ketika akan mendekati seronya, tiba-tiba ia tersandung sepotong bambu. Ia pun mengambil bambu itu dan melemparkannya ke laut, agar hanyut terbawa oleh air laut yang sedang surut. Namun, ketika akan menangkap ikan di seronya, ia tersandung lagi dengan sepotong bambu.

“Kenapa banyak sekali bambu yang hanyut di tempat ini?” gumam Pak Inda sambil mengamati bambu itu.
“Aneh! Sepertinya bambu ini yang sudah aku lemparkan tadi,” gumam Pak Inda heran.

Oleh karena sudah tidak sabar ingin melihat seronya, Pak Inda segera membuang kembali bambu itu agak jauh ke tengah laut agar tidak menghalanginya lagi. Setelah itu, ia pun menangkap ikan di dalam seronya. Pak Inda sangat gembira, karena mendapatkan banyak ikan. Sebagian ikan tersebut ia masukkan ke dalam ambongnya, dan sebagian pula diikat dengan tali rotan, karena ambongnya tidak dapat menampung semua ikan tersebut. Setelah itu, ia pun bergegas pulang ke rumahnya.

Namun, pada saat akan meninggalkan pantai, tiba-tiba ia kembali tersandung pada sepotong bambu. Ia pun mengambil bambu itu lalu mengamatinya secara seksama.

“Wah, tidak salah lagi, ini bambu yang aku buang ke laut tadi. Tapi, kenapa bambu ini bisa sampai ke sini, padahal air laut sedang surut?” tanya Pak Inda dalam hati.

“Benar-benar aneh! Bambu ini dapat melawan arus air laut. Ini bukanlah bambu sembarangan,” tambahnya sambil mengamati bambu itu.

Setelah beberapa saat berpikir, Pak Inda mengambil bambu itu dan menggunakannya sebagai pemikul ikan. Sesampainya di rumah, Pak Inda menceritakan peristiwa yang dialami kepada istrinya. Oleh istrinya, bambu itu digunakan sebagai penindih jemuran padi agar tidak diterbangkan angin.

Pada suatu hari, saat sedang duduk bersantai di rumah, Pak Inda dan istrinya dikejutkan oleh suara letusan yang sangat keras. Keduanya pun segera menuju ke sumber suara letusan itu. Rupanya, sumber letusan itu berasal dari sepotong bambu yang digunakan oleh sang Istri menindih jemuran padi yang berada di depan rumah mereka. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat seorang bayi perempuan disertai dengan pancaran cahaya yang menyilaukan keluar dari bambu itu.

“Bang, lihat itu! Ada seorang bayi perempuan yang tergeletak di tanah,” seru sang Istri.
“Bayi itu menangis! Cepat tolong dia, Dik!” seru Pak Inda kepada istrinya.

Tanpa berpikir panjang, Bu Tumina segera mengambil dan memandikan bayi itu. Setelah bersih, ia menggendong bayi itu sambil bernyanyi:
Anakku sayang, anak kandungku.
Anak kandung sibiran tulang,
Obah jerih... pelerai demam.

Bu Tumina terus bernyanyi hingga si bayi tidak menangis lagi dan tertidur. Kedua suami-istri itu sangat senang, karena telah mendapatkan seorang anak yang sudah lama mereka dambakan. Mereka pun merawat dan membesarkan bayi itu dengan penuh kasih sayang seperti anak kandung mereka sendiri. Mereka memberinya nama Putri Pinang Gading.

Waktu berjalan begitu cepat, Putri Pinang Gading sudah berumur lima belas tahun  tahun. Setiap hari ia pergi berburu binatang di hutan yang ada di sekitar rumahnya. Banyak sudah binatang buruan yang pernah dipanahnya, karena memang sejak kecil ia sangat suka bermain panahan dan sering dilatih oleh ayahnya cara memanah yang baik. Semenjak kehadiran Putri Pinang Gading, rezeki Pak Inda selalu bertambah, sehingga kehidupan mereka pun semakin sejahtera.

Pada suatu hari, terdengar kabar bahwa di Kampung Kelekak Remban terjadi bencana yang ditimbulkan oleh serangan burung yang besar. Oleh masyarakat Kelekak Remban, burung itu disebut Burung Gerude yang tinggal di sebelah timur daerah Ranau. Burung Gerude itu sangat ganas dan buas. Ia mengobrak-abrik permukiman penduduk Kelekak Remban, dan bahkan telah menelan seorang warga. Seluruh penduduk Kelekak Remban jadi panik. Untuk berlindung dari serangan Burung Gerude, para warga membuat remban.[6] Tidak seorang pun warga yang berani keluar rumah.

Peristiwa yang mengerikan itu terdengar oleh Putri Pinang Gading yang kini sudah berusia 21 tahun. Ia bertekad hendak pergi ke Kampung Kelekak Remban untuk menolong warga yang sedang dilanda ketakutan.

“Ayah, Ibu! Izinkanlah Putri pergi untuk mengusir binatang buas itu!” pinta Putri Pinang Gading.
“Apakah kamu sanggup mengalahkan burung besar itu, Nak?” tanya Pak Inda khawatir terhadap putrinya.
“Ayah tidak perlu khawatir. Putri akan membinasakan burung itu dengan panahku yang beracun ini,” jawab Putri Pinang Gading dengan penuh keyakinan.

“Baiklah, kalau begitu! Tapi, kamu harus lebih berhati-hati, Nak! Kami takut kehilanganmu,” ujar Pak Inda.
“Benar, Nak! Kamu adalah putri kami satu-satunya,” sahut Bu Tumina.

“Baik, Ayah, Ibu! Putri akan jaga diri,” kata Putri Pinang Gading seraya berpamitan kepada ayah dan ibunya.

Setelah menyiapkan beberapa anak panah yang sudah dibubuhi racun, Putri Pinang Gading berangkat menuju Kampung Kelekak Remban. Sesampainya di sana, kampung itu tampak sepi. Semua warga sedang bersembunyi di dalam rumah mereka. Putri Pinang Gading juga tidak melihat Burung Gerude itu.
“Ke mana Burung Gerude itu? Aku sudah tidak sabar lagi ingin membinasakannya,” gumam Putri Pinang Gading yang sudah siap dengan anak panah di tangannya.

Baru saja selesai bergumam, tiba-tiba ia mendengar suara burung yang sangat keras. Suara itu tidak lain adalah suara Burung Gerude. Burung itu terbang ke sana ke mari di atas rumah-rumah penduduk sedang mencari mangsa. Sesekali ia mengobrak-abrik rumah penduduk. Namun, burung itu tidak menyadari jika Putri Pinang Gading sedang memperhatikan gelagaknya dari balik sebuah pohon besar.

Putri Pinang Gading yang sudah siap dengan anak panah di tangannya tinggal menunggu saat yang tepat untuk meluncurkan anak panahnya. Pada saat Burung Gerude itu lengah, dengan cepat ia melepaskan anak panahnya. Anak panah itu meluncur ke arah Burung Gerude itu dan tepat mengenai dadanya. Burung Gerude itu pun jatuh ke bumi dan tewas seketika.

Para warga yang menyaksikan peristiwa itu melalui cela-cela rumah, keluar dari rumah mereka dan segera mengerumuni Burung Gerude yang sudah mati itu. Mereka sangat kagum melihat keberanian Putri Pinang Gading. Akhirnya, kampung itu terbebas dari ancaman bahaya serangan Burung Gerude. Untuk merayakan keberhasilan itu, para warga mengadakan pesta besar-besaran dengan mengundang Putri Pinang Gading.
Konon, tempat jatuhnya Burung Geruda itu berubah menjadi tujuh buah anak sungai. Sementera anak panah Putri Pinang Gading yang mengenai dada Burung Gerude itu tumbuh menjadi serumpun bambu. Suatu hari, ada seorang nelayan memotong bambu itu untuk dijadikan joran[7]pancing. Pada saat memotong sebatang pohon bambu itu, tiba-tiba tangan nelayan itu tersayat dan langsung meninggal karena bambu itu masih beracun. Oleh masyarakat setempat, bambu itu disebut dengan bulo berantu (bambu beracun). Kemudian kampung itu mereka beri nama Belantu, dari kata buloantu. Namun, dalam perkembangannya, nama Belantu berubah menjadi Membalong yang kini menjadi nama kecamatan di Pulau Belitung.


- Copyright © Regina Theyser - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -