Anak keempat David Beckham
Cerita Rakyat Sulteng Sesentola dan Burung Garuda
Sesentola adalah seorang lelaki muda yang mempunyai nafsu makan yang sangat besar. Oleh karena orangtuanya tidak mampu lagi menghidupinya, Sesentola pun pergi dari kampungnya. Namun, negeri yang ditujunya ternyata sedang tertimpa musibah. Penduduk negeri itu hanya tinggal satu orang, yang lainnya telah mati akibat diserang oleh garuda raksasa. Apa yang akan dilakukan selanjutnya? Simak kisahnya dalam cerita Sesentola dan Burung Garuda berikut ini!Dahulu, di daerah Sulawesi Tengah, hiduplah sepasang suami istri. Sudah puluhan tahun mereka menikah namun belum juga dikaruniai seorang anak. Meskipun demikian, mereka tidak pernah berputus asa. Setiap malam mereka berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai anak, walau bagaimana pun keadaannya. Hingga pada suatu ketika, sang istri pun hamil.
“Terima kasih, Tuhan. Engkau telah mengabulkan doa kami. Jika anak itu telah lahir, hamba berjanji akan merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang,” ucap sang suami.
Beberapa bulan kemudian, sang istri pun melahirkan seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Sesentola. Sejak dilahirkan, terlihat ada tanda-tanda keajaiban pada diri anak itu. Ia amat kuat minum susu. Terkadang, ia menangis karena merasa kurang kenyang. Sang ibu pun mulai kebingungan melihat keadaan anaknya.
“Pak, anak kita masih lapar padahal air susuku sudah habis. Apa yang harus kita lakukan?” tanya sang istri bingung.
“Sebaiknya kita beri tambahan makanan saja,” ujar suaminya.
“Tapi bukankah bisa membahayakan pencernaannya jika anak kita yang masih bayi ini diberi makanan orang dewasa?” tanya sang istri.
“Kita harus bagaimana lagi, Bu? Jika tidak diberi makanan tambahan, ia pasti akan menangis terus,” ujar sang suami.
Suami-istri itu pun memutuskan untuk memberi nasi bubur kepada anak mereka. Rupanya, sepiring nasi bubur tidak cukup mengenyangkan Sesentola. Sekali makan, Sesentola yang masih bayi itu bisa menghabiskan 2-3 piring nasi. Demikian seterusnya, semakin hari ia semakin kuat makan. Namun, di balik itu, Sesentola memiliki kekuatan luar biasa yang tidak diketahui oleh orangtuanya.
Beberapa tahun kemudian, Sesentola tumbuh menjadi remaja. Kebiasaan makan banyak pun semakin meningkat. Sekali makan ia bisa menghabiskan satu bakul nasi. Hal itulah yang membuat sang bapak mulai kesal karena merasa sudah tidak mampu lagi memberi makan anaknya.
“Bu, aku sudah tidak kuat lagi dengan keadaan ini. Anak kita semakin banyak makannya. Lama-lama kita sendiri bisa mati kelaparan,” keluh sang suami.
Sampai suatu ketika, sang ayah benar-benar sudah kuat lagi menghadapi keadaan tersebut. Ia pun berniat untuk melenyapkan nyawa anak kandungnya sendiri. Sang istri pun tidak dapat berbuat apa-apa dengan keputusan suaminya.
Suatu hari, sang ayah mengajak Sesentola untuk menjala ikan di sungai yang banyak buayanya. Sesentola pun menuruti ajakan ayahnya. Setiba di sungai, sang bapak segera melemparkan jalannya ke tengah sungai. Setelah itu, ia memerintahkan Sesentola untuk mengambil jala tersebut.
“Sesentola, cepat ambil jala itu! Pasti sudah banyak ikan yang tertangkap di dalamnya!” perintah sang bapak.
“Baik, Pak,” jawab Sesentola.
Begitu Sesentola menyelam ke dasar sungai untuk mengangkat jala itu, sang bapak cepat-cepat meninggalkannya. Ia mengira anaknya itu pasti sudah mati dimakan buaya. Sesampai di rumah, ia pun menceritakan hal itu kepada istrinya.
“Bu, Sesentola pasti sudah mati dimakan buaya. Kita tidak akan kelaparan lagi,” kata sang suami.
Baru saja sang suami berkata demikian, tiba-tiba terdengar teriakan dari depan rumah.
“Bapak, aku pulang! Lihatlah yang aku bawa ini!”
Pasangan suami-istri itu tersentak kaget.
“Pak, bukankah itu suara anak kita, Sesentalo?” tanya sang istri.
Dengan perasaan cemas, sang suami segera keluar. Betapa terkejutnya karena ia mendapati Sesentola sedang memanggul seekor buaya besar.
“Lihat, Pak! Aku berhasil menangkap seekor buaya besar,” kata Sesentola.
Sang bapak pun terdiam, tidak percaya dengan apa yang saksikannya. Untung ia cepat tersadar sehingga niat jahatnya tidak diketahui oleh Sesentola. Karena rencananya gagal, ia segera mencari cara lain untuk melenyapkan nyawa anaknya. Ia teringat pada pohon beringin besar di tepi sungai. Maka, pada keesokan harinya ia pun mengajak Sesentola untuk pergi menebang pohon beringin itu.
“Sesentola, ayo bantu Bapak menebang pohon beringin yang ada di tepi sungai itu,” ajak sang bapak.
“Baik, Pak,” jawab Sesentola.
Bapak dan anak itu pun berangkat ke tepi sungai. Sang bapak sengaja mengarahkan rebahnya pohon itu ke tempat Sesentola berdiri. Begitu pohon beringin itu roboh, tak ayal tubuh Sesentola pun tertimpa pohon.
“Aduuhhh…!” jerit Sesentola.
Setelah itu, Sesentola tidak lagi bersuara. Sang bapak pun mengira anaknya telah mati. Maka, cepat-cepatlah ia kembali ke rumahnya dan menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Namun, tiba-tiba terdengar suara Sesentola.
“Bapak, aku pulang!” teriak Sesentola di depan rumah.
Alangkah terkejutnya sang bapak saat melihat anaknya sedang memikul pohon beringin yang ditebangnya tadi. Ia semakin tidak percaya melihat kekuatan anaknya itu. Sang istri langsung meneteskan air mata. Ia merasa kasihan melihat nasib anak semata wayangnya itu atas perlakuan sang suami terhadapnya.
Sementara itu, Sesentola yang telah menyadari niat jahat sang bapak mulai kesal. Meski demikian, ia tidak ingin melawan bapaknya. Ia merasa bahwa lebih baik pergi daripada terus membebani kedua orangtuanya.
“Jika Bapak dan Ibu sudah tidak mampu lagi menghidupiku, lebih baik aku pergi saja. Aku akan mencari penghidupan sendiri,” kata Sesentola.
“Baiklah, Anakku. Bawalah benda pusaka ini,” ujar sang ibu seraya menyerahkan panah bermata tiga dan cincin pusaka.
“Ingatlah, saat kamu hendak menggunakan panah ini harus disertai menyebut bagian tubuh musuh yang hendak kamu bidik. Jika kamu menyebut mata, anak panah itu akan mengenai mata musuhmu. Kalau engkau sakit, rendamlah cincin ini ke dalam air. Kemudian teteskanlah air itu di bagian tubuhmu yang sakit, niscaya kamu akan sembuh,” jelas ibu Sesentola.
“Terima kasih, Bu. Jagalah diri kalian baik-baik,” kata Sesentola.
Usai berpamitan kepada ibu dan bapaknya, Sesentola pun pergi meninggalkan kampung halamannya. Ia berjalan tanpa tentu arah hingga akhirnya sampai di sebuah ibukota kerajaan. Namun anehnya, kota itu seperti tidak berpenghuni.
“Hai, kenapa kota ini sepi sekali? Pergi ke mana penduduknya?” gumam Sesentola dengan heran.
Setelah Sesentola mengelilingi kota itu, tampaklah sebuah rumah megah. Ia berpikir bahwa rumah itu pastilah istana raja. Dengan langkah perlahan-lahan, Sesentola memasuki istana itu. Namun, tak seorang pun yang terlihat. Hanya ada sebuah gendang rasasa di dalamnya. Karena penasaran, Sesentola pun berniat memukul gendang itu. Begitu ia hendak memukulnya, tiba-tiba ada suara wanita yang menegurnya.
“Hai, jangan kamu pukul gendang ini! Aku ada di dalamnya,” seru suara itu, “Ayo cepat sembunyi!”
Sesentola pun menuruti seruan itu. Begitu masuk ke dalam gendang itu, ia mendapati seorang gadis cantik.
“Hai, siapa kamu dan kenapa bersembunyi di sini?” tanya Sesentola heran.
“Sssstt…! Jangan keras-keras, nanti garuda itu datang menyerang lagi,” ujar perempuan itu.
“Garuda apa maksudmu?” tanya Sesentola bertanya dengan pelan.
“Namaku Lemontonda. Tinggal akulah satu-satunya yang masih hidup di negeri ini. Penduduk lainnya telah mati diserang burung garuda yang sangat ganas,” ungkap Lemontonda.
Mendengar cerita itu, Sesentola pun berniat untuk membinasakan garuda itu.
“Jangan takut, Lemontonda! Aku akan memberi pelajaran garuda itu,” ujar Sesentola.
“Jangan! Garuda itu sangat sakti. Lagipula ia tidak sendiri, dan masih ada Raja Garuda bernama Vandebulava yang lebih sakti,” kata Lemontonda.
“Tenang saja. Aku akan menghadapi mereka dengan senjata pusakaku ini,” kata Sesentola sambil menunjukkan senjatanya.
Beberapa saat kemudian, seekor garuda datang dan terbang berkeliling di atas istana. Garuda itu mengetahui keberadaan Sesentola dan gadis itu. Dengan gagah berani, Sesentola segera keluar lalu membidik mata garuda itu dengan panahnya. Begitu terlepas dari busurnya, anak panah itu melesat dengan cepat dan tepat mengenai mata garuda itu hingga tembus. Garuda itu pun jatuh dan tewas seketika.
Mengetahui kabar tersebut, Raja Garuda menjadi murka. Ia segera memerintahkan seekor garuda bernama Vandease untuk menangkap Sesentola.
“Tangkap dan bawa anak muda itu ke mari! Jika tidak mau, habisi saja dia!” seru Raja Garuda.
“Baik, Tuan!” jawab Vandease.
Vandease pun menemukan Sesentola dan memintanya untuk menyerahkan diri, namun pemuda sakti itu tidak mau. Sesentola kemudian menarik busurnya lalu membidik kening garuda itu. Anak panah pun melesat dan tepat mengenai kening garuda itu hingga tewas seketika. Melihat hal itu, Lemontonda berpesan kepada Sesentola.
“Berhati-hatilah, Sesentola! Raja Garuda itu sebentar lagi datang. Ia sangat sakti,” ujar Lemontonda.
“Baiklah, tolong siapkan segelas air untuk merendam cincin ini!” pinta Sesentola seraya menyerahkan cincinnya kepada Lemontonda, “Jika aku pingsan, tolong teteskan air ini ke mataku.”
Tak berapa lama kemudian, Vandebulava pun datang. Sesentola segera membidik leher garuda itu. Anak panahnya kemudian melesat menembus leher Raja Garuda. Karena kesaktiannya, sebelum jatuh, Raja Garuda sempat menyambar Sesentola hingga pingsan.
Melihat Sesentola pingsan, Lemontonda segera meneteskan air rendaman cincin pusaka ke mata pemuda itu. Beberapa saat kemudian, Sesentola pun siuman. Dengan tewasnya Raja Garuda, negeri itu kembali aman. Sesentola pun mengajak Lemontonda untuk menikah. Gadis itu bersedia tapi dengan satu syarat.
“Aku bersedia menikah asalkan kamu mampu menghidupkan kembali orangtuaku dan seluruh rakyat negeri ini,” pinta Lemotonda.
Sesentola pun menyanggupi syarat itu. Konon, dengan kesaktiannya, Sesentola berhasil menghidupkan kembali seluruh penduduk negeri itu. Ia pun menikah dengan Lemontonda dan diangkat menjadi raja di negeri itu. Selanjutnya, Sesentola memboyong orangtuanya ke istana. Mereka pun hidup berbahagia.
Cerita Ra,kyat Sambas Semangka Emas

SEMANGKA EMAS
Pada zaman dahulu kala, di Sambas hiduplah seorang saudagar yang kaya raya. Saudagar tersebut mempunyai dua orang anak laki-laki. Anaknya yang sulung bernama Muzakir, dan yang bungsu bernama Dermawan. Muzakir sangat loba dan kikir. Setiap hari kerjanya hanya mengumpulkan uang saja. Ia tidak perduli kepada orang-orang miskin. Sebaliknya Dermawan sangat berbeda tingkah lakunya. Ia tidak rakus dengan uang dan selalu bersedekah kepada fakir miskin.
Sebelum meninggal, saudagar tersebut membagi hartanya sama rata kepada kedua anaknya. Maksudnya agar anak-anaknya tidak berbantah dan saling iri, terutama bila ia telah meninggal kelak.
Muzakir langsung membeli peti besi. Uang bagiannya dimasukkan ke dalam peti tersebut, lalu dikuncinya. Bila ada orang miskin datang, bukannnya ia memberi sedekah, melainkan ia tertawa terbahak-bahak melihat orang miskin yang pincang, buta dan lumpuh itu. Bila orang miskin itu tidak mau pergi dari rumahnya, Muzakir memanggil orang gajiannya untuk mengusirnya. Orang-orang miskin kemudian berduyun-duyun datang ke rumah Dermawan.
Dermawan selalu menyambut orang-orang miskin dengan senang hati. Mereka dijamunya makan dan diberi uang karena ia merasa iba melihat orang miskin dan melarat. Lama kelamaan uang Dermawan habis dan ia tidak sanggup lagi membiayai rumahnya yang besar. Ia pun pindah ke rumah yang lebih kecil dan harus bekerja. Gajinya tidak seberapa, sekedar cukup makan saja. Tetapi ia sudah merasa senang dengan hidupnya yang demikian. Muzakir tertawa terbahak-bahak mendengar berita Dermawan yang dianggapnya bodoh itu. Muzakir telah membeli rumah yang lebih bagus dan kebun kelapa yang luas. Tetapi Dermawan tidak menghiraukan tingkah laku abangnya.
Suatu hari Dermawan duduk-duduk melepaskan lelah di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit di hadapannya. Burung itu mencicit-cicit kesakitan "Kasihan," kata Dermawan. "Sayapmu patah, ya?" lanjut Dermawan seolah-olah ia berbicara dengan burung pipit itu. Ditangkapnya burung tersebut, lalau diperiksanya sayapnya. Benar saja, sayap burung itu patah. "Biar kucoba mengobatimu," katanya. Setelah diobatinya lalu sayap burung itu dibalutnya perlahan-lahan. Kemudian diambilnya beras. Burung pipit itu diberinya makan.
Burung itu menjadi jinak dan tidak takut kepadanya. Beberapa hari kemudian, burung itu telah dapat mengibas-ngibaskan sayapnya, dan sesaat kemudian ia pun terbang. Keesokan harinya ia kembali mengunjungi Dermawan. Di paruhnya ada sebutir biji, dan biji itu diletakkannya di depan Dermawan. Dermawan tertawa melihatnya. Biji itu biji biasa saja. Meskipun demikian, senang juga hatinya menerima pemberian burung itu. Biji itu ditanam di belakang rumahnya.
Tiga hari kemudian tumbuhlah biji itu. Yang tumbuh adalah pohon semangka. Tumbuhan itu dipeliharanya baik-baik sehingga tumbuh dengan subur. Pada mulanya Dermawan menyangka akan banyak buahnya. Tentulah ia akan kenyang makan buah semangka dan selebihnya akan ia sedekahkan. Tetapi aneh, meskipun bunganya banyak, yang menjadi buah hanya satu. Ukuran semangka ini luar biasa besarnya, jauh lebih dari semangka umumnya. Sedap kelihatannya dan harum pula baunya. Setelah masak, Dermawan memetik buah semangka itu. Amboi, bukan main beratnya. Ia terengah-engah mengangkatnya dengan kedua belah tangannya. Setelah diletakkannya di atas meja, lalu diambilnya pisau. Ia membelah semangka itu. Setelah semangka terbelah, betapa kagetnya Dermawan. Isi semangka itu berupa pasir kuning yang bertumpuk di atas meja. Ketika diperhatikannya sungguh-sungguh, nyatalah bahwa pasir itu adalah emas urai murni. Dermawan pun menari-nari karena girangnya. Ia mendengar burung mencicit di luar, terlihat burung pipit yang pernah ditolongnya hinggap di sebuah tonggak. "Terima kasih! Terima kasih!" seru Dermawan. Burung itu pun kemudian terbang tanpa kembali lagi.
Keesokan harinya Dermawan memberli rumah yang bagus dengan pekarangan yang luas sekali. Semua orang miskin yang datang ke rumahnya diberinya makan. Tetapi Dermawan tidak akan jatuh miskin seperti dahulu, karena uangnya amat banyak dan hasil kebunnya melimpah ruah. Rupanya hal ini membuat Muzakir iri hati. Muzakir yang ingin mengetahui rahasia adiknya lalu pergi ke rumah Dermawan. Di sana Dermawan menceritakan secara jujur kepadanya tentang kisahnya.
Mengetahui hal tersebut, MUzakir langsung memerintahkan orang-orang gajiannya mencari burung yang patah kaki atau patah sayapnya di mana-mana. Namun sampai satu minggu lamanya, seekor burung yang demikian pun tak ditemukan. MUzakir sungguh marah dan tidak dapat tidur. Keesokan paginya, Muzakir mendapat akal. Diperintahkannya seorang gajiannya untuk menangkap burung dengan apitan. Tentu saja sayap burung itu menjadi patah. Muzakir kemudian berpura-pura kasihan melihatnya dan membalut luka pada sayap burung. Setelah beberapa hari, burung itu pun sembuh dan dilepaskan terbang. Burung itu pun kembali kepada Muzakir untuk memberikan sebutir biji. Muzakir sungguh gembira.
Biji pemberian burung ditanam Muzakir di tempat yang terbaik di kebunnya. Tumbuh pula pohon semangka yang subur dan berdaun rimbun. Buahnya pun hanya satu, ukurannya lebih besar dari semangka Dermawan. Ketika dipanen, dua orang gajian Muzakir dengan susah payah membawanya ke dalam rumah karena beratnya. Muzakir mengambil parang. Ia sendiri yang akan membelah semangka itu. Baru saja semangka itu terpotong, menyemburlah dari dalam buah itu lumpur hitam bercampur kotoran ke muka Muzakir. Baunya busuk seperti bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani di ruangan itu tidak luput dari siraman lumpur dan kotoran yang seperti bubur itu. Muzakir berlari ke jalan raya sambil menjerit-jerit. Orang yang melihatnya dan mencium bau yang busuk itu tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dengan riuhnya.
Cerita Rakyat Tolotoli legenda Batu Bagga
Tolitoli adalah salah satu nama kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Di kabupaten yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah berkualitas ini terdapat sebuah batu yang melegenda di kalangan masyarakat setempat. Konon, batu tersebut merupakan jelmaan sebuah perahu bagga (perahu layar), sehingga disebut batu bagga. Peristiwa apakah yang telah menyebabkan perahu bagga itu menjelma menjadi batu? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Legenda Batu Bagga berikut ini.Konon, di sebuah kampung di daerah pesisir Sulawesi Tengah, Indonesia, hiduplah seorang duda bernama Intobu. Ia tinggal di sebuah gubuk bersama seorang putranya yang bernama Impalak. Mereka hidup sangat miskin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka pergi ke laut untuk mencari ikan.
Pada suatu malam, ketika Intobu bersama anaknya hendak mencari ikan di laut, tiba-tiba angin bertiup kencang dan hujan deras. Meskipun demikian, dua orang bapak dan anak itu tetap memutuskan untuk melaut. Dalam perjalanan menuju ke laut, Intobu menasehati Impalak.
‘Anakku! Ayah berharap jangan sampai cuaca buruk seperti ini membuatmu patah semangat untuk pergi melaut, karena hanya pekerjaan inilah yang menjadi tumpuan hidup kita.”
“Iya, Ayah! Saya mengerti,” jawab Impalak sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Sesampai di pantai, mereka segera menaiki sampan yang ditambatkan di tepi pantai. Dengan sekuat tenaga mereka mendayung sampan menyusuri pantai. Mereka tidak berani sampai ke tengah laut, karena cuaca sangat buruk. Mereka hanya memancing ikan di sekitar pantai. Tidak terasa, malam semakin larut. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke gubuk.
Setiba di gubuk, beberapa ekor ikan hasil tangkapannya digoreng untuk lauk dan selebihnya mereka jual pada keesokan harinya. Ikan-ikan tersebut mereka jajakan dari rumah ke rumah sampai habis terjual. Setelah semuanya laku terjual, uang hasil penjualan itu mereka belanjakan untuk membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya. Begitulah pekerjaan mereka setiap hari yang sudah bertahun-tahun jalani.
Rupanya pekerjaan itu membuat Impalak menjadi jenuh. Ia ingin pergi merantau ke negeri lain untuk merubah nasib. Sejak itu, ia selalu murung dan merenung. Ia tidak berani menyampaikan keinginan itu kepada ayahnya. Selain itu, ia juga belum tega meninggalkan ayahnya seorang diri. Meskipun tekadnya ingin pergi merantau begitu kuat, ia tetap berusaha memendamnya dalam hati.
Pada suatu hari, ayahnya sedang sibuk memperbaiki tali kailnya yang putus. Sementara, Impalak yang duduk di sampingnya hanya duduk termenung.
“Hei, Impalak! Kenapa wajahmu murung seperti itu? Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?” tanya Intobu kepada anaknya.
“Tidak apa-apa, Ayah!” jawab Impalak dengan nada lemah.
“Bicaralah, Nak! Tidak usah kamu pendam dalam hati!” desak ayahnya.
Oleh karena terus didesak, akhirnya Impalak berterus terang kepada ayahnya.
“Maafkan saya, Ayah! Sebenarnya saya sudah jenuh menjadi nelayan. Walaupun setiap hari kita ke laut, tapi hasil yang kita peroleh hanya cukup untuk dimakan,” keluh Impalak kepada ayahnya.
“Jika Ayah mengizinkan, Impalak ingin pergi merantau ke negeri lain untuk mengubah nasib kita,” sambung Impalak.
Intobu terkejut mendengar permintaan anak semata wayangnya itu.
“Bagaimana dengan nasib Ayahmu ini, Nak? Umur Ayah sudah semakin tua. Jika kamu pergi, tidak ada lagi yang membantu Ayah untuk mendayung sampan,” kata Intobu mengiba kepada anaknya.
“Saya mengerti, Ayah! Tapi, saya sekarang sudah dewasa. Sudah saatnya saya membahagiakan Ayah. Jika Ayah pergi melaut, sebaiknya tidak perlu pergi jauh-jauh. Biarlah saya yang bekerja keras mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan kita dan demi masa depan saya,” jelas Impalak meyakinkan ayahnya.
Mendengar penjelasan anaknya itu, Intobu terdiam sejenak. Ia berpikir bahwa apa yang dikatakan anaknya itu memang benar. Jika hanya menjadi nelayan, kehidupan anaknya di masa depan tidak akan makmur.
“Baiklah, Nak! Meskipun dengan berat hati, Ayah mengizinkanmu pergi merantau. Tetapi, kamu jangan lupakan Ayah dan cepatlah kembali! Ayah khawatir tidak akan bertemu kamu lagi, apalagi umur Ayah sudah semakin tua,” kata Intobu dengan perasaan cemas.
“Baik, Ayah! Saya akan selalu mengingat pesan Ayah,” jawab Impalak dengan perasaan gembira.
Setelah mendapat izin dari ayahnya, Impalak segera ke pelabuhan untuk melihat apakah ada perahu bagga yang sedang berlabuh. Sesampai di pelabuhan, tampaklah sebuah perahu bagga sedang menurunkan muatan. Perahu itulah yang rencananya akan ditumpangi Impalak pergi merantau. Ia pun segera menemui pemilik perahu bagga itu.
“Permisi, Tuan! Bolehkah saya ikut berlayar bersama Tuan?” tanya Impalak tanpa rasa segan.
“Hei, Anak Muda! Kamu siapa dan kenapa hendak ikut berlayar bersamaku?” tanya pemilik perahu.
“Saya Impalak, Tuan! Saya ingin pergi merantau untuk mengubah nasib keluarga saya,” jawab Impalak.
“Memang apa pekerjaannya orang tuamu?” tanya pemilik perahu.
“Ayah saya seorang nelayan biasa, sedangkan ibu saya sudah meninggal saat saya masih kecil. Setiap hari saya membantu ayah memancing ikan di laut. Akan tetapi, hasilnya hanya cukup untuk di makan sehari-hari. Makanya saya ingin pergi merantau untuk mencari nafkah yang lebih baik,” jelas Impalak.
Mendengar penjelasan itu, pemilik perahu itu pun tersentuh hatinya ingin menolong Impalak dan bersedia membawanya ikut berlayar.
“Kamu memang anak yang berbakti, Impalak! Besok pagi kita akan berlayar bersama. Tapi, apakah kamu sudah meminta izin kepada ayahmu?” tanya pemilik perahu.
“Saya sudah mendapat izin dari ayah saya, Tuan!” jawab Impalak.
“Baiklah, kalau begitu! Saya tunggu kamu besok pagi,” kata pemilik perahu itu.
“Terima kasih, Tuan!” ucap Impalak seraya berpamitan pulang.
Sesampai di gubuk, Impalak segera menyampaikan berita gembira itu kepada Ayahnya.
“Ayah, saya sudah menghadap kepada pemilik perahu bagga. Dia bersedia mengajak saya berlayar bersamanya,” lapor Impalak kepada ayahnya dengan perasaan gembira.
“Ya, syukurlah kalau begitu, Nak! Nanti malam siapkanlah segala keperluan yang akan kamu bawa!” seru ayahnya sambil tersenyum pilu.
Keesokan paginya, Impalak sudah siap untuk berangkat. Ia diantar oleh ayahnya ke pelabuhan. Sesampai di pelabuhan, perahu bagga yang akan ditumpangi tidak lama lagi akan berangkat. Tampak si pemilik perahu berdiri di atas anjungan berteriak memanggil Impalak.
“Impalak...! Ayo cepat...! Perahunya sebentar lagi berangkat...”
“Baik, Tuan!” jawab Impalak seraya berpamitan kepada ayahnya.
“Ayah! Saya harus berangkat sekarang, jaga diri Ayah baik-baik!”
“Iya, Nak! Jangan lupakan Ayah, Nak!”
“Baik, Ayah! Saya akan selalu ingat pesan Ayah,” kata Impalak sambil mencium tangan ayahnya.
Suasana haru pun menyelimuti hati ayah dan anak itu. Tidak terasa, Impalak meneteskan air mata. Demikian pula sang Ayah, air matanya berlinang tidak kuat menahan rasa haru.
“Impalak...! Ayo kita berangkat!” terdengar lagi teriakan pemilik perahu memanggil Impalak.
“Ayah, saya berangkat dulu,” jawab Impalak kemudian bergegas menuju ke perahu bagga.
“Kalau sudah berhasil cepat pulang ya, Nak!” teriak sang Ayah sambil melayangkan pandangannya ke arah Impalak yang sedang berlari menuju ke perahu bagga.
Tidak berapa lama, Impalak sudah tampak berdiri di anjungan bersama pemilik perahu sambil melambaikan tangan. Sang Ayah pun membalas lambaian tangan anaknya sambil meneteskan air mata. Beberapa saat kemudian, berangkatlah perahu bagga itu. Setelah perahu bagga menghilang dari pandangannya, Intobu pun bergegas pulang ke gubuknya. Sejak kepergian anaknya, Intobu menjalani hari-harinya seorang diri sebagai nelayan.
Tidak terasa, sudah beberapa tahun Impalak merantau di negeri orang. Namun, ia tidak pernah memberi kabar kepada ayahnya. Hal itulah yang membuat ayahnya selalu gelisah menanti kedatangannya. Setiap ada perahu bagga yang berlabuh di pelabuhan, sang Ayah selalu berharap anak kesayangannya datang membawa rezeki, namun harapan itu tidak pernah terwujud.
Pada suatu hari, ayah Impalak mencari ikan di sekitar pelabuhan dengan menggunakan sampan. Tiba-tiba dari kejauhan, ia melihat sebuah perahu bagga hendak berlabuh di pelabuhan.
“Kenapa jantungku berdebar-debar begini? Jangan-jangan anakku ada di perahu bagga itu? Ah, tidak mungkin. Impalak benar-benar sudah melupakan aku,” ucap ayah Impalak berusaha menepis pikiran-pikiran itu.
Semakin lama perahu bagga itu semakin dekat dan semakin tampak jelas. Jantung ayah Impalak pun berdetak semakin kencang. Ketika perahu bagga itu melintas tidak jauh dari tempatnya memancing ikan, tiba-tiba ia melihat soeorang pemuda gagah bersama seorang wanita cantik berdiri di haluan perahu bagga. Keduanya adalah Impalak dan istrinya. Ternyata, selama berada di rantauan Impalak berhasil menjadi orang kaya dan beristri wanita cantik.
Oleh karena yakin bahwa pemuda itu adalah anaknya, tiba-tiba sang Ayah berteriak.
“Impalaaak....Anakku! Ini aku ayahmu!”
Impalak tahu bahwa lelaki tua yang memanggilnya itu adalah ayahnya. Namun karena malu kepada istrinya, ia berpura-pura tidak mendengar teriakan itu.
“Bang! Sepertinya orang itu memanggil nama Abang. Apakah dia itu ayah Abang?” tanya istrinya setelah mendengar teriakan lelaki tua itu.
“Bukan! Abang tidak mempunyai ayah sejelek lelaki tua itu,” jawab Impalak dengan kesal sambil memalingkan wajahnya.
“Tapi, bukankah orang tua itu mengaku kalau Abang adalah anaknya?” tanya istri Impalak.
“Dia itu hanya mengada-ada,” jawab Impalak dengan ketus.
“Sudahlah, Dik! Tidak usah hiraukan orang gila itu!” tambah Impalak.
Mendengar ucapan itu, istri Impalak pun langsung diam. Ia tidak ingin bertanya lagi tentang lelaki tua itu. Ia berpikir, barangkali suaminya benar bahwa lelaki tua itu adalah orang gila yang mengaku sebagai ayah dari suaminya.
Sementara ayah Impalak dengan sekuat tenaga terus mendayung sampannya mengejar perahu bagga yang ditumpangi Impalak. Ketika akan sampai di pelabuhan, tiba-tiba angin bertiup kencang. Sampan yang ditumpangi ayah Impalak terombang-ambing oleh gelombang besar. Ayah Impalak tidak sanggup lagi mengendalikan sampannya.
“Toloonng... ! Tolooong... aku Impalak!” teriak ayah Impalak meminta tolong.
Namun, malang nasibnya bagi lelaki tua itu. Impalak yang berada di atas perahu bagga itu justru tertawa terbahak-bahak melihatnya diombang-ambing gelombang laut.
“Ha..ha..ha...!!! Rasakanlah itu orang gila!”
Walaupun ayah Impalak berkali-kali berteriak meminta tolong, Impalak tetap tidak memperdulikannya. Perahu yang ditumpangi Impalak justru semakin menjauhinya. Hati lelaki tua itu hancur karena diabaikan oleh anak kandungnya sendiri. Ia sudah tidak tahan lagi melihat perilaku anaknya yang sudah tidak menaruh belas kasihan lagi kepadanya. Dengan mengangkat kedua tangannya, lelaki tua itu berdoa kepada Tuhan.
“Ya Tuhan! Hukumlah anak Hamba yang durhaka itu! Kutuklah perahu bagga yang ditumpanginya itu menjadi batu!”
Beberapa saat kemudian, angin bertiup dengan kencang, ombak laut bergulung-gulung menghantam perahu Impalak sehingga terdampar di pantai. Seketika itu pula, perahu bagga dan Impalak menjelma menjadi batu. Oleh masyarakat setempat batu itu kemudian diberi nama Batu Bagga.
Panorama Makanan









Carl Warner, fotografer Inggris, dilahirkan tahun 1963, menciptakan bentuk fotografi panorama yang khas. Semua warna dan bentuk yang ditampilkan dalam gambar terbuat dari sayur dan buah. Bentuk seni ini diberi nama "Foodscapes". Semua karya dibuat dalam studio Carl di London.
Balon gas panas sayuran dan buah: balon gas panas yang terbuat dari pelbagai sayuran dan buah turun dari langit, ada mangga, apel, lemon, strawberi, pisang, pir dan bawang putih. Selain itu, ada pohon terbuat dari brokoli dan batu dari kentang, tampak pula ladang jagung, kebun mentimun, kota dari keju dan benteng dari wortel, suatu kreasi yang betul-betul mengagumkan.
Kata Carl Warner, awalnya ia hanya ingin "mengelabui" penonton dengan cara melukis seperti itu agar mereka mengira itu lukisan asli. Semua bahan yang digunakan dalam gambar itu adalah benda nyata. "Penonton akan tersenyum begitu mengetahui rahasia gambar tersebut, dan itulah kesenangan buat saya."























