Legenda tentang "Gunung batu bangkai"

Peta Prov Kalsel
Loksado adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Indonesia. Di daerah ini terdapat sebuah gunung yang memiliki nama yang cukup unik, yaitu Gunung Batu Bangkai. Masyarakat setempat menamakannya demikian, karena di gunung tersebut ada sebuah batu yang mirip dengan bangkai manusia. Konon, kehadiran batu bangkai tersebut berasal dari sebuah cerita legenda yang sampai saat ini masih berkembang di kalangan masyarakat Banjar Hulu di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Cerita legenda ini mengisahkan tentang seorang anak laki-laki bernama Andung Kuswara yang durhaka kepada umanya. Karena kedurhakaannya, Tuhan menghukum si Andung menjadi batu.   

Konon pada zaman dahulu, di suatu tempat di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, hiduplah seorang janda tua bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Andung Kuswara. Ia seorang anak yang baik dan pintar mengobati orang sakit. Ilmu pengobatan yang ia miliki diperoleh dari abahnya yang sudah lama meninggal. Andung dan umanya hidup rukun dan saling menyayangi. Setiap hari mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Andung mencari kayu bakar atau bambu ke hutan untuk membuat lanting untuk dijual, sedangkan umanya mencari buah-buahan dan daun-daunan muda untuk sayur.

Suatu hari, Andung pergi ke hutan seorang diri. Karena keasyikan bekerja, tak terasa waktu telah beranjak senja, maka ia pun bergegas pulang. Di tengah perjalanan, ia mendengar jeritan seseorang meminta tolong. Andung segera berlari menuju arah suara itu. Ternyata, didapatinya seorang kakek yang kakinya terjepit pohon. Andung segera menolong dan mengobati lukanya. “Terima kasih banyak, anakku!” kata orang tua itu. Dia kemudian mengambil sesuatu dari lehernya. “Hanya benda ini yang dapat kai berikan sebagai tanda terima kasih. Mudah-mudahan kalung ini membawa keberun­tungan bagimu,” ucap kakek itu seraya mengulurkan sebuah kalung kepada Andung. Setelah mengobati kakek itu, Andung bergegas pulang ke rumahnya.

Sesampai di rumah, Andung menceritakan kejadian tadi kepada umanya. Usai bercerita, Andung menyerahkan kalung pemberian kakek itu sambil berkata, “Uma, tolong simpan kalung ini baik-baik”. Umanya menerima dan memerhatikan benda itu dengan saksama. “Sepertinya ini bukan kalung sembarangan, Nak. Lihatlah, sungguh indah!” kata Uma Andung dengan takjub. Setelah itu, Uma Andung menyimpan kalung tersebut di bawah tempat tidurnya.

Kehidupan terus berjalan. Pada suatu hari, Andung terlihat termenung seorang diri. “Ya Tuhan, apakah kehidupanku akan seperti ini selamanya? Aku ingin hari depanku lebih baik daripada hari ini. Tapi…bagaimana caranya?” kata Andung dalam hati. Sejenak ia berpikir mencari jalan keluar. Tiba-tiba, terlintas dalam pikiran Andung untuk pergi merantau. “Hmm…lebih baik aku merantau saja. Dengan begitu aku dapat mengamalkan ilmu pengobatan yang telah aku peroleh dari abah dulu. Siapa tahu dengan merantau akan mengubah hidupku,” gumam Andung dengan semangat. Namun, apa yang ada dalam pikirannya tidak langsung ia utarakan kepada umanya. Rasa ragu masih menyelimuti hati dan pikirannya. Jika ia pergi merantau, tinggallah umanya sendiri. Tetapi, jika ia hanya mencari kayu bakar dan bambu setiap hari, lalu kapan kehidupannya bisa berubah. Pikiran-pikiran itulah yang ada dalam benaknya.

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Andung benar-benar sudah tidak tahan lagi hidup miskin. Keraguannya untuk meninggalkan umanya pun lenyap. Dorongan hati Andung untuk merantau sudah tak terbendung lagi. Suatu hari, ia pun mengutarakan maksud hatinya kepada umanya. “Uma, Andung ingin mengubah nasib kita. Andung memutuskan untuk merantau ke negeri seberang. Oleh karena itu, Andung mohon izin dan doa restu, Uma,” kata Andung dengan hati-hati memohon pengertian umanya. “Anakku, sebenarnya Uma sudah bersyukur dengan keadaan kita saat ini. Tetapi, jika keinginan hatimu sudah tak terbendung lagi, dengan berat hati Uma akan melepas kepergianmu,” sahut Uma Andung memberikan izin.

Setelah mendapat restu dari umanya, Andung segera berkemas dengan bekal seadanya. Andung membawa masing-masing sehelai kain, baju dan celana. Memang hanya itu yang ia miliki. Ketika Andung hendak meninggalkan gubuk reotnya, Uma berpesan kepadanya. “Andung ..., ingatlah Uma! Ingat kampung halaman dan tanah leluhur kita. Jangan pernah melupakan Tuhan Yang Mahakuasa. Walau berat, Uma tak bisa melarangmu pergi. Jika takdir menghendaki, kita tentu akan berkumpul kembali,” kata sang Uma dengan sedihnya.

Mendengar nasihat umanya, Andung tak kuasa menahan air matanya. “Andung, bawalah kalungmu ini. Siapa tahu kelak kamu memerlukannya,” ujar Uma Andung melanjutkan. Setelah menerima kalung itu, Andung kemudian berpamitan kepada umanya. Andung mencium tangan umanya, lalu umanya membalasnya dengan pelukan erat. Sesaat, suasana haru pun meliputi hati keduanya. Ketika Uma memeluk Andung, beberapa tetes air mata menyucur dari kelopak matanya, jatuh di atas pundak Andung. “Maafkan Andung, Uma! Andung berjanji akan segera kembali jika sudah berhasil,” kata Andung memberi harapan kepada umanya. “Iya Nak. Cepatlah kembali kalau sudah berhasil! Hanya kamulah satu-satunya milik Uma di dunia ini,” jawab Uma penuh harapan. Beberapa saat kemudian, Uma berucap kepada Andung. “Segeralah berangkat Andung, agar kamu tak kemalaman di tengah hutan.”

Andung mencium tangan umanya untuk terakhir kalinya, lalu pamit. Andung berangkat diiringi lambaian tangan Uma yang sangat dikasihinya. “Selamat jalan, anakku. Jangan lupa cepat kembali,” teriak Uma dengan suara serak. “Tentu, Uma!” sahut Andung sambil berjalan menoleh ke arah umanya. “Jaga diri baik-baik, Uma! Selamat tinggal! Uma baru beranjak dari tempatnya setelah Andung yang sangat disayanginya hilang di balik pepohonan hutan. Sejak itu, tinggallah Uma Andung sendirian di tengah hutan belantara.

Berbulan-bulan sudah Andung meninggalkan umanya. Andung terus berjalan. Banyak kampung dan negeri telah dilewati. Berbagai pengalaman didapat. Ia juga telah mengobati setiap orang yang memerlukan bantuannya.

Suatu siang yang terik, tibalah Andung di Kerajaan Basiang yang tampak sunyi. Saat menyusuri jalan desa, Andung bertemu dengan seorang petani yang kulitnya penuh dengan koreng dan bisul. Andung kemudian mengobati petani itu. Dari orang tersebut Andung mengetahui jika Negeri Basiang sedang tertimpa malapetaka berupa wabah penyakit kulit. Karena berhutang budi kepada Andung, orang itu mengajak Andung tinggal di rumahnya. Setiap hari, penduduk yang terjangkit penyakit berdatangan ke rumah orang tua itu untuk berobat kepada Andung. Seluruh penduduk yang telah diobati oleh Andung sembuh dari penyakitnya. Berita perihal kepandaian Andung dalam mengobati pun menyebar ke seluruh negeri.

Suatu hari, berita kepandaian Andung mengobati penyakit tersebut akhirnya sampai ke telinga Raja Basiang. Sang Raja pun mengutus hulubalang menjemput Andung untuk mengobati putrinya. Beberapa lama kemudian, hulubalang tersebut sudah kembali ke istana bersama Andung. Andung yang miskin dan kampungan itu sangat takjub melihat keindahan bangunan istana. Ia berjalan sambil mengamati setiap sudut istana yang dihiasi ratna mutu manikan. Tak disadari, ternyata sang Raja sudah ada di hadapannya. Andung pun segera memberi salam dan hormat kepadanya. “Salam sejahtera, Tuanku,” sapa Andung kepada Baginda.

Sang Raja menyambut Andung dengan penuh harapan. Dia kemudian menyampaikan maksudnya kepada Andung. “Hai anak muda! Ketahuilah, putriku sudah dua minggu tergolek tak berdaya. Semua tabib di negeri ini sudah saya kerahkan untuk mengobatinya, namun tak seorang pun yang mampu menyembuhkannya. Apakah kamu bersedia menyembuhkan putriku?” tanya sang Raja. “Hamba hanya seorang pengembara miskin. Pengetahuan obat-obatan yang hamba miliki pun sedikit. Jika nantinya hamba gagal menyembuhkan Tuan Putri, hamba mohon ampun Paduka,” kata Andung merendah.

Andung pun dipersilakan masuk ke kamar Putri. Putri tergolek kaku di atas pembaringannya. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya tertutup rapat. Walupun pucat pasi,  wajah sang Putri tetap memancarkan sinar kecantikannya. “Aduhai, cantik sangat sang Putri,” ucap Andung menaruh hati kepada sang Putri. Sesaat kemudian, Andung pun mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membangunkan sang Putri. Namun, sang Putri tetap tak bergerak. Andung mulai panik. Tiba-tiba, hati Andung tergerak untuk mengambil kalung pemberian kakek yang ditolongnya dulu. Andung meminta kepada pegawai istana agar disiapkan air dalam mangkuk. Setelah air tersedia, lalu Andung segera merendam kalungnya beberapa saat. Kemudian air rendaman diambil dan dibacakan doa, lalu ia percikkan beberapa kali ke mulut sang Putri. Tak berapa kemudian, sang Putri pun terbangun. Matanya yang kuyu perlahan-lahan terbuka. Wajahnya segar kembali. Akhirnya, Putri dapat bangkit dan duduk di pembaringan.

Semua penghuni istana turut bergembira dan merayakan kesembuhan sang Putri. Paduka Raja sangat berterima kasih atas kesembuhan putri satu-satunya yang sangat ia cintai Atas jasanya tersebut, Andung kemudian dinikahkan dengan sang Putri. Pesta perkawinan dilaksanakan tujuh hari tujuh malam. Semua rakyat bersuka ria merayakannya. Putri tampak berbahagia menerima Andung sebagai suaminya. Demikian pula Andung yang sejak pandangan pertama sudah jatuh cinta pada sang Putri. Mereka berdua melalui hari-hari dengan hidup bahagia. 

Minggu dan bulan terus berganti. Istri Andung pun hamil. Dalam kondisi hamil muda sang Putri mengidam buah kasturi yang hanya tumbuh di Pulau Kalimantan. Karena cintanya kepada sang Putri begitu besar, Andung pun mengajak beberapa hulubalang dan prajurit untuk ikut bersamanya mencari buah kasturi ke Pulau Kalimantan.

Setibanya di Pulau Kalimantan, Andung berangkat ke daerah Loksado untuk mencari sebatang pohon kasturi yang dikabarkan sedang berbuah di sana. Alangkah terkejutnya Andung, karena pohon kasturi itu berada tepat di depan rumahnya dulu.  Andung segera mengajak hulubalang dan para prajuritnya kembali. Rupanya ia tidak mau bertemu dengan umanya.

Mendengar keributan di luar rumahnya, seorang nenek tua renta berjalan terseok-seok menuju ke arah rombongan tersebut. “Andung..., Andung Anakku...!” suara nenek tua yang serak memanggil Andung. Dengan terbungkuk-bungkuk nenek itu mengejar rombongan Andung.

Andung menoleh. Ia tersentak kaget melihat sang Uma yang dulu ditinggalkannya sudah tua renta. Karena malu mengakui sebagai umanya, Andung membentak, “Hai nenek tua! Aku adalah raja keturunan bangsawan. Aku tidak kenal dengan nenek renta dan dekil sepertimu! ujar Andung kemudian memalingkan muka dan pergi.

Hancur luluh hati sang Uma dibentak dan dicaci maki oleh putra kandungnya sendiri. Nenek tua yang malang itu pun berdoa, “Ya, Tuhan Yang Mahakuasa, tunjukkanlah kekuasaan dan keadilan-Mu,” tua renta itu berucap pelan dengan bibir bergetar. Belum kering air liur tua renta itu berdoa, halilintar sambar-menyambar membelah bumi. Kilat sambung-menyambung. Langit mendadak gelap gulita. Badai bertiup menghempas keras. Tak lama kemudian, hujan lebat tumpah dari langit. Andung berteriak dengan keras, “Maafkan aku, Uma...!” Tapi siksa Tuhan tak dapat dicabut lagi. Tiba-tiba Andung berubah menjadi batu berbentuk bangkai manusia.

Sejak itu, penduduk di sekitarnnya menamai gunung tempat peristiwa itu terjadi dengan sebutan Gunung Batu Bangkai, karena batu yang mirip bangkai manusia itu berada di atas gunung. Gunung Batu Bangkai ini dapat dijumpai di Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Lanting : rakit kecil.                             
Uma : ibu                                        
Kai : kakek
Abah : ayah


Cerita "Dewi Luing Indung Bunga"

Yang diarsir warna Hijau adalah Prov Kalsel
Kalimantan merupakan pulau terbesar di Indonesia, yang terdiri dari hamparan hutan belantara. Hamparan hutan tersebut mengandung berbagai macam kekayaan alam, baik flora maupun fauna. Di sana, hidup berbagai jenis hewan dan tumbuhan secara bebas. Hamparan hutan tersebut merupakan bagian penting bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya, karena mereka sangat tergantung pada hutan tersebut. Oleh karena itu, mereka harus menjaga dan memeliharanya dengan baik agar ketergantungan terhadap hutan tersebut tetap terus berlangsung. Caranya adalah dengan tidak menebang hutan secara semena-mena. Setelah penebangan hutan dilakukan, hendaknya hutan tersebut segera ditanami kembali, agar bekas penebangan itu tidak menyisakan lahan kering yang akan mengakibatkan terjadinya bencana.

Konon, di daerah sekitar Hulu Sungai Selatan (sekarang menjadi nama kabupaten), tepatnya di Kampung Datar, Kecamatan Telaga Langsat, Kalimantan Selatan (Kalsel), pernah berdiri beberapa perkampungan. Penduduk kampung tersebut suka bertindak semena-mena. Mereka sering menebang hutan yang ada di sekitarnya tanpa menanaminya kembali. Akibatnya, beberapa tahun kemudian alam di sekitarnya menjadi rusak dan akhirnya mereka ditimpa bencana kekeringan. Hutan yang awalnya terhampar subur di sepanjang tepi sungai, berubah menjadi meranggas. Hewan-hewan penghuni hutan itu mati kehausan. Di mana-mana terjadi kelaparan, karena pertanian mereka gagal panen. Penyakit pun semakin merajalela. Bahkan banyak penduduk yang meninggal. Kehidupan di negeri di tepian Hulu Sungai Selatan itu sangat memilukan. Dapatkah bencana tersebut berakhir? Bagaimana cara mereka mengatasi bencana tersebut? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam Dewi Luing Indung Bunga berikut ini.   


Alkisah pada zaman dahulu di daerah Kalimantan Selatan pernah berdiri beberapa perkampungan yang saling berdekatan. Para penduduknya sering menebang hutan tanpa menanaminya kembali hingga alam menjadi rusak. Mereka juga sering bertengkar, saling menyakiti, suka merampas hak milik orang lain, dan gemar berfoya-foya.

Beberapa tahun kemudian daerah itu ditimpa bencana kekeringan. Sudah enam bulan hujan tidak turun. Di mana-mana debu beterbangan dan tanah mulai pecah-pecah. Hutan yang dulu subur menghijau, kini pepohonan berubah menjadi meranggas. Hewan penghuni hutan banyak yang mati kehausan. Demikian pula ternak penduduk. Mata air yang ada di kaki bukit mulai mengering dan hanya mengeluarkan tetesan air. Padahal mata air itu merupakan satu-satunya sumber air yang mengairi tanah pertanian mereka. Akibatnya, mereka gagal panen.

Penduduk yang tinggal di tepi sungai pun mulai gelisah. Air bersih semakin sulit didapatkan. Persediaan makanan pun semakin menipis. Di mana-mana terjadi kelaparan. Penyakit juga merajalela. Pemandangan yang terlihat di dusun-dusun sangat menyedihkan. Anak-anak menangis kelaparan, sementara orang tua duduk tak mampu bekerja karena lapar. Setiap hari terdengar berita kematian. Kehidupan penduduk di tepian sungai tersebut sangat memilukan.

Salah satu kampung yang paling parah tertimpa musi­bah adalah Kampung Datar. Kampung Datar terletak tepat di antara pegunungan yang tanahnya mendatar. Kampung ini dipimpin oleh Datu Beritu Taun yang arif, bijaksana, dan bertanggungjawab. Karena sifat baiknya, Datu Beritu Taun diangkat menjadi pimpinan dari datu-datu yang ada di kawasan tersebut.

Datu Beritu Taun mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Anak laki-lakinya bernama Antun Kumara Sukma, sedangkan anak perempuanya bernama Dewi Luing Indung Bunga. Antun adalah pemuda yang gagah berani, berbudi baik, dan santun. Dewi Luing Indung Bunga berparas cantik dan halus budi pekertinya. Keduanya adalah anak yang patut dibanggakan. Datu Beritu Taun dan isterinya, Diang Serunai, sangat mencintai kedua anak mereka.

Suatu hari, Datu Beritu Taun mengumpulkan seluruh datu untuk bermusyawarah. “Saudara-saudaraku, kita berkumpul untuk mencari jalan keluar dari masalah kita bersama,“ Datu Beritu Taun membuka percakapan. “Maaf Datu Beritu! Sepertinya masalah yang kita hadapi ini dapat diatasi jika kita membuka perkampungan baru,” usul salah seorang datu. “Maaf Datu! Kalau menurut saya, bagaimana kalau kita menggali sumber-sumber air saja?” usul seorang datu lainnya. Datu Beritu dan beberapa datu lainnya yang hadir di majelis itu sepakat dengan pendapat yang kedua. Akhirnya mereka memutuskan akan menggali sumber-sumber air.

Keesokan harinya, Datu Beritu Taun mengumpulkan seluruh penduduk dari berbagai dusun untuk menggali sumber air yang kering dan mencari sumber air baru. Penduduk terbagi ke dalam beberapa kelompok. Ada yang sibuk menggali sumber air yang sudah ada sebelumnya. Adapula yang sibuk membuat sumber air yang baru. Berhari-hari mereka bekerja keras, namun mata air itu tetap kering. Akhirnya penduduk putus asa dan berhenti menggali.

Para tetua kampung kemudian mengajak para penduduk untuk berdoa meminta hujan. Masyarakat telah bertaubat dan menyerahkan nasib mereka sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setiap hari dan setiap malam mereka terus berdoa, namun hujan belum juga turun. Mereka pun mulai berputus asa. Di saat penduduk berputus asa, Datu Beritu Taun terus berdoa. Setiap malam ia selalu duduk di kamarnya dan berdoa memohon kesejahteraan bagi rakyatnya. Hingga larut malam datu terus berdoa tanpa kenal lelah.

Suatu malam, karena kelelahan, Datu Beritu tertidur ketika tengah berdoa. Dalam tidurnya ia bermimpi bahwa negerinya akan makmur kembali jika ada salah satu gadis suci yang rela berkorban untuk negerinya. Selesai bermimpi, datu langsung terjaga dan berdoa kembali, “Ya, Tuhan. Terima kasih atas petunjuk-Mu.”

Keesokan harinya, Datu Beritu mengumpulkan warganya untuk memberitahukan perihal mimpinya. Setelah mendengar penuturan Datu Beritu Taun, satu persatu warga kembali ke rumahnya. Para orang tua bermusyawarah dengan anak gadisnya mengenai mimpi Datu Beritu Taun. Namun, tak seorang gadis pun bersedia mengorbankan dirinya untuk negeri. Demikian pula sebaliknya, para orangtua pun tidak rela anak gadisnya mengorbankan diri.

Sudah berminggu-minggu pengumuman itu dikumandangkan, namun tak seorang gadis pun bersedia untuk dikorbankan. Datu Beritu menjadi resah, tetapi tidak putus asa. Setiap hari ia terus berdoa siang dan malam. Bahkan sampai lupa memperhatikan kesehatan dirinya. Ia tidak mau makan. Akhirnya, badan datu menjadi kurus dan lemah. “Maaf, sekarang Abah makan dulu, nanti Abah sakit,” bujuk Dewi Luing sambil menyuguhkan makanan kepada Abahnya. Namun, datu tidak menghiraukan tawaran Dewi Luing. Ia tetap terus berdoa dan berharap semoga ada gadis yang rela berkorban demi negerinya.

Dewi Luing Indung Bunga dan Antun Kumara Sukma merasa sedih melihat abahnya. Mereka dapat merasakan beban dan tanggung jawab abahnya sebagai pemimpin. Dewi Luing mulai memikirkan nasib abahnya. “Kaka, Dewi merasa sedih dan prihatin melihat keadaan Abah. Apa yang harus kita lakukan untuk meringankan beban Abah?” tanya Dewi Luing kepada kakanya. “Adingku, kita hanya dapat turut berdoa, semoga ada gadis yang akan merelakan dirinya untuk negeri ini, sehingga bencana ini segera berakhir,” jawab Antun yang juga tidak dapat berbuat apa-apa.

Pada suatu malam, Dewi Luing tak dapat memejamkan matanya. Pikirannya menerawang memikirkan nasib abahnya dan penderitaan penduduk. Hatinya yang halus tidak tega melihat hal itu berlarut-larut. “Ya Tuhan, jika memang harus ada gadis yang merelakan dirinya demi kesejahteraan penduduk, hamba rela,” bisik hati kecil Dewi. Demi keselamatan penduduk di negerinya, ia bertekad untuk mengorbankan dirinya.

Keesokan paginya, Dewi Luing Indung Bunga berniat menyampaikan maksudnya kepada keluarganya. Ketika Abah, Uma, dan Kakanya telah berkumpul, ia pun mengutarakan keinginannya. “Abah, Ibu, dan Kaka. Setelah semalaman berpikir, Dewi berketetapan hati akan mengorbankan diri demi kesejahteraan kita bersama,” ucap Dewi mantap.

Mendengar penuturan Dewi, ketiganya sangat terkejut dan bersedih hati. “Benarkah yang kamu katakan itu, anakku?” tanya Abahnya memastikan. “Benar Abah. Dewi sudah bertekad bulat untuk berkorban demi negeri ini,” jawab Dewi menegaskan kepada abahnya. Meskipun sedih akan kehilangan salah satu anggota keluarganya, namun Abah, Uma dan Kakanya tidak bisa berbuat apa-apa. Keputusan Dewi Luing tidak dapat diubah lagi.

Pada hari yang telah ditentukan, berkumpullah seluruh penduduk dari beberapa negeri untuk mengikuti upacara pengorbanan Dewi Luing Indung Bunga. Dengan mantap Dewi Luing berjalan ke tengah arena dan mengucapkan salam perpisahan, “Wahai seluruh penduduk negeri, Dewi ikhlas dengan kematian ini, demi kesejahteraan negeri ini. Semoga kalian hidup damai dan makmur. Jika Dewi mempunyai kesalahan, Dewi mohon dimaafkan.” Setelah itu, Dewi kemudian duduk dan berdoa dengan khusyuk diiringi doa para datu.

Selesai berdoa, tiba-tiba Dewi terjatuh dan meninggal dunia. Bersamaan dengan itu hujan turun dengan deras. Kemarau panjang pun berakhir. Kehidupan bersemi kembali. Kini, Kampung Datar menjadi kawasan subur dan makmur. Kam­pung Datar ini terletak di Kecamatan Telaga Langsat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Nilai moral yang terkandung dalam cerita di atas adalah rasa tanggung jawab dan kerelaan berkorban demi orang banyak. Nilai rasa tanggung jawab tercermin pada sifat Datu Beritu Taun yang rela terus berdoa siang dan malam untuk kesejahteraan rakyatnya, meskipun ia harus menahan lapar yang mengakibatkan ia menjadi kurus. Kemudian, nilai kerelaan berkorban dapat tercermin pada sifat Dewi Luing Indung Bunga yang rela mengorbankan nyawanya demi kemakmuran penduduk di Kampung Datar, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Adapun hikmah yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa hutan sangatlah penting bagi kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, kita patut untuk selalu menjaganya agar keseimbangan alam juga selalu terjaga. Jika keseimbangan ini berjalan dengan baik, maka kehidupan manusia juga akan terhindar dari bencana. Jika terjadi bencana alam berarti terjadi ketidakseimbangan atau lebih tepatnya kerusakan eksosistem. Kerusakan ekosistem tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah penebangan hutan secara liar. Apa yang telah dialami oleh Datu Beritu Taun dan rakyatnya pada zaman dahulu, kini juga telah dirasakan oleh masyarakat Kalimantan. Namun, bukan bencana kekeringan yang menimpa mereka, akan tetapi hampir setiap tahun banjir menenggelamkan pemukiman mereka. Hal ini juga disebabkan oleh adanya penebangan hutan secara liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tanpa menanaminya kembali.

Oleh karena itu, perlulah kita sadari bahwa memanfaatkan potensi alam dan melestarikannya adalah sebuah keniscayaan bagi manusia, agar kelangsungan hidupnya terus berjalan dan keseimbangan alam pun tetap terjaga. Ini menunjukkan adanya hubungan timbal-balik antara keduanya. Di satu sisi manusia memiliki hak dan kewajiban terhadap alam yaitu memanfaatkan alam sebaik mungkin, sedangan di sisi lain alam membutuhkan keseimbangan ekosistem sehingga dapat melayani keperluan manusia. Hal ini digambarkan dalam sebuah slogan “living in harmony with nature artinya hidup harmoni bersama alam.
Abah     : Ayah
Kaka     : Kakak
Uma     : Ibu
Ading    : Adik

"Hampang datu"

Rumah adat Bubungan tinggi
Kalimantan Selatan adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Kalimantan. Ibu kotanya adalah Banjarmasin. secara geografis, Kalimantan Selatan berada di bagian tenggara pulau Kalimantan, memiliki kawasan dataran rendah di bagian barat dan pantai timur, serta dataran tinggi yang dibentuk oleh Pegunungan Meratus di tengah.
Masyarakat kalimantan selatan terdiri dari berbagai etnis ada etnis dayak, banjar, bugis dan lain-lain, demikian juga dengan cerita rekyatnya yang beraneka ragam salah satunya adalah legenda tentang "Hampang datu"

Berbagai macam cara dilakukan oleh manusia untuk mewujudkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas segala berkah dan rahmat yang dilimpahkan-Nya. Salah satunya adalah melakukan upacara bersih desa. Upacara ini merupakan upacara yang lazim dilaksanakan di berbagai desa di Jawa. Di kalangan masyarakat Jawa, bersih desa atau bersih dusun dikenal dengan istilah rasulan atau bersih deso, yaitu sebuah tradisi turun-temurun yang masih berlaku dalam masyarakat petani di desa-desa di Jawa, seperti di Desa Getas, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengenai kapan mulainya dan siapa yang memulai tradisi ini, sulit ditemukan sumbernya. Namun, tradisi ini masih berlangsung sampai sekarang yang sudah merupakan acara rutin setiap tahun sekali dengan agenda pokoknya tasyakuran, yaitu ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas limpahan rahmat-Nya kepada seluruh warga masyarakat.

Ungkapan rasa syukur tersebut diwujudkan dalam berbagai cara. Namun secara umum, rasulan atau bersih deso identik dengan menyediakan makanan lebih baik dari hari-hari biasanya, karena pada hari itu akan banyak sanak saudara, handai taulan dan kerabat yang datang ke rumah, sehingga mereka merasa malu jika tidak menghidangkan makanan yang lezat kepada tamu-tamu mereka. Selain menyediakan makanan dan minuman di rumah masing-masing, seluruh warga juga membuat satu porsi makanan lengkap dengan lauk-pauk yang telah dikemas dalam berbagai bentuk hiasan, kemudian dibawa dan dikumpulkan di balai desa. Makanan tersebut baru boleh dimakan secara beramai-ramai, setelah dibacakan doa oleh tokoh agama setempat. Bagi orang Jawa, rasulan termasuk juga hari besar selain hari raya Lebaran (Idul Fitri dan Idul Adha). Bagi anak-anak rasulan merupakan hari yang ditunggu-tunggu, karena akan dibelikan pakaian baru.

Upacara bersih desa seperti di atas, tidak hanya terdapat di Jawa. Di daerah Kalimantan Selatan, Indonesia, tepatnya di Desa Padang Batung, juga terdapat upacara bersih desa yang dikenal dengan istilah upacara manyanggar banua. Tujuan dilaksanaknnya upacara ini seperti halnya di Jawa yaitu sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa, karena panen mereka telah berhasil. Selain itu, mereka juga memohon agar senantiasa selamat dan terhindar dari malapetaka. Ungkapan rasa syukur tersebut, juga diwujudkan dengan menyediakan beraneka ragam makanan yang lezat pada setiap keluarga di desa itu. Namun, sebelum perayaan dimulai, seluruh desa dibersihkan dari rumput dan tanaman yang mengganggu. Jalan desa dirawat dengan baik. Selokan yang mampet dibetulkan, agar air tidak menggenang. Semuanya dikerjakan secara bergotong-royong. Seluruh warga masyarakat turut serta dalam kegiatan tersebut. Selain di pekarangan rumah, mereka juga membersihkan seluruh bagian-bagian di dalam rumah. Mulai dari langit-langit rumah, bagian dapur, kamar tidur, kamar depan hingga kolong rumah. Semua peralatan memasak mereka cuci di perigi (telaga). Demikianlah, seluruh kampung terlihat bersih dan rapi. Adapun puncak acara manyanggar banua adalah upacara adat selamatan dengan beraneka ragam hidangan makanan dan minuman yang lezat.

Namun, suatu ketika di  saat memasuki hari perayaan upacara selamatan, seluruh warga masyarakat di Desa Padang Batung dikagetkan dengan sebuah peristiwa yang sangat aneh. Menjelang subuh hari, seluruh makanan yang telah disiapkan oleh seluruh warga di rumah masing-masing habis dimakan oleh sesosok makhluk gaib yang tak seorang pun warga yang mengetahui asal dan jenisnya. Oleh karena itu, seluruh warga berkumpul untuk bermusyawarah tentang bagaimana cara mengetahui jejak dan jenis makhluk itu. Peristiwa ini terjadi dalam sebuah cerita rakyat yang terkenal di kalangan masyarakat Kalimantan Selatan. Lalu, bagaimana dengan kisah selanjutnya? Berhasilkah mereka mengetahui makhluk gaib itu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Hampang Datu berikut ini.

Konon, pada zaman dahulu kala, tersebutlah sebuah desa di wilayah Kalimantan Selatan, yang bernama Desa Padang Batung. Mata pencaharian penduduknya adalah bertani. Hasil pertanian yang mereka peroleh cukup melimpah. Untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan tersebut, maka setahun sekali yaitu setiap selesai panen mereka selalu mengadakan kenduri besar sebagai bagian dari upacara manyanggar banua (bersih desa). Pada hakekatnya, puncak acara dalam upacara itu adalah upacara adat selamatan atau kendurian. Setiap keluarga di desa itu menyiapkan beraneka ragam makanan dan minuman untuk mereka makan bersama-sama.

Pada suatu ketika, di salah satu rumah warga terjadi peristiwa yang aneh. Menjelang subuh, sejumlah ikan dan kue yang sudah dimasak hilang dari tempat penyimpanannya. Sambal yang tersisa bagai diacak-acak berhamburan di ruang dapur. Dua panci besar daging rusa yang sudah dipersiapkan juga tidak tersisa sedikit pun. Seluruh anggota keluarga dalam rumah itu dibangunkan. Setelah ditanya, tidak ada satu pun anggota keluarga yang menyentuh makanan itu sebelumnya.

Menjelang pagi, di rumah tetanggannya terdengar suara ribut-ribut. Ternyata, mereka juga mengalami peristiwa yang serupa. Penduduk desa pun geger. Selama bertahun-tahun mereka melakukan upacara manyanggar banua itu, inilah kali pertama mereka mengalami peristiwa seperti itu. Pada awalnya, setiap warga saling mencurigai antara satu dengan yang lainnya. Namun, pada akhirnya kecurigaan mereka menjadi tidak beralasan, karena mereka mengalami peristiwa yang sama. Untuk itu, Kepala Desa dan para sesepuh desa mengumpulkan seluruh warganya untuk mengadakan musyawarah di Balai Desa.

“Saya tidak yakin jika yang melakukan hal itu adalah warga di desa ini,” sahut seorang warga dalam pertemuan itu.

“Benar apa yang kamu katakan itu. Kelihatannya, semua warga desa kita ini baik-baik. Saya juga tidak pernah mendapat laporan bahwa warga kita berseteru dengan warga desa tetangga,” tambah Kepala Desa. 
“Lalu, siapa orang yang berani mengganggu ketenteraman desa kita?” tanya salah seorang warga yang bertubuh kekar sambil tangannya menepuk-nepuk kumpang parang bungkul yang menggantung di pinggangnya. “Sebut saja siapa dan di mana rumahnya! Akan kutunjukkan padanya bahwa di desa ini ada warga yang siap mengadu raga untuk mempertahankan kehormatan desanya,” ujar laki-laki kekar itu dengan mata terbakar.

“Ini sebuah tantangan! Aku juga terpanggil untuk membela kehormatan desa kita,” seorang warga yang berdiri paling belakang turut membuka suara.

Suasana dalam pertemuan itu semakin memanas. Beberapa warga mulai emosi. Dalam suasana demikian, tiba-tiba terdengar suara yang tidak terlalu nyaring, tetapi cukup jelas didengar oleh semua yang hadir. “Sudahlah!” seru seorang sesepuh yang sangat disegani di desa itu. Semua mata terpusat kepadanya. Suasana pun kembali dingin.

“Andai saja perbuatan kurang ajar ini dikerjakan oleh satu orang, tentu ia sangat digjaya. Bayangkan! Lebih dari empat puluh rumah ia acak-acak dan ia kentuti. Tidak ada satu pun dari kita yang bangun, apalagi memergokinya,” ujar orang tua itu dengan tenang.

Pernyataan orang tua itu, kembali membakar emosi salah seorang warga, “Aku tidak perduli dengan kedigjayaannya, hatta berkumis kawat sekalipun, bila belum berhadapan denganku, tidak akan kuterima perlakuan ini.”

“Jadi, maksud Dangsanak kita akan menyerang dia?” tanya si Laki-laki kekar. “Jika begitu, akan kuundang semua laki-laki berkemampuan untuk... ,” kata laki-laki itu belum selesai bicara. “Untuk menyerang? Siapa yang akan kalian serang?” potong si Orang Tua. Sorot matanya yang tajam menebar ke semua yang hadir. Hadirin pun terdiam, termasuk si Laki-laki kekar. Kemudian Orang Tua itu melanjutkan, “Kita belum mengenali siapa sebenarnya orang yang telah menebarkan permusuhan dengan kita. Curiga boleh-boleh saja. Sebaiknya mulai malam ini kita berjaga-jaga di pusat desa,” orang tua itu mengusulkan.

Semua warga menerima usulan itu, termasuk Kepala Desa. Sementara upacara manyanggar banua ditunda hingga esok hari. Menjelang malam, seluruh pemuda desa mendirikan pos jaga di sudut-sudut desa untuk menghadang si pengacau. Ibu-ibu sibuk memasak apa adanya di dapur. Malam pun semakin larut. Setelah semua makanan matang, mereka pun beristirahat.

Menjelang subuh, tiba-tiba para ibu berhamburan keluar rumah. Mereka kembali mengalami peristiwa yang sama seperti subuh sebelumnya. Warga desa kembali geger. Seluruh warga berkumpul di depan rumah Kepala Desa. Mereka yang berjaga di pos mengaku tidak melihat makhluk yang mencurigakan masuk ke desa mereka.

“Wahai, wargaku! Upacara manyanggar banua kita undur lagi sampai desa kita kembali aman,” ujar Kepala Desa kepada warganya.

“Aku setuju,” sahut sesepuh desa. “Namun yang lebih penting dari itu adalah menemukan siapa orang atau makhluk apa yang telah mempecundangi desa kita,” tambahnya. “Bila demikian, penjagaan kita perketat lagi” sambung Kepala Desa.

“Maaf, Pak Kepala Desa. Apakah saya boleh usul!” sahut seorang ibu rumah tangga. “Ya, silahkan!” jawab Kepada Desa. “Begini, Pak. Bagaimana kalau kita menjebak Pencuri itu. Saya beranggapan bahwa maling yang telah mencuri sesajen kita bukanlah manusia biasa. Dia adalah sejenis makhluk gaib yang hidup di lingkungan kita. Dia merasa terabaikan, sehingga tidak mengherankan jika dia membuat ulah seperti ini,” jelas ibu itu.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Kepala Desa tidak sabar. “Di masing-masing rumah, barangkali masih ada daging kelapa yang tersisa,” kata ibu itu.

“Tentu...!” jawab ibu-ibu lainnya yang hadir di tempat itu. “Tapi, buat apa?” tanya seorang ibu penasaran. “Daging kelapa yang sudah diparut, masukkan ke dalam bakul rumpung yang di bagian bawahnya diberi lubang. Ikat bagian atasnya, kemudian letakkan di tengah ruang dapur sebagaimana layaknya kita menyimpan sesajen. Kemudian tinggalkan seperti sesajen! Setelah itu kita istarahat saja,” jelas ibu rumah tangga itu.

Mendengar penjelasan itu, seluruh warga mengangguk-angguk sebagai tanda setuju. Malam harinya, mereka melaksanakan rencana tersebut sesuai dengan penjelasan si Ibu. Setelah itu mereka tidur nyenyak. Keesokan harinya, di pagi yang dingin semua warga bergegas ke dapur. Benar kata ibu itu, bakul yang berisi parutan kelapa sudah tidak ada lagi. Setiap rumah mengalami hal sama. Mereka hanya menemukan ceceran parutan kelapa yang membentuk garis mengikuti arah si pencuri melalui pintu belakang. Hal itu memudahkan warga untuk melacak jejak ke mana si pencuri itu pergi. Mereka terus mengikuti garis parutan kelapa yang membentang ke arah persembunyian si pencuri. Banyak warga yang tidak sabar ingin melampiaskan kemarahan mereka. Parang dan tombak tergenggam erat di tangan mereka.

Setelah beberapa jauh mengikuti alur garis itu, sampailah mereka pada mulut sebuah gua di ujung desa. Warga pun yakin bahwa pencuri itu bersembunyi dalam gua itu. Keyakinan tersebut dikuatkan oleh ceceran parutan kelapa yang mulai terputus-putus di mulut gua. Parang dan tombak semakin erat di genggaman mereka, siap untuk digunakan jika sewaktu-waktu diperlukan. Beberapa warga sudah beranjak masuk ke dalam mulut gua. Namun, mereka kembali keluar, karena di dalam gua gelap sekali. Sebagian warga disuruh kembali untuk mencari obor. Sebagian yang lain tetap bersiaga di mulut gua, kalau-kalau tiba-tiba ada serangan dari dalam gua.

“Sudahlah! Kita hentikan saja perburuan ini untuk menghindari jatuhnya korban,” ujar sesepuh desa. “Mungkin si pencuri sesajen kita adalah makhluk gaib yang disebut-sebut sebagai datu-datu penjaga lingkungan kita. Barangkali kita lalai menjaga lingkungan,” tambahnya. “Lalu, apa yang akan kita lakukan?” tanya Kepala Desa.

“Agar datu yang menghuni gua ini tidak mengganggu kita lagi, saya minta Dangsanak untuk membuat hampang, yaitu menutup gua ini dengan menancapkan batang haur, kemudian menutup gua dengan rapat-rapat,” jelas sesepuh desa. Seluruh warga setuju dengan usulan itu. Setelah itu, mereka segera meramu batang haur, kemudian ditancapkan membentuk sebuah hampang untuk menutupi mulut gua. Batu-batu besar digelindingkan ke mulut gua, kemudian ditimbun dengan tanah. Maka terkuburlah makhluk gaib itu di dalam gua.

Desa Padang Batung pun kembali aman, damai dan sentosa. Sejak itu, makhluk itu tidak pernah lagi datang mengusik ketenangan warga. Untuk mengenang peristiwa yang menakutkan yang pernah berlangsung, oleh masyarakat setempat, tempat tersebut diberi nama Hampang Datu.

Kamus kecil:
Dangsanak : saudara
Digjaya : sakti
Geger : ribut
Hatta berkumis kawat : seandainya berkumis kawat
Haur, aur : sejenis bambu
Kumpang parang tungkul : jenis sarung
Maling : pencuri
Manyanggar banua : upacara bersih desa
Sesepuh : tetua

Legenda kisah puntung kempat

Kalimantan Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan dan beribukotakan Pontianak. luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat adalah 146.807 km² (7,53% luas Indonesia). Merupakan provinsi terluas keempat setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Daerah Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki provinsi "Seribu Sungai". Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang diantaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan. berikut satu cerita lagi tentang tentang kisah puntung kempat dari kalimantan barat.

Di atas Gunung Kujau yang hijau dan sejuk di daerah Kalimantan Barat, hiduplah sepasang suami-istri dengan keenam anaknya. Sang suami bernama Sabung Mengulur, sedang istrinya bernama Pukat Mengawang. Keenam anaknya yaitu berturut-turut dari yang sulung ke yang paling bungsu adalah Belang Pinggang, Suluh Duik, Buku Labuk, Terentang Temanai, Putung keempat, dan Bui Nasi. Dari keenam bersaudara tersebut, hanya Putung Kempat yang perempuan. Sebenarnya, Sabung Mengulur dan istrinya mempunyai seorang lagi anak laki-laki yang bernama Pulung Gana, namun anak itu meninggal ketika masih kecil. Untuk menghidupi keenam putra-putrinya, Sabung Mengulur dan istrinya bercocok tanam di ladang.
Suatu ketika, Sabung Mengulur mendapat firasat buruk bahwa hidupnya di dunia akan lebih lama lagi. Namun, ia tidak memberitahukan hal itu kepada istri dan anak-anaknya. Suatu hari, ia hanya berpesan kepada keenam anaknya ketika akan masuk ke dalam kepok[1] agar keenam anaknya membuka lahan baru untuk bercocok tanam.

“Wahai, anak-anakku! Sebaiknya kalian membuat ladang baru agar kalian bisa hidup,” pesan Sabung Mengulur.

Keenam anak itu tidak terlalu menanggapi pesan itu karena menganggap ayah mereka hanya bergurau. Ayah mereka masih terlihat sehat dan tidak sedang mengidap penyakit apapun. Hari sudah menjelang sore, namun Sabung Mengulur belum juga keluar dari kepok. Ketika keenam anaknya menengok ke dalam kepok itu ternyata sang ayah menghilang entah ke mana, mereka hanya menemukan beraneka ragam bibit tanaman.. Barulah saat itu istri dan keenam anaknya menyadari bahwa pesan ayahnya itu tidak main-main. Betapa sedih istri Sabung Mengulur dan keenam anaknya.

Kini, keenam bersaudara itu telah menjadi yatim. Mereka harus bekerja untuk menghidupi diri mereka. Akhirnya, mereka pun melaksanakan pesan sang ayah dengan membuka ladang di hutan. Mereka bergotong-royong dan bergiliran mengolah, menanami dan menjaga ladang mereka.

Pada suatu malam, ketika giliran Bui Nasi menjaga ladang, tiba-tiba ia diserang oleh sesosok makhluk raksasa. Rupanya, raksasa itu adalah penjelmaan roh saudaranya, Puyung Gana, yang merasa berhak atas tanah itu. Bui Nasi tidak mengetahui hal itu, sehingga terjadilah perkelahian sengit antara kedua orang bersaudara itu. Perkelahian itu berlangsung hingga pagi, namun tak satu pun yang dapat dinyatakan kalah atau menang. Akhirnya keduanya berdamai setelah mengetahui bahwa mereka adalah bersaudara. Mereka bersepakat untuk mengolah lahan itu secara bersama-sama. Bahkan, raksasa itu bersedia mengajari Bui Nasi tentang cara bercocok tanam.

“Dengarlah, Dik! Jika kamu hendak mengolah lahan dengan baik, perhatikanlah gugusan bintang di langit! Bintang tiga menandakan waktu baik untuk mulai mengejarkan ladang. Bintang lima menandakan musim baik untuk menebang kayu, sedang bintang empat menandakan padi dan tanaman akan diserang oleh babi hutan atau hama,” ujar Payung Gana.

Bui Nasi memperhatikan ajaran Payung Gana dengan sungguh-sungguh, kemudian menyampaikannya kepada kelima suadaranya yang lain. Akhirnya keenam bersaudara itu mengolah ladang mereka berdasarkan ajaran Payung Gana, sehingga mendapat hasil panen yang melimpah. Untuk menyambut keberhasilan tersebut, mereka mengadakan pesta panen selama tujuh hari tujuh malam. Mereka mandi-mandi di sungai atau yang biasa disebut mandi simburan dengan penuh kegembiraan.

Pada acara mandi simburan tersebut, mereka harus saling memercikkan air antara satu dengan yang lain agar terhindar dari penyakit. Namun, mereka lupa memercikkan air kepada Putung Kempat, sehingga Putung Kempat ditimpa penyakit kusta. Seluruh tubuhnya dipenuhi oleh bercak putih kemerahan seperti panu dan di tepinya terdapat penebalan seperti kurap. Kelima saudara Putung Kempat menjadi panik karena takut tertular penyakit kusta yang sulit untuk disembuhkan itu. Akhirnya mereka pun bermusyawarah.
“Apa yang harus kita lakukan, Bang?” tanya Bui Nasi kepada Belang Pinggang.
“Kita semua tahu, penyakit kusta itu sangat sulit untuk disembuhkan. Bagaimana jika Putung Keempat kita asingkan saja?” usul Belang Pinggang.

Akhirnya, kelima putra Sabung Mangulur tersebut bersepakat mengasingkan Putung Kempat dengan cara menghanyutkannya di Sungai Sepauk. Betapa sedih hati Putung Kempat akan berpisah dengan saudara-saudaranya. Namun, ia tak kuasa untuk menolak keputusan itu. Putung Kempat didudukkan di atas piring pusaka di dalam rakit dan dibekali keperluan hidup. Kelima saudaranya berharap semoga saudara perempuan itu ditemukan oleh seseorang yang mampu menyembuhkan penyakitnya.

Setelah sehari-semalam terombang-ambing di atas Sungai Sepauk, rakit yang ditumpangi Putung Kempat tersangkut pada bubu ikan milik Aji Melayu. Aji Melayu adalah seorang yang kaya dan sakti dan tinggal di sekitar aliran Sungai Sepauk. Seperti biasanya, pagi-pagi sekali Aji Melayu pergi ke sungai untuk memeriksa bubunya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang gadis duduk termenung di atas rakit yang tersangkut pada bubunya.
“Hai, siapa gadis itu?” tanyanya dalam hati, seraya menghampiri gadis itu.
“Hai, gadis cantik! Engkau siapa dan kenapa berada di tempat ini?” tanya Aji Melayu kepada Putung Kempat.

Putung Kempat belum sempat menjawab namun Aji Melayu kembali bertanya setelah melihat penyakit yang diderita Putung Kempat.

 “Apa yang terjadi pada tubuhmu? Bukankah itu penyakit kusta?”
“Benar, Tuan!” jawab Putung Kempat dengan perasaan malu.

Setelah itu, Putung Kempat memperkenalkan diri dan menjelaskan semua peristiwa yang telah menimpa dirinya hingga ia berada di tempat itu. Mendengar cerita itu, Aji Melayu merasa iba kepada gadis malang itu dan membawanya pulang ke rumah untuk diobati. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Aji Melayu berhasil menyembuhkan penyakit Putung Kempat sehingga kembali cantik seperti semula. Aji Melayu pun berniat untuk melamar Putung Kempat karena terpesona melihat kecantikannya. Putung Kempat bersedia menerima lamaran tersebut tapi dengan syarat Aji Melayu harus melalui berbagai ujian. Aji Melayu lulus ujian dan menikahi Putung Kempat.

Kabar tentang pernikahan Putung Kempat dengan Aji Melayu didengar oleh saudara-saudaranya yang berada di atas Gunung Kujau. Akhirnya, kelima bersaudara tersebut datang ke tempat Aji Melayu untuk menemui Putung Keempat. Di hadapan Aji Melayu, mereka memperkenalkan diri terlebih dahulu lalu menyampaikan maksud kedatangan mereka.

“Maaf, Tuan! Kami berlima adalah saudara-saudara Putung Kempat dari Gunung Kujau. Bolehkah kami bertemu dengan saudara perempuan kami itu?” pinta Puyung Gana mewakili keempat adiknya.
“Jika kalian ingin bertemu dengan Putung Kempat, kalian harus melalui beberapa ujian,” ujar Aji Melayu.
“Apakah ujian itu, Tuan?” tanya Bui Nasi.

“Ujian pertama yang harus kalian lalui adalah kalian harus tidur di atas selembar daun pisang hingga besok pagi. Tapi daun itu tidak boleh meninggalkan bekas robek sedikit pun,” jelas Aji Melayu.
Meskipun ujian itu termasuk berat, namun mereka berhasil melaluinya berkat kesaktian mereka. Setelah memuji keberhasilan mereka, Aji Melayu kemudian menjelaskan tentang ujian yang akan mereka lalui berikutnya.

“Begini, wahai Anak Muda Sekalian! Saat ini saya sedang bermusuhan dengan Aji Kumbang dari daerah Batu Kantuk di hulu Sungai Kapuas. Jika kalian berhasil mengalahkannya, maka kalian boleh menemui Putung Kempat. Apakah kalian bersedia menerima ujian ini?” Aji Melayu menawarkan.
“Baiklah, kami menerima tawaran Tuan. Tapi, kami ada satu permintaan,” sahut Bui Nasi, “jika kami berhasil melalui ujian ini, kami tidak hanya diperbolehkan bertemu dengan Putung Kempat, tapi juga diperbolehkan mengajaknya kembali ke Gunung Kujau.”

Aji Melayu menerima permintaan tersebut. Kelima bersaudara itu pun berangkat ke hulu Sungai Kapuas untuk menyerang Aji Kumbang. Pernyerangan itu dipimpin oleh Bui Nasi. Berkat kesaktian dan berbagai strategi yang dilakukan, akhirnya mereka berhasil mengalahkan Aji Kumbang. Keberhasilan mereka pun disambut baik oleh Aji Melayu. Sesuai dengan janjinya, maka Aji Melayu memperbolehkan kelima bersaudara itu membawa Putung Kempat kembali ke Gunung Kujau meskipun dalam keadaan hamil tua.
Setibanya di Gunung Kujau, kelima bersaudara bersuka ria sambil memukul-mukul gong pusaka keluarga yang bernama Gong Tengkang untuk menyambut kedatangan Putung Kempat. Namun tanpa mereka sadari, ternyata bunyi gong itu membuat pening kepala Putung Kempat yang akhirnya jatuh sakit. Dalam keadaan sakit, Putung Kempat pun melahirkan putrinya yang pertama dan diberi nama Dayang Lengkong. Selang beberapa hari tinggal di Gunung Kujau, sakit Putung Kempat tak kunjung sembuh. Akhirnya, kelima bersaudara memutuskan untuk mengembalikan Putung Kempat dan anaknya kepada Aji Melayu. Setelah menyerahkan saudara perempuannya itu kepada Aji Melayu, mereka langsung berpamitan untuk kembali ke Gunung Kujau. Aji Melayu pun segera mengobati Putung Kempat dan berhasil menyembuhkannya.
Suatu hari, ketika sedang duduk menimang putrinya di pendopo istana, Aji Melayu bertanya kepada kepada istrinya, “Dinda, kalau boleh Kanda tahu, apa gerangan yang menyebabkan Dinda jatuh sakit saat berada di Gunung Kujau?”

Putung Kempat pun bercerita bahwa ia jatuh sakit akibat mendengar bunyi Gong Tengkang pada saat kelima saudaranya menyambut kedatangannya. Bagaikan disambar petir telinga Aji Melayu mendengar cerita itu. Ia langsung naik pitam dan sangat marah atas perbuatan kelima saudara istrinya itu yang dianggapnya tidak bertanggung jawab. Ia pun berniat untuk memberi pelajaran kepada mereka.

Keesokan harinya, setelah berpamitan kepada istrinya, berangkatlah Aji Melayu ke Gunung Kujau dengan menggunakan perahu. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ia merasa sangat rindu kepada anak dan istrinya. Akhirnya, ia memutar balik perahunya dan membatalkan perjalanannya ke Gunung Kujau. Hal itu ia lakukan berulangkali hingga akhirnya suatu hari Putung Kempat memberinya nasehat.

“Kanda! Sekiranya Kanda tidak kuasa berpisah dengan Dinda dan bayi kita, alangkah baiknya jika Kanda membuat dua buah patung yang mirip dengan kami. Jika Kanda tiba-tiba merasa rindu kepada kami, Kanda cukup memandangi kedua patung itu,” saran Putung Kempat.

Rupanya, saran yang diberikan istrinya itu masuk di akal bagi Aji Melayu. Setelah membuat dua buah patung yang mirip istri dan putrinya, ia pun berangkat ke Gunung Kujau. Ketika kerinduan itu tiba-tiba muncul, ia segera memandangi kedua patung itu sehingga kerinduannya terobati. Akhirnya, Aji Melayu tiba di Gunung Kujau dan berhasil menemui Bui Nasi dan saudara-saudaranya. Ia pun kehilangan kesabaran hendak menghajar mereka. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyerang Bui Nasi dengan senjata saktinya. Bui Nasi pun tidak tinggal diam. Ia segera mengambil meriam pusakanya bernama yang Gegar Sepetang. Hanya sekali tembakan, peluru meriam itu mengenai tubuh Aji Melayu hingga terlempar ke dalam Sungai Sepauk dan tewas seketika. Pada saat itu pula, air Sungai Sepauk tiba-tiba meluap sehingga terjadilah banjir besar. Konon, Gong Tengkang yang menyebabkan Putung Kempat sakit itu juga terjatuh ke dasar Sungai Sepuak. Hingga kini, jika air Sungai Sepauk surut pada saat musim kemarau, gong itu masih terlihat.

Penanganan penyakit Herpes

Herpes zoster (shingles atau cacar ular cacar api) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varicella-zoster.Setelah seseorang menderita cacar air, virus varicella-zoster akan menetap dalam kondisi dorman (tidak aktif atau laten) pada satu atau lebih ganglia (pusat saraf) posterior.Apabila seseorang mengalami penurunan imunitas seluler maka virus tersebut dapat aktif kembali dan menyebar melalui saraf tepi ke kulit sehingga menimbulkan penyakit herpes zoster.Di kulit, virus akan memperbanyak diri (multiplikasi) dan membentuk bintil-bintil kecil berwarna merah, berisi cairan, dan menggembung pada daerah sekitar kulit yang dilalui virus tersebut.Herper zoster cenderung menyerang orang lanjut usia dan penderita penyakit imunosupresif (sistem imun lemah) seperti penderita AIDS, leukemia, lupus, dan limfoma.

Varicella-zoster virus (VZV) merupakan agen menyebabkan varicella, atau dikenal sebagai cacar air, infeksi anak umum. Following resolusi cacar air, VZV tertidur di ganglia akar dorsal spinalis sampai penurunan imunitas seluler memicu reaktivasi dari virus, sehingga herpes zoster, atau dikenal sebagai herpes zoster. Herpes zoster adalah sindrom yang ditandai dengan ruam, menyakitkan vesikuler yang biasanya terbatas pada distribusi dermatom unilateral. Kadang-kadang, terutama pada pasien imunosupresi, infeksi dapat menyebar dan menghasilkan penyakit sistemik yang berat, dengan keterlibatan organ visceral beberapa dermatom dan beberapa (disebarluaskan zoster). Ruam herpes zoster terkait terlihat pada gambar di bawah.

Herpes zoster ditularkan antarmanusia melalui kontak langsung, salah satunya adalah transmisi melalui pernapasan sehingga virus tersebut dapat menjadi epidemik di antara inang yang rentan. Resiko terjangkit herpes zoster terkait dengan pertambahan usia. Hal ini berkaitan adanya immunosenescence, yaitu penurunan sistem imun secara bertahap sebagai bagian dari proses penuaan. Selain itu, hal ini juga terkait dengan penurunan jumlah sel yang terkait dalam imunitas melawan virus varicella-zoster pada usia tertentu. Penderita imunosupresi, seperti pasien HIV/AIDS yang mengalami penurunan CD4 sel-T, akan berpeluang lebih besar menderita herpes zoster sebagai bagian dari infeksi oportunistik.

Gejala
Pada awal terinfeksi virus tersebut, pasien akan menderita rasa sakit seperti terbakar dan kulit menjadi sensitif selama beberapa hari hingga satu minggu. Penyebab terjadinya rasa sakit yang akut tersebut sulit dideteksi apabila ruam (bintil merah pada kulit) belum muncul. Ruam shingles mulai muncul dari lepuhan (blister) kecil di atas dasar kulit merah dengan lepuhan lainnya terus muncul dalam 3-5 hari. Lepuhan atau bintil merah akan timbul mengikuti saraf dari sumsum tulang belakang dan membentuk pola seperti pita pada area kulit. Penyebaran bintil-bintil tersebut menyerupai sinar (ray-like) yang disebut pola dermatomal. Bintil akan muncul di seluruh atau hanya sebagian jalur saraf yang terkait. Biasanya, hanya satu saraf yang terlibat, namun di beberapa kasus bisa jadi lebih dari satu saraf ikut terlibat. Bintil atau lepuh akan pecah dan berair, kemudian daerah sekitarnya akan mengeras dan mulai sembuh. Gejala tersebut akan terjadi dalam selama 3-4 minggu. Pada sebagian kecil kasus, ruam tidak muncul tetapi hanya ada rasa sakit.

Herpes zoster on the neck. Herpes zoster on the lateral part of the abdomen.  Maculopapular rash due to herpes zoster in a child
Herpes zoster di leher dan di perut samping

Herpes zoster biasanya jinak, tetapi komplikasi dapat terjadi, mulai dari ringan sampai mengancam nyawa. Pada pasien , pengobatan dini dengan antivirus dan kortikosteroid telah terbukti menurunkan lamanya gejala dan mungkin mencegah atau memperbaiki beberapa komplikasi. Manifestasi klinis dari herpes zoster dapat dibagi ke dalam fase preeruptive (preherpetic neuralgia), fase erupsi akut, dan fase kronis (postherpetic neuralgia).

Preeruptive fase
Fase ini ditandai dengan sensasi kulit yang tidak biasa atau rasa sakit dalam dermatom yang terkena dampak yang bentara timbulnya lesi dengan 48-72 jam.

Selama ini, pasien mungkin juga mengalami gejala lain, seperti malaise, mialgia, sakit kepala, fotofobia, dan, jarang, demam.
Fase erupsi akut Fase ini ditandai dengan munculnya erupsi vesikular. Seperti pada fase preeruptive, pasien mungkin juga mengalami gejala seperti malaise, mialgia, sakit kepala, dan demam. Lesi mulai sebagai makula eritematosa dan papula (terlihat dalam gambar di bawah) yang dengan cepat berkembang menjadi vesikel. Lesi baru cenderung membentuk selama 3-5 hari, kadang-kadang penggabungan untuk membentuk bula. Karena herpes zoster pada anak dengan riwayat leukemia makulopapular ruam. Courtesy dari CDC. Setelah mereka membentuk kemajuan vesikel, lesi melalui tahap di mana mereka pecah, melepaskan isinya, memborok, dan akhirnya kerak di atas dan menjadi kering.
Hampir semua orang dewasa pasien mengalami rasa nyeri (misalnya, neuritis akut) selama fase erupsi. Rasa sakit parah beberapa pengalaman tanpa bukti dari erupsi vesikular (yaitu, zoster sine herpete), dan sejumlah kecil pasien memiliki karakteristik letusan tetapi tidak mengalami nyeri.
Gejala dan lesi pada fase erupsi cenderung untuk menyelesaikan lebih dari 10-15 hari. Namun lesi mungkin membutuhkan sampai satu bulan untuk benar-benar menyembuhkan, dan rasa sakit yang terkait dapat menjadi kronis.
Pasien menular sampai lesi mengering. Siapapun yang sebelumnya tidak memiliki varicella berada pada risiko tertular virus ini mudah menular. Wanita hamil dan pasien imunosupresi memiliki risiko tertinggi gejala sisa yang serius.
Fase kronis (postherpetic neuralgia)
Postherpetic neuralgia adalah nyeri persisten atau berulang berlangsung 30 hari atau lebih setelah infeksi akut atau setelah semua lesi berkulit. Ini adalah komplikasi yang paling sering herpes zoster, yang diamati pada 9-45% dari semua kasus zoster [1].
Kebanyakan orang melaporkan nyeri terbakar atau nyeri yang dalam, paresthesia, dysesthesia, hyperesthesia, atau kejutan listrik seperti nyeri. Bahkan dapat menjadi parah dan melumpuhkan.
Resolusi rasa sakit mungkin memerlukan jangka waktu. Nyeri berlangsung lebih lama dari 12 bulan telah dijelaskan di hampir 50% dari pasien yang lebih tua dari 70 tahun. Prevalensi postherpetic neuralgia dalam kasus-kasus herpes zoster meningkat dengan usia, dengan prevalensi 14,7 kali lipat lebih tinggi pada pasien yang lebih tua dari 50 tahun dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang lebih muda .

Manifestasi Klinis

Nyeri prodromal mendahului ruam pada sekitar 70-80% pasien; itu biasanya terbatas pada distribusi dermatom yang sama seperti ruam. Pada pasien imunokompeten, herpes zoster umumnya terbatas pada satu dermatom, dengan keterlibatan terbatas kemungkinan dermatom yang berdekatan karena variasi normal pada persarafan. Banyak pasien menggambarkan rasa sakit itu sebagai “membakar”, “berdenyut”, atau “menusuk.” Ini bisa berat, ringan, konstan, jarang, atau merasa seolah-lain sensasi seperti pruritus. Daerah yang terlibat mungkin lembut untuk palpasi.

Setelah 48-72 jam, atau lebih dalam beberapa kasus, muncul ruam . Awalnya, secara singkat, makulopapular lesi cepat transisi ke vesikel dalam 1-2 hari. Vesikel baru cenderung membentuk lebih dari 3-5 hari, kadang-kadang penggabungan untuk membentuk bula. Lesi kemudian pecah dan melepaskan isinya, memborok, kerak di atas, dan kering, lebih dari 7-10 hari. Seperti dengan cacar air, setelah terjadi pengerasan kulit, lesi tidak lagi menular.

Tergantung dermatom yang terlibat, temuan pemeriksaan fisik tambahan mungkin termasuk yang berikut:

    Regional lymphadenopathy
    Peripheral facial nerve palsy
    Delirium, confusion (kebingungan), coma (pada pasien  meningoencephalitis)
    Hilangnya rasa di lidah anterior (Ramsay Hunt Syndrome)

Keterlibatan gejala dari beberapa dermatom atau aspek bilateral dari dermatom yang sama (yaitu, melintasi garis tengah) dapat menunjukkan penyakit diseminata atau etiologi lain seperti virus infeksi herpes simpleks (HSV).

Gejala dan lesi cenderung untuk menyelesaikan lebih dari 10-15 hari. Namun lesi mungkin memerlukan hingga 1 bulan untuk benar-benar sembuh. Jaringan parut dan hiperpigmentasi atau hipopigmentasi di lokasi lesi dapat bertahan untuk waktu yang lama atau mungkin permanen. Durasi nyeri adalah variabel tetapi biasanya kurang dari 1 bulan. Nyeri berlangsung lebih lama dari 1 bulan disebut, menurut definisi, sebagai postherpetic neuralgia.
Kurang dari 20% pasien memiliki gejala sistemik, seperti sakit kepala, demam, malaise, atau kelelahan, pada setiap saat selama kasus herpes zoster.

Herpes zoster bisa terjadi tanpa ruam yang khas, meningitis aseptik atau zoster sine herpete, yang merupakan kondisi yang didefinisikan sebagai nyeri dan parestesia sepanjang dermatom tanpa pengembangan keterlibatan kulit terlihat.

Pemeriksaan fisik
Temuan fisik utama adalah ruam dalam distribusi dermatomal sepihak. Ruam mungkin eritematosa, makulopapular, vesikular, berjerawat, atau krusta, tergantung pada stadium penyakit. Perhatikan gambar di bawah. Herpes zoster pada leher. Diduga Zoster Tangan Lesi pada ujung hidung menunjukkan keterlibatan saraf nasociliary. Ini mengamanatkan menemukan celah-lampu pemeriksaan dengan fluorescein noda untuk mencari lesi kornea dendritik keratitis herpes.
seperti disebutkan sebelumnya, dalam jumlah pasti kasus, zoster mungkin terwujud tanpa ruam atau vesikel, dengan rasa sakit hanya dalam distribusi dermatomal (yaitu, zoster sine herpete).


Penanganan
Episode herpes zoster biasanya diri terbatas dan menyelesaikan tanpa intervensi. Namun, pengobatan yang efektif memang ada dan dapat mengurangi cakupan dan durasi gejala, dan mungkin risiko kronis gejala sisa (yaitu, postherpetic neuralgia) juga. Pengobatan adalah manfaat yang paling dalam populasi pasien pada risiko gejala lama atau berat, khusus, orang immunocompromised dan orang tua dari 50 tahun.
Manfaat merawat populasi yang lebih muda dan sehat tidak jelas.
Zoster tanpa komplikasi tidak membutuhkan rawat inap. Pasien berisiko tinggi untuk disebarluaskan zoster dapat mengambil manfaat dari intravena (IV) asiklovir. Pasien dengan zoster diseminata biasanya membutuhkan untuk bisa masuk ke IV asiklovir. Rawat inap juga dianjurkan bagi setiap pasien menunjukkan penyakit diseminata atau tetes mata atau keterlibatan meningoencephalopathic.
Penanganan Nyeri untuk Herpes zoster akut
Sebagian besar pasien dengan herpes zoster mengalami rasa sakit akut. Perawatan utama untuk nyeri zoster terkait akut termasuk analgesik narkotik dan non-narkotika (baik sistemik dan topikal), agen neuroactive, dan agen antikonvulsan. Sementara kemanjuran perawatan ini untuk nyeri neuropatik umum telah mapan, hanya beberapa modalitas telah dievaluasi khusus untuk zoster akut terkait nyeri pada studi terkontrol.

Para oksikodon narkotika oral dan antikonvulsan gabapentin lisan, serta aspirin analgesik topikal dan lidokain, semua telah menunjukkan kemampuan untuk mengurangi akut zoster terkait nyeri pada double-blind, placebo-controlled studi.  Di sisi lain, pregabalin anticonvulsant lisan gagal untuk menunjukkan pengaruh signifikan secara statistik kesakitan zoster menghilangkan akut dalam studi double-blind kecil, terkontrol plasebo. Meskipun, perlu dicatat obat ini telah terbukti ampuh mengobati rasa sakit dari neuralgia postherpetic dalam studi terkontrol lainnya.

Antivirus dan kortikosteroid juga telah ditunjukkan untuk mempercepat resolusi zoster terkait sakit.
Terapi nonpharmacologic untuk akut zoster terkait nyeri meliputi blok saraf simpatik, intratekal, dan epidural dan stimulasi saraf perkutan listrik. Meskipun studi yang terkendali dengan baik sedikit, meta-analisis dan uji klinis menyarankan pengobatan ini efektif dalam mengobati nyeri zoster akut.
Terapi Antivirus  untuk herpes zoster tanpa komplikasi

Tujuan terapi antiviral pada herpes zoster adalah untuk mengurangi rasa sakit, menghambat replikasi virus dan mencurahkan, membantu penyembuhan penyakit kulit, dan mencegah atau mengurangi keparahan neuralgia postherpetic. Tiga agen antivirus, asiklovir, valasiklovir, dan famsiklovir, telah disetujui untuk pengobatan herpes zoster di Amerika Serikat. Mekanisme kerja untuk semua agen adalah pencegahan varicella-zoster (VZV) replikasi virus melalui penghambatan polimerase DNA virus . Bentuk ke-3 agen telah terbukti dalam uji klinis untuk mengurangi pelepasan virus dan mempercepat resolusi gejala, termasuk rasa sakit, di herpes zoster tanpa komplikasi. Beberapa penelitian memberi kesan superioritas valacyclovir dan famciclovir dibandingkan dengan asiklovir dalam hal resolusi rasa sakit dan percepatan penyembuhan kulit. Selain itu, baik valasiklovir dan famsiklovir telah meningkatkan bioavailabilitas lebih asiklovir dan, sebagai hasilnya, memerlukan dosis kurang sering.

Studi-studi terkontrol penggunaan antivirus pada herpes zoster hanya dievaluasi efektivitas mulai terapi dalam 48-72 jam onset ruam, dan mereka telah menunjukkan tanpa kehilangan efektivitas ketika obat dimulai pada setiap saat selama periode itu. Beberapa studi observasional telah menunjukkan terapi antivirus yang mampu mengurangi rasa sakit zoster, bahkan ketika mulai luar jendela 72-jam terapi tradisional. Terapi antivirus harus dipertimbangkan untuk rejimen pengobatan zoster akut, terlepas dari saat presentasi..

Lamanya pengobatan antivirus dalam studi telah bervariasi dari 7-21 hari. Berdasarkan literatur saat ini, untuk pasien imunokompeten, asiklovir selama 7-10 hari atau kursus 7-hari dari agen yang lebih baru adalah tepat. Kursus yang lama mungkin diperlukan pada pasien immunocompromised.

Terapi Kortikosteroid untuk herpes zoster tanpa komplikasi
Penggunaan steroid dalam hubungannya dengan antivirus untuk herpes zoster tanpa komplikasi adalah kontroversial.

Penambahan kortikosteroid oral telah dievaluasi pada pasien yang diobati dengan asiklovir dalam 2 studi terkontrol. Steroid yang ditemukan untuk mempercepat resolusi neuritis akut dan memberikan peningkatan yang jelas dalam kualitas-hidup tindakan dibandingkan dengan pasien diobati dengan antivirus saja. Penggunaan steroid oral tidak berpengaruh terhadap perkembangan atau durasi neuralgia postherpetik. Steroid oral belum diteliti dengan valacyclovir atau famciclovir, sehingga manfaatnya tidak diketahui.

Bentuk Nonoral terapi steroid tambahan pada herpes zoster akut juga telah dipelajari. Sebuah penelitian yang melibatkan injeksi epidural steroid tunggal dan anestesi lokal diberikan bersamaan dengan rejimen standar antiviral oral dan analgesik ditemukan sederhana meningkatkan zoster terkait sakit selama 1 bulan lebih tanpa pengobatan steroid. Seperti di atas, tidak ada efek dalam mencegah postherpetic neuralgia dicatat.

Mengingat dampak negatif dari dan kontraindikasi untuk penggunaan kortikosteroid, pendapat pakar saat ini menyarankan membatasi keterlibatan mereka dengan kasus-kasus nyeri sedang sampai zoster parah, atau di mana gejala-gejala neurologis yang signifikan (seperti kelumpuhan wajah) atau keterlibatan SSP hadir (dan penggunaan kortikosteroid tidak dinyatakan kontraindikasi).

Durasi optimal terapi steroid tidak diketahui. Jika diresepkan, tampaknya masuk akal untuk steroid untuk digunakan bersamaan dengan terapi antivirus. Lamanya penggunaan steroid tidak boleh melampaui masa terapi antivirus. Steroid tidak boleh diberikan sendiri (tanpa terapi antivirus), karena kekhawatiran tentang promosi replikasi virus.

Pengobatan Herpes Zoster Rumit
Individu dengan perubahan imunitas diperantarai sel, akibat kondisi imunosupresif (misalnya, HIV, kanker) atau pengobatan (misalnya, penggunaan kortikosteroid diperpanjang), akan meningkatkan risiko untuk herpes zoster. Selanjutnya, presentasi herpes zoster pada populasi immunocompromised dapat menjadi rumit oleh penyakit disebarluaskan dan keterlibatan organ visceral.

Terapi antivirus telah ditunjukkan untuk menghentikan perkembangan dan penyebaran herpes zoster akut pada pasien immunocompromised, bahkan bila dimulai lebih dari 72 jam setelah onset ruam.  Dengan demikian, pendapat pakar saat ini merekomendasikan penggunaan terapi antivirus pada semua pasien immunocompromised zoster sebelum krusta penuh dari semua lesi.

Asiklovir intravena tetap menjadi obat pilihan untuk populasi yang dipilih pasien immunocompromised, sebagai berikut:

    Pasien dengan bukti penyakit diseminata atau keterlibatan organ visceral
    Pasien dengan keterlibatan oftalmik
    Pasien dengan HIV lanjut / AIDS dengan infeksi oportunistik aktif atau buang menonjol
    Penerima transplantasi segera setelah transplantasi atau ketika sedang dirawat karena penolakan

Pasien tanpa faktor risiko tersebut dapat diobati dengan anti-virus oral. Data tentang terapi tambahan dengan kortikosteroid yang kurang, dan terapi ini tidak direkomendasikan. Terapi antivirus harus dilanjutkan sampai resolusi semua lesi. [38]

Pengobatan Herpes zoster oftalmikus
Dua percobaan membandingkan lisan asiklovir untuk famsiklovir atau valasiklovir pada pasien dengan zoster mata menunjukkan hasil yang sebanding dengan salah satu rejimen. Pasien dengan zoster oftalmik didiagnosa atau diduga harus menerima antiviral dan segera dirujuk ke dokter mata.

Profilaksis pasca pajanan
Varicella-zoster immune globulin (VZIG) mencegah atau memodifikasi penyakit klinis pada orang yang rentan yang terkena varisela atau zoster. Ini harus disediakan untuk pasien yang berisiko untuk penyakit parah dan komplikasi, seperti neonatus dan pasien yang immunocompromised atau hamil.
Pengobatan Herpes Zoster kronis (postherpetic neuralgia)
Perawatan Primer untuk neuralgia postherpetic termasuk agen neuroactive, seperti antidepresan trisiklik; agen antikonvulsan, seperti gabapentin dan pregabalin, dan analgesik narkotik dan non-narkotik, baik sistemik, seperti opioid, dan topikal, seperti capsaicin. Tidak ada rencana pengobatan standar atau protokol yang ada untuk mengobati rasa sakit yang terkait dengan neuralgia postherpetic. Konsultasi dengan spesialis nyeri mungkin diperlukan .

Uji coba terkontrol plasebo dari agen antivirus dalam mengobati berbagai herpes zoster telah menunjukkan penurunan yang jelas dalam intensitas dan durasi akut zoster terkait rasa sakit di antara populasi diobati. Namun, apakah penggunaan antiviral dalam zoster akut mengurangi insiden atau durasi neuralgia postherpetic kurang jelas. Meta-analisis dan studi telah memberikan hasil yang bertentangan, dan subjek masih dalam perdebatan dalam literatur. Memperlakukan postherpetic neuralgia didirikan dengan antiviral belum terbukti bermanfaat.  Penggunaan kortikosteroid oral atau epidural dalam hubungannya dengan terapi antivirus telah ditemukan untuk menjadi bermanfaat dalam mengobati moderat sampai berat zoster akut, tetapi tidak berpengaruh terhadap perkembangan atau durasi neuralgia postherpetik.

Pemberian intratekal kortikosteroid juga telah dicoba. Sebuah percobaan yang melibatkan serangkaian 4 suntikan intratekal dari metilprednisolon dan lidokain pada pasien dengan neuralgia postherpetic didirikan menunjukkan penurunan yang signifikan dan terus-menerus kesakitan antara kortikosteroid pasien yang diobati bila dibandingkan dengan pasien yang tidak diobati atau yang diobati dengan lidokain intratekal saja. Namun, sebagai hasil ini belum menerima konfirmasi independen, dan ada masalah keamanan yang signifikan dengan pemberian steroid intratekal, ini modalitas pengobatan tidak dianjurkan.

Bedah Perawatan bedah umumnya tidak diindikasikan untuk pengobatan herpes zoster. Rhizotomy (pemisahan bedah dari serat nyeri) dapat dipertimbangkan dalam kasus-kasus ekstrim, sakit keras.

Pencegahan Herpes Zoster
Herpes zoster hasil dari reaktivasi infeksi sebelumnya dengan virus varicella-zoster (VZV) karena perubahan diperantarai sel kekebalan pada pasien. Dengan demikian, pencegahan herpes zoster dapat dicapai dengan baik menghindari infeksi awal, atau, pasca infeksi, menjaga cukup diperantarai sel kekebalan terhadap VZV untuk menekan reaktivasi virus. Saat ini, vaksin beberapa disetujui dan digunakan di Amerika Serikat yang menangani masing-masing jalur untuk pencegahan

Berkaitan dengan pencegahan infeksi awal, beberapa hidup, dilemahkan vaksin VZV, berdasarkan strain vaksin Oka telah digunakan untuk imunisasi anak rutin di Amerika Serikat sejak 1995. Hal ini mengakibatkan penurunan luar biasa dalam kejadian infeksi varicella primer. Selanjutnya, anak divaksinasi telah menunjukkan tingkat yang lebih rendah dari herpes zoster dari mereka yang terinfeksi dengan tipe liar VZV

Namun, pengaruh vaksinasi anak terhadap kejadian herpes zoster pada populasi orang dewasa masih belum jelas.

Metode lain untuk pencegahan infeksi awal termasuk kontak dan pernafasan isolasi pasien yang terinfeksi sampai krusta penuh lesi dicapai, serta profilaksis pasca pajanan pada populasi pilih dengan varicella-zoster immune globulin (VZIG).

Lain hidup, dilemahkan vaksin varicella-zoster (Zostavax) telah disetujui dan digunakan di Amerika Serikat sejak 2006 untuk pencegahan herpes zoster dan komplikasinya pada orang dewasa yang lebih tua. Dalam uji coba, besar terkontrol plasebo, vaksin ini menunjukkan penurunan dalam kejadian herpes zoster akut lebih dari 50% dan penurunan kejadian postherpetic neuralgia sebesar 67% pada populasi diobati. Komite Penasehat Praktek Imunisasi (ACIP) merekomendasikan bahwa nonimmunocompromised, orang dewasa tidak hamil berusia 60 tahun atau lebih menerima vaksin, terlepas dari sejarah zoster

Pada bulan Maret 2011,  the Food and Drug Administration (FDA menurunkan usia disetujui untuk penggunaan Zostavax untuk 50-59 tahun. Zostavax sudah disetujui untuk digunakan pada individu yang berusia 60 tahun atau lebih. Setiap tahun, di Amerika Serikat, herpes zoster mempengaruhi sekitar 200.000 orang sehat berusia 50-59 tahun. Persetujuan ini berdasarkan pada studi multicenter, Efektifitas Zostavax dan Trial Keselamatan (ZEST).

Percobaan telah dilakukan di Amerika Serikat dan 4 negara lain dalam 22.439 orang berusia 50-59 tahun. Peserta dibagi secara acak dalam rasio 1:1 untuk menerima baik Zostavax atau plasebo. Peserta dimonitor selama minimal 1 tahun untuk melihat apakah herpes zoster dikembangkan. Dibandingkan dengan plasebo, Zostavax secara signifikan mengurangi risiko zoster berkembang sekitar 70%.

Diet Tidak ada perubahan pola makan tertentu yang dianjurkan.
Batasan Aktifitas Pasien dengan herpes zoster dapat melakukan aktivitas sebagai ditoleransi. Selama fase akut, pasien harus diberikan konseling agar menghindari kontak langsung dengan kulit orang immunocompromised, wanita hamil, dan individu yang tidak memiliki riwayat infeksi cacar air. Jika pasien dirawat di rumah sakit, kontak langkah-langkah isolasi harus dipertimbangkan.

Rujukan Pasien dengan penyakit disebarluaskan atau imunosupresi berat atau yang tidak responsif terhadap terapi harus ditransfer ke tingkat perawatan yang lebih tinggi.

Jika konsultasi diperlukan tapi tidak tersedia di fasilitas awal, pasien harus dipindahkan ke sebuah pusat medis perawatan tersier.

Konsultasi
Konsultasi umumnya tidak diperlukan pada kasus zoster tanpa komplikasi. Konsultasi dengan penyakit menular atau spesialis lain yang tepat harus dipertimbangkan pada kasus zoster diseminata, zoster dengan keterlibatan visceral, atau zoster pada pasien immunocompromised. Pasien yang zoster oftalmik hadir atau tidak dapat dikesampingkan percaya diri biasanya harus dirujuk ke dokter mata.

Pemantauan Jangka Panjang Menindaklanjuti sampai gejala membaik.
Informasikan pasien tentang perkembangan alami dari herpes zoster dan komplikasi potensinya.
Nyeri harus menjadi perhatian utama.
Pasien yang mengalami neuralgia postherpetic harus dilihat secara teratur dan harus menerima dukungan emosional selain terapi medis.

Penanganan Diare kronis pada anak

Diare kronis atau diare berkepanjangan merupakan diare yang berlangsung dalam waktu lebih dari satu atau dua minggu. Penyebab diare kronis sangat banyak namun penyebab tersering pada bayi dan anak adalah alergi, malabsorpsi dan proses infeksi. Penatalaksanaan diare kronis pada prinsipnya harus dikerjakan bersama-sama dengan pemberian nutrisi yang cukup untuk memenuhi atau memelihara pertumbuhan normal. Malnutrisi kalori dan protein harus dihindari sebisa mungkin karena hal tersebut dapat menjadi variable pengganggu yang memperlambat atau menghambatpengembalian ke fungsi usus normal.

DIARE BERKEPANJANGAN (PROLONGED DIARE)

Terjadi kerusakan mukosa usus yang berkepanjangan dengan akibat terjadinya malabsorpsi, peningkatan absorpsi protein asing, berkurangnya hormon enterik serta pertumbuhan kuman yang berlebihan. Terjadinya suatu sindrome post enteritis yang merupakan sebab dan akibat sejumlah faktor yang multi kompleks.

Penyebab  diare berkepanjangan Intoleransi sekunder, Enteropati oleh karena protein makanan, terutama protein susu sapi (CMPSE) dan kedelai, Malnutrisi, Enteropatogen atau Parasit

Gejala Klinik :

Lama diare melewati masa diare akut (5-7 hari) dapat disertai muntah dan kembung.

Penatalaksanaan Diare Berkepanjangan



DIARE KRONIK

Diare kronis dan diare persisten seringkali dianggap suatu kondisi yangsama. Ghishan menyebutkan diare kronis sebagai suatu episode diare lebih dari 2minggu, sedangkan kondisi serupa yang disertai berat badan menurun atau sukarnaik oleh Walker-Smith et al. didefinisikan sebagai diare persisten. Di lain pihak,dasar etiologi diare kronis yang berbeda diungkapkan oleh Bhutta dan oleh The American Gastroenterological Association.

Definisi diare kronis adalah episode diare lebih dari dua minggu, sebagian besar disebabkan diare akutberkepanjangan akibat infeksi, sedangkan definisi menurut The AmericanGastroenterological Association adalah episode diare yang berlangsung lebih dari4 minggu, oleh etiologi non-infeksi serta memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.Bervariasinya definisi ini pada dasarnya disebabkan perbedaan kejadian diarekronis dan persisten di negara berkembang, sedangkan penyebab non-infeksi lebihbanyak didapatkan di negara maju. Demikian juga porsi serta prioritas penelitian

Penyebab yang multi kompleks dari diare kronik menyebabkan patofisiologi yang komplek, saling mempengaruhi dan mungkin memperberat keadaan.

Mekanisme terjadinya diare kronik.

Osmotik karena  Overfeeding, Malabsorpsi karbohidrat atau  Bahan makanan yang tak berserat.
Sekretori karena Infeksi interopatogen atau Interotropik – hormon secreting factor Sedangkan penyebeba mekansme lainnya adalah karena 0vergrowth Bakteria, Malabsorpsi asam empedu dan asam lemak  karena Usus halus terkontaminasi, Reseksi ileum
Abnormalitas absorpsi ion aktive Chloride diarrhea congenital

Kerusakan Mukosa : Enteritis/kolitis infectious, Gastro enteropathy karena alergi, Celiac disease, Inflamatory Bowel Disease

Motilitas Intestinal yang abnormal dan atau berkurangnya permukaan usus yang berfungsi Hypomotility,  Hypermotility,  Short Bowel Syndrome

    Penyebab Diare berkepanjangan atau diare membandel sangat banyak, tetapi yang paling sering adalah diawali dengan terjadi kerusakan mukosa saluran cerna karena infeksi rotavirus pada saluran cerna dan kemudian diperlama dan diperpanjang dengan adanya infeksi sekunder dari luar saluran cerna seperti infeksi saluran napas akut (ISPA), infeksi saluran kencing atau batuk pilek atau alergi dan intoleransi makanan.
Biasanya hal ini terjaid pada anak  dengan riwayat sensitif saluran cerna: saat bayi usia 1- 3 bulan bila

BAB   4-8 kali sehari di atas usia 6 bulan diare 3 kali perhari atau lebih.
Kenali penyebabnya dan hindari pemberian obat berlebihan.
Biasanya sering divonis berlebihan atau overdiagnosis alergi susu sapi, Bukan alergi susu sapi tetapi didiagnosis alergi susu sapi padahal saat sebelumnya minum susu sapi tidak masalah  

Penyebab dan Faktor Resiko
Diare berkepanjangan dapat disebabkan berbagai macam kondisi. Dinegara maju, sebagain besar membahas penyebab non-infeksi, umunya meliputiintoleransi protein susu sapi/kedeai (pada anak usia < 6bulan, tinja sering disertaidengan darah); celiac disease (gluten-sensitive enteropathy), dan cystic fibrosis. Namun, perhatian global seringkali tertuju pada diare berkepanjangan yangbermula dari diare akut akibat infeksi saluran cerna. Diare jenis ini banyak terjadidi negara-negara berkembang.

Infeksi : Ekstraintestinal : sering UTI, Intraintestinal : kuman penyebab khusus, sering : Enteroadherent E.Coli (EAEC), Cryptosporadium, Enteropathogenic E.Coli (EPEC), Salmonella non typus

Faktor penderita : Usia kurang dari 3 bulan, Gizi buruk, Depresi sistem immunologik,  Ensim-ensim yang berkurang
    Faktor-faktor lain : kejadian diare akut yang terdahulu merupikan resiko terjadinya diare kronik.
    Penanganan yang tidak efektif menambah resiko terjadinya diare kronik.

Gejala KIinik
Diare lebih dari dua minggu, disertai gejala intoleransi dan/atau infeksi enteral atau sepsis. Biasanya disertai gangguan gizi.

Penanganan

Penanganan Umum
    Koreksi gangguan cairan & elektrolit bila ada
    terapi Kausa
    Probiotik
    Supportif dan dietetik “
    Vit A 100.000 -200.000 U 1x i.m.
    Vit B-compleks, Vit C.

Gejala Flu babi dengan flu biasa

Setelah berharap cemas sekian lama masyarakat mengikuti informasi cepatnya penyebaran flu babi dari berbagai belahan dunia, akhirnya datang juga kabar buruk itu. Di Indonesia telah hadir penyakit yang paling ditakuti dunia saat ini. Memang kehadiran flu babi di Indonesia sebenarnya hanya menunggu waktu, mengingat tingkat penyebarannya  yang sangat cepat sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memutuskan meningkatkan status flu babi menjadi pandemi. Artinya, penyebaran virus flu jenis H1N1 itu sudah mengancam secara global. Hal ini harus dimaklumi karena sangat pesat dan cepatnya perkembangan transportasi dan perpindahan manusia ke berbagai penjuru dunia. Status pandemi flu babi ini adalah yang kedua dalam 41 tahun terakhir. WHO pernah menetapkan status serupa atas flu Hong Kong pada 1968 yang menewaskan sekitar satu juta manusia. Bandingkan dengan Flu biasa yang  rata-rata membunuh 25-500 ribu orang setiap tahun. Flu babi merupakan penyakit respirasi yang sangat menular pada babi yang disebabkan oleh satu dari beberapa virus influenza A. Flu babi merupakan penyakit respirasi dari babi yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan mempunyai dampak ekonomi luas pada industri babi di Amerika Serikat. Wabah flu pada babi sering terjadi, khususnya selama musim dingin. Angka kesakitan dari flu babi sangat tinggi. Manusia umumnya tidak dapat terkena flu babi, namun infeksi pada manusia dapat terjadi. Umumnya, kasus flu babi pada manusia terjadi pada seseorang yang hidup di sekitar babi, namun virus flu babi dimungkinkan untuk menyebar dari manusia ke manusia.

Penyebab Flu babi adalah influenza yang disebabkan oleh berbagai tipe virus influenza yang endemis pada babi. Strain endemik pada babi tersebut disebut swine influenza virus (SIV). Dari tiga genus Orthomyxoviridae yang endemik pada manusia, dua diantaranya juga endemik pada babi, Influenzavirus A (umum terjadi) atau influenzavirus C (jarang terjadi). Influenzavirus B tidak pernah dilaporkan pada babi. Pada influenzavirus A dan influenzavirus C, strain endemik pada babi dan manusia sangat berbeda. Galur virus flu babi yang telah diisolasi sampai saat ini telah digolongkan sebagai I nfluenzavirus C atau subtipe genus Influenzavirus A

Manifestasi klinis Pada manusia, tanda dan gejala flu babi secara umum sama dengan influenza dan penyakit mirip flu. Pada banyak kasus, strain yang menyebabkan wabah flu babi 2009 hanya menyebabkan gejala ringan. Manifestasi flu babi sama dengan influenza musiman. Pasien datang dengan gejala penyakit respirasi akut, termasuk minimal 2 dari gejala berikut :

· Demam, dapat hingga menggigil

· Batuk

· Nyeri tenggorokan

· Sakit kepala

· Rasa lemas dan letih

· Diare dan muntah (mungkin dapat terjadi)

Berdasarkan Center for Disease Control and Prevention (CDC), gejala flu babi pada manusia sama dengan influenza pada umumnya. Gejala meliputi demam, batuk, nyeri tenggorokan, body aches, sakit kepala, menggigil dan lemas/letih. Beberapa pasien juga dilaporkan memiliki gejala diare dan muntah. Karena gejala-gejala ini tidak spesifik untuk flu babi, diagnosis banding dari kemungkinan flu babi tidak hanya dari gejala namun juga kecenderungan tinggi flu babi tersebut berdasarkan riwayat pasien saat ini. Misalnya, wabah flu babi di Amerika Serikat pada 2009, CDC menyarankan pada para dokter untuk menganggap infeksi flu babi sebagai diagnosis banding pasien dengan gejala pada respirasi akut yang pernah kontak dengan seseorang yang menderita flu babi. Diagnosis pasti flu babi memerlukan uji laboratorium melalui sampel dari respirasi (usap hidung dan tenggorokan sederhana).

Angka kejadian dan Penyebaran Penyakit

Pada 5 Februari 1976, tentara di Fort Dix, Amerika Serikat menyatakan dirinya kelelahan dan lemah, kemudian meninggal dunia keesokannya. Dokter menyatakan kematiannya itu disebabkan oleh virus ini sebagaimana yang terjadi pada tahun 1918. Presiden kala itu, Gerald Ford, diminta untuk mengarahkan rakyatnya disuntik dengan vaksin, namun rencana itu dibatalkan. Pada 20 Agustus 2007, virus ini menjangkiti seorang warga di pulau Luzon, Filipina.

Virus babi influenza A pada manusia (H1N1) telah dilaporkan di seluruh dunia. Pada tahun 2009, kasus penyakit mirip influenza pertama kali dilaporkan di Meksiko pada 18 Maret; wabah ini dikonfirmasi sebagai virus babi influenza A. Penelitian dilanjutkan untuk mengklarifikasi penyebaran dan tingkat keparahan dari flu babi di Meksiko. Kasus klinis yang dicurigai dilaporkan di 19 dari 32 negara bagian. Walaupun hanya 18 orang Meksiko yang telah dikonfirmasi secara laboratorium sebagai influenzavirus A / H1N1 (12 diantaranya secara genetic identik dengan influenzavirus A / H1N1 dari California), sekitar 1.600 kasus dan 103 kematian terkena flu babi di Meksiko. Kasus flu babi selanjutnya terjadi di Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris (Skotlandia), dengan kecurigaan kasus di Prancis, Israel, dan Brazil.

Penularan dari flu babi dapat terjadi melalui dua jalur. Jalur pertama melalui kontak dengan babi terinfeksi atau lingkungan terkontaminasi dengan virus flu babi. Jalur kedua melalui kontak dengan seseorang yang terinfeksi dengan virus flu babi. Penularan manusia ke manusia dari flu babi juga telah dilaporkan dan diperkirakan terjadi pada jalur yang sama seperti halnya flu musiman. Influenza diperkirakan menular dari manusia ke manusia melalui batuk atau bersin oleh orang yang terinfeksi.

Seseorang yang bekerja dengan unggas dan babi, khususnya orang-orang dengan paparan yang intensif, memiliki resiko infeksi influenza dari hewan tersebut jika hewan tersebut membawa strain yang juga dapat menginfeksi manusia. SIV dapat bermutasi menjadi bentuk yang dapat menularkan dari manusia ke manusia. Strain yang bertanggung jawab pada wabah flu babi 2009 dipercaya telah terjadi mutasi.

WHO secara resmi menyatakan wabah ini sebagai pandemi pada 11 Juni 2009, namun menekankan bahwa pernyataan ini adalah karena penyebaran global virus ini, bukan karena tingkat bahayanya. WHO menyatakan pandemi ini berdampak tidak terlalu parah di negara-negara yang relatif maju, namun dianjurkan untuk mengantisipasi masalah yang lebih berat saat virus menyebar ke daerah dengan sumber daya terbatas, perawatan kesehatan yang buruk, dan bermasalah medis.  Laju kematian kasus (case fatality rate atau CFR) galur pandemik ini diperkirakan 0,4 % (selang 0,3%-1,5%). Sebenarnya angka tersebut lebih ringan dibandingkan flu buirungb yng mempunyai CFR 60-80%.

Penatalaksanaan

Uji laboratorium telah menemukan bahwa virus babi influenza A (H1N1) rentan terhadap obat antivirus oseltamivir dan zanamivir, dan CDC telah mengeluarkan petunjuk untuk penggunaan dari obat ini untuk mengobati dan menghambat infeksi virus flu babi. Antivirus lain (misal, amantadine, rimantadine) tidak direkomendasikan oleh karena saat ini resistensi pada influenza lainnya telah terjadi pada beberapa tahun lalu.

Terapi suportif dasar (misal, terapi cairan, analgesik, penekan batuk) perlu diberikan. Pengobatan antivirus secara empiris perlu diperhatikan untuk kasus flu babi, baik yang sudah pasti, masih dalam kemungkinan, ataupun kecurigaan terhadap kasus ini. Pengobatan pasien rawat inap dan pasien dengan resiko tinggi untuk komplikasi influenza perlu sebagai prioritas.

Penggunaan antivirus dalam 48 jam sejak onset gejala sangat penting dalam hubungannya dengan efektivitas melawan virus influenza. Pada penelitian mengenai flu musiman, bukti akan manfaat pengobatan lebih baik jika pengobatan dimulai sebelum 48 jam sejak onset penyakit. Walau begitu, beberapa penelitian mengenai pengobatan flu mengindikasikan banyak manfaat, termasuk mengurangi kematian atau durasi rawat inap, bahkan pada pasien yang mendapat pengobatan lebih dari 48 jam setelah onset penyakit. Lama pengobatan yang direkomendasikan adalah selama 5 hari.

Oseltamivir (Tamiflu) dan Zanamivir (Relenza) bekerja dengan menghambat neuraminidase, suatu glikoprotein pada permukaan virus influenza yang merusak reseptor sel terinfeksi untuk hemagglutinin virus. Dengan menghambat neuraminidase virus, pelepasan virus dari sel terinfeksi dan penyebaran virus akan berkurang. Oseltamivir dan Zanamivir merupakan terapi yang efektif untuk influenzavirus A atau B dan diminum dalam 48 jam sejak onset gejala.

Pencegahan

Pencegahan flu babi dikeluarkan Working Group ASEAN for One Health,  dan CDC seperti pencegahan Influenza pada umumnya meliputi peningkatan higiena, sanitasi dan perlikau hidup bersih diri sendiri. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin untuk pencegahan flu babi.Vaksin yang biasa digunakan untuk influenza pada permulaan flu musiman tidak efektif untuk strain virus ini

Perilaku utama yang dapat mencegah penyebaran virus influaenza adalah melakukan Cuci tangan sesering mungkin.  Mencuci tangan dengan sabun dan air beberapa kali dalam sehari. Keringkan tangan setelah dicuci. Jika tidak ada air, Anda mungkin bisa menggunakan bahan pencuci tangan dari alkohol.

Dalam keramaian dan tempat umum sebaiknya hindari bersentuhan mata, hidung atau mulut. Virus influenza sering menyebar ketika seseorang bersentuhan dengan penderita yang terkontaminasi oleh kuman, kemudian bersentuhan dengan mata, hidung atau mulutnya. Hindari berdekatan dengan seseorang yang sedang sakit. Untuk sementara, hindari berjabat tangan, serta ciuman dengan orang di wilayah yang dilaporkan terserang wabah influenza.

Hal penting lainnya adalah sebaiknya tinggallah di rumah  dan hindari pusat-pusat keramaian, jika sedang sakit.  Kesadaran pribadi ini akan membantu mencegah orang lain dari kemungkinan tertular oleh penyakit . Jika sedang sakit, jagalah jarak dengan orang lain untuk melindungi mereka agar tidak ikut terserang sakit. Jika Anda sedang sakit, sebaiknya Anda berpikir ulang untuk melakukan perjalanan dengan pesawat atau alat transportasi lainnya. Jika Anda terpaksa harus terbang ke negara yang terserang flu Babi, kemudian Anda merasa sakit setelah kembali, maka Anda secepatnya harus konsultasi ke dokter.

Sebaiknya gunakan penutup hidung dan mulut ketika berada di tempat keramaian.Gunakan sapu tangan atau tisu ketika Anda sedang batuk atau bersin untuk mencegah penyebaran virus. Jika tidak punya tisu, gunakan lengan baju bagian depan, jangan pakai telapak tangan. Buanglah tisu di tempat sampah. Pencegahan umum yang penting lainnya adalah menerapkan gaya hidup sehat.  Pikirkan ulang untuk melanjutkan merokok, istirahat atau tidur yang cukup, olahraga secara rutin sehingga tubuh bisa aktif, mengelola tingkat stress, meminum air banyak-banyak, memakan makanan bernutrisi.

Dalam keadaan seperti ini sebaiknya melakukan konsultasi dengan dokter jika sakit. Datangi ke pusat layanan kesehatan atau dokter jika ada tanda-tanda gejala Anda sedang sakit, seperti susah bernafas, pikiran sedang kacau, dan muntah-muntah.

CARA MEMBEDAKAN FLUN BABI DAN FLU BIASA
Gejala flu babi pada manusia adalah demam tinggi, mialgia (nyeri otot dan tulang), sakit tenggorokan, batuk dan sesak.

Harus lebih diwaspadai bila terdapat salah gejala tersebut disertai dalam waktu 7-10 hari pernah kontak dengan penderita yang berasal dari daerah endemis seperti mexico atau dilingkungan rumah, tempat kerja atau sekolah terdapat penderita flu babi.

Gejala awal ini biasanya juga didapatkan pada penyakit faringitis (infeksi tenggorokan), tonsilitis (amandel), flu atau infeksi saluran napas akut lainnya.

Tetapi pada beberapa penyakit infeksi saluran napas akut jarang berlanjut menjadi sesak napas. Bila hingga hari ke 7 demam, tidak mengalami sesak napas maka kekawatiran flu babi flu babi yang berat  dapat disingkirkan. Bila dicurigai flu babi ringan atau tanpa komplikasi tidak perlu dirawat, karena 95% flu babi yang ringan tidak diperlukan perawatan

Demam yang terjadi biasanya lebih dari 38oC dan berlangsung sekitar seminggu. Bila demam terjadi lebih dari seminggu biasanya bukan flu babi.

Bagaimana cara untuk menilai seseorang sesak atau tidak ? Pada usia usia bayi di bawah 1 bulan dikatakan sesak bila jumlah gerakan pernapasan meningkat lebih dari 60 kali permenit, usia 1 bulan – 1 tahun lebih 50 kali permenit atau usia >1 tahun lebih 40 kali permenit. Gerakan pernapasan dilihat dari gerakan naik turun dada saat bernapas. Gejala sesak juga dapat dilihat dengan adanya gerakan napas cuping hidung atau kedua cuping hidung bergerak-gerak saat bernapas. Gejala lain yang tampak adalah adanya tarikan otot bantu napas di ujung tulang dada depan, otot di sela iga atau di otot di sekitar perbatasan dada dan perut. Pada sesak yang berat tampak sesorang akan gelisah, kesadaran menurun dan disertai kebiruan pada bibir, ujung tangan dan kaki.

Bila terdapat sesak napas disertai gejala demam, sakit tenggorokan atau batuk kita harus lebih cermat. Kasus seperti ini dalam penatalaksanaan flu babi disebut kasus observasi. Artinya, harus lebih teliti untuk mendapatkan informasi tambahan seperti adanya kontak dengan unggas yang terinfeksi dan pemeriksaan laboratorium pendukung lainnya.

Gejala demam, sakit tenggorokan, batuk dan sesak napas juga didapatkan pada penyakit infeksi saluran napas disertai dengan asma. Penyakit asma biasanya pernah didapatkan adanya riwayat sesak sebelumnya. Pada kasus seperti ini, sesak akan membaik atau berkurang setelah diberikan obat bronkodilator (pelega napas) baik berupa obat minum atau obat hirupan. Pada orang tua kasus seperti ini juga didapatkan pada penyakit infeksi saluran napas akut disertai penyakit jantung dan penyakit kronik paru lainnya.

Serangkaian gejala tersebut juga didapatkan pada penyakit pnemonia (radang paru) karena bakteri, atau virus lainnya. Gejala pnemoni ini mirip karena pada infeksi flu babi  juga dapat terjadi pnemonia. Selain dengan pemeriksaan fisik penderita juga dapat ditunjang dengan pemeriksaan rontgen dada.

Gambaran khas pnemoni adalah adanya gambaran infiltrat atau perselubungan pada ke dua lapang paru. Kita harus mencurigai adanya infeksi flu burung bila disertai 1 atau lebih informasi lain. Diantaranya adalah hasil tes laboratorium positif untuk virus influenza A tanpa mengetahui subtypenya. Kontak 2 minggu sebelum timbul gejala dengan penderita yang dipastikan mengidap flu babi. Atau, kontak 2 minggu sebelum timbul gejala. Bila didapatkan hal tersebut maka disebut kasus probabale (tersangka) infeksi flu babi.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan untuk penunjang diagnosis sangat diperlukan dalam penatalaksanaan penderita. Pemeriksaan laboratorium untuk memastikan adanya infeksi flu babi pada manusia adalah hasil biakan virus positif Influenza A (H1N1) atau hasil dengan pemeriksaan PCR positif untuk influenza H1 . Pemeriksaan lain adalah pemeriksaan serologis dengan peningkatan titer antibodi spesifik H1 sebesar > 4 x atau hasil dengan IFA positif untuk antigen H1. Bila dengan pemeriksaan salah satu tersebut dinyatakan posisitif maka dinyatakan sebagai kasus confirmed atau kasus pasti.

Pemeriksaan serologi lain adalah pemeriksaan laboratorium antibodi spesifik pada 1 spesimen serum tertentu untuk virus influenza A (H1). Tetapi pemeriksaan ini masih belum terlalu sensitif. Bila hasilnya positif masih dianggap kategori kasus probable (diduga).

Pemeriksaan laboratorium lainnya bukan untuk memastikan adanya infeksi flu babi. Tetapi hanya sebatas untuk membantu menilai prognosis, menentukan jenis tindakan serta untuk menyingkirkan diagnosa banding penyakit lainya. Pemeriksaan rutin tersebut adalah pemeriksaan darah lengkap ( hemoglobin, hitung lekosit, hitung jenis lekosit, trombosit, laju endap darah), albumin, globulin, SGOT/SGPT, ureum, kreatinin, kreatin kinase dan analisa gas darah. Pemeriksaan mikrobiologi yang diperlukan adalah pemeriksaan gram dan basil tahan asam atau kultur sputum dan usap tenggorokan.

Pemeriksaan skrening cepat dengan hapusan cairan hidung dan swab tenggorok hanya bisa dilakukan untuk melihat virus tipe A

Dalam derasnya arus globalisasi informasi di dunia internasional sebaiknya ikuti perkembangan informasi dari otoritas kesehatan local dan internasional. Masyarakat  perlu tetap mengikuti perkembangan situasi terkini dari wabah influenza dan saran-saran yang disampaikan oleh otoritas kesehatan local dan internasional.

Semoga cobaan bagi masyarakat dunia ini dapat dilewati umat manusia dengan korban seminimal mungkin. Tampaknya masyarakat Indonesia tidak bisa menghindari ancaman petaka ini,Tetapi  tidak harus dengan sikap kepanikan tetapi dengan kewaspadaan yang tinggi dalam pencegahan penyakit maka diharapkan masyarakat Indonesia dapat meminimalkan ancaman virus yang ganas dan cepat ini.

- Copyright © Regina Theyser - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -