Kisah Ile Mauraja dari NTT
Ile Mauraja adalah nama sebuah gunung yang terletak di daerah Nusa Tenggara Timur. Ile dalam bahasa setempat berarti “gunung”. Keberadaan gunung ini disebabkan oleh sebuah peristiwa yang pernah terjadi di daerah tersebut. Peristiwa apakah itu? Berikut kisahnya dalam cerita Legenda Ile Mauraja.Dahulu, di sebuah kampung di Nusa Tenggara Timur, ada seorang bocah laki-laki yang tampan bernama Raja. Namun, ia memiliki sifat yang amat keras kepala. Semua kiinginannya harus dipenuhi. Sifat Raja itu terkadang membuat kedua orang tuanya pusing kepala. Suatu ketika, ibunya sedang memintal benang. Karena penasaran terhadap apa yang dikerjakan ibunya, Raja pun bertanya.
“Ibu sedang membuat apa?” tanya Raja.
“Ibu sedang membuat sehelai kain untukmu, Nak,” jawab ibunya.
Betapa senangnya hati Raja. Dikiranya sarung itu akan selesai dibuat dalam waktu sehari. Maka, ia pun selalu bertanya kepada ibunya.
“Bu, kapan sarung itu selesai?” tanya Raja, “Aku tidak sabar lagi ingin memakainya.”
“Sabarlah, Nak. Ibu akan segera menyelesaikannya,” jawab ibunya.
Begitulah setiap hari Raja tidak bosan-bosannya bertanya dan menagih janji ibunya. Sang Ibu pun bingung karena ia tidak mau berbohong. Padahal, ia sering menasehati anaknya agar selalu menepati janji dan tidak boleh berbohong. Ketika, Raja kembali bertanya, sang Ibu diam saja.
“Kenapa ibu diam saja?” tanya Raja, “Wah, tidak menepati janji.”
Merasa malu dituduh oleh anaknya, sang Ibu pun menjelaskan bahwa membuat sehelai sarung membutuhkan waktu yang cukup lama.
“Anakku, Raja. Ibu bukannya ingkar janji. Tapi, perlu kamu ketahui bahwa membuat sehelai sarung itu tidak bisa sebentar,” ujar ibunya.
Mendengar penjelasan itu, Raja pun merasa menyesal karena telah menuduh ibunya yang bukan-bukan. Sejak itulah, ia mulai sadar terhadap sikapnya yang suka kasar kepada ibunya. Pikiran itu pun terbawa ke dalam mimpinya. Malam itu, ia bermimpi didatangi oleh seorang kakek yang mengenakan pakaian putih-putih.
“Hai, anak muda. Apa yang terjadi dengan dirimu? Kenapa kamu wajahmu pucat seperti itu?” tanya kakek itu dalam mimpi Raja.
Raja pun menceritakan apa yang terjadi antara dia dengan ibunya.
“Iya, Kek. Saya merasa berdosa kepada ibu saya. Selama ini saya selalu memaksakan kehendak kepada ibu. Bahkan, saya telah menuduhnya telah mengingkari janjinya,” cerita Raja dalam mimpi itu yang membuat sang kakek menjadi iba.
“Baiklah, cucuku. Jika kamu memang benar-benar merasa menyesal, maka kamu harus menebus kesalahan itu,” ujar Kakek itu.
“Apa maksud, Kakek?” tanya Raja bingung.
“Besok, bangunlah sebelum ayam jantan berkokok yang ketiga kalinya. Pergilah ke arah matahari terbit dan berjalanlah sampai kamu menemukan sebuah gua,” kata kakek itu, “Tapi ingat, kamu harus diam selama perjalanan,” tambahnya.
“Baik, Kek,” jawab Raja.
Kakek misterius itu kemudian lenyap. Saat itu pula, Raja terbangun. Ketika ayam jantan berkokok yang kedua kalinya, ia segera melaksanakan nasehat kakek dalam mimpinya itu. Dalam suasana yang agak gelap, Raja berjalan ke arah timur dengan menyusuri hutan belantara hingga akhirnya menemukan sebuah gua.
“Hai, gua inikah yang dimaksud Kakek itu?” gumamnya.
Raja dengan melangkah perlahan-lahan mendekati gua itu. Ketika ia berada di depan mulut gua, tiba-tiba ia mendengar suara menyapanya.
“Cucuku, tidak usah takut. Masuklah ke dalam gua ini,” kata suara itu.
Suara itu tidak asing lagi di telinga Raja, seperti suara Kakek yang ada di mimpinya semalam. Tanpa ragu-ragu, ia pun segera masuk ke dalam gua. Ternyata dugaannya benar. Tampak seorang Kakek yang pernah ia temui di dalam mimpi sedang duduk di atas lempengan batu besar. Raja pun kemudian duduk di samping kakek itu.
“Cucuku, tanamlah biji kapas ini di kebun ibumu di belakang rumah,” perintah kakek itu seraya memberikan segenggam biji kapas dalam sebuah tempurung kelapa kepada Raja.
“Terima kasih, Kek!” ucap Raja seraya berpamitan.
Namun, sebelum ia meninggalkan gua, Kakek itu berpesan kepadanya.
“Sesampainya kamu di rumah, minta maaflah kepada ibumu atas sikapmu yang buruk. Hormatilah orang tuamu,” kata kakek itu.
Begitu selesai berpesan, Kakek itu tiba-tiba menghilang. Bersamaan dengan kejadian itu, tiba-tiba muncul seekor ular raksasa di hadapan Raja. Karena ketakutan, maka cepat-cepatlah Raja meninggalkan gua itu.
Setiba di rumahnya, Raja langsung menanam biji kapas pemberian sang Kakek. Sungguh ajaib, biji kapas itu tumbuh dengan cepat sekali. Hanya dalam waktu seminggu, tanaman kapasnya sudah berbuah. Buahnya pun unik karena berbentuk gulungan kain seperti yang biasa dipakai ibu Raja. Dengan kejadian itu, sikap Raja mulai berubah. Kini, ia menjadi anak yang halus dan lemah lembut tutur sapanya, penurut, dan rajin membantu kedua orangnya.
Suatu hari, kambing peliharaan orangtua Raja hilang. Raja pun turut membantu mencari kambing tersebut. Ia berjalan menyusuri hutan belantara. Tanpa disadari, langkahnya ternyata sampai di depan gua yang dulu pernah ia masuki. Mulanya, Raja ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara beberapa gadis dari dalam gua.
“Hai, siapa gadis-gadis yang ada di dalam gua itu?” gumam Raja.
Raja penasaran. Ia pun memberanikan diri masuk ke dalam gua itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat tujuh gadis cantik sedang mandi di sungai di dalam gua itu.
“Aduhai… cantiknya gadis-gadis itu!” gumam Raja dengan perasaan kagum.
Melihat kecantikan para gadis tersebut, muncullah niatnya ingin memperistri salah dari mereka. Maka, ia dengan diam-diam mengambil salah satu pakaian dari gadis itu yang diletakkan di tepi sungai. Pakaian itu kemudian ia sembunyikan di sebuah lubang pohon. Selang beberapa saat kemudian, para gadis itu telah selesai mandi. Ketika hendak mengenakan pakaian masing-masing, salah seorang dari mereka tampak kebingungan.
“Kakak, apakah kalian melihat pakaian saya?” tanya gadis itu.
“Tidak, Bungsu. Kami tidak melihatnya,” jawab gadis yang paling sulung.
Rupanya, gadis yang kehilangan pakaiannya adalah si Bungsu. Putri Bungsu itu pun menangis tersedu-sedu karena belum juga menemukan pakaiannya. Melihat keadaan itu, Raja pun keluar dari persembunyiannya lalu menghampiri gadis-gadis tersebut.
“Hai, apa yang sedang terjadi dengan gadis cantik ini?” tanya Raja dengan berpura-pura tidak mengetahui permasalahan.
“Adik kami kehilangan pakaiannya. Jika Tuan dapat menemukannya, tentu kami akan membalas jasa Tuan,” sahut Putri Sulung.
“Baiklah, saya akan coba mencarikannya,” jawab Raj.
Raja pun berpura-pura mencari ke sana kemari hingga ke bagian luar gua. Saat para gadis tersebut tidak melihatnya, cepat-cepatlah ia mengambil pakaian itu dari dalam lubang pohon lalu kembali masuk ke dalam gua.
“Maaf, apakah pakaian ini yang kalian maksud?” tanya Raja.
“Benar Tuan. Terima kasih karena Tuan telah menemukan pakaian adik kami yang hilang,” sahut Putri Sulung seraya menceritakan asal usul mereka.
“Maaf Tuan, sebenarnya kami ini adalah putri-putri ular.”
Mendengar cerita itu, Raja langsung teringat pada si Kakek yang waktu itu menghilang dan berubah menjadi seekor ular.
“Apakah kalian mengenal Kakek yang pernah kutemui di gua ini?” tanya Raja.
“Iya, ia adalah kakek kami,” jawab Putri Sulung, “Di gua inilah kami tinggal.”
Mendengar cerita itu, Raja pun mulai tersadar bahwa ternyata kakek yang yang pernah menolongnya itu adalah penjelmaan ular. Raja pun kemudian diajak oleh para gadis itu untuk ke rumah mereka dan bertemu dengan sang Kakek.
“Terima kasih, cucuku. Engkau telah menolong Putri Bungsu menemukan pakaiannya,” ucap si Kakek, “Sebagai tanda terima kasih kami, Kakek merestuimu menikah dengan cucuku itu. Tapi, dengan satu syarat.”
“Apakah syarat itu, Kek?” tanya Raja.
“Sebelum pesta pernikahan kalian dilangsungkan, Kakek minta agar si Bungsu dibuatkan sebuah rumah peristirahatan,” ujar si Kakek.
Raja pun menyetujui persyaratan itu, meskipun ia tahu bahwa hal itu menyalahi adat di kampungnya. Setelah mereka menikah, Raja dan si Bungsu pun tinggal di rumah baru tersebut. Sementara itu, salah seorang warga yang merasa curiga mengintip ke dalam rumah itu. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Raja ditemani oleh seekor ular yang tak lain adalah Putri Bungsu. Warga itu pun segera melapor kepada seluruh warga kampung. Takut dengan keberadaan ular tersebut, warga pun beramai-ramai membakar rumah itu.
Raja dan Putri Bungsu yang berada di dalamnya tidak bisa berbuat apa-apa karena peristiwa itu berlangsung sangat cepat. Mereka pun tewas terbakar. Mendengar kabar itu, keluarga Putri Bungsu amat marah dan murka. Dengan dibantu oleh seekor kepiting raksasa, keluarga Putri Bungsu yang telah berubah menjadi sekumpulan ular mendorong perut bumi. Kampung pun bergetar bagaikan terkena gempa bumi dahsyat. Dalam sekejap, perkampungan itu hancur dan porak-poranda.
Selang beberapa saat setelah kejadian itu, tiba-tiba sebuah gundukan tanah muncul dari balik perkampungan. Semakin lama, gundukan tanah itu semakin tinggi hingga menjadi sebuah gunung. Untuk mengenang peristiwa itu, masyarakat setempat menamakan gunung itu Ile Mauraja atau Gunung Mauraja.
Demikian cerita Legenda Ile Mauraja dari Nusa Tenggara Timur. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa segala sesuatu yang didapatkan dengan cara yang mudah dan tidak benar akan lenyap dengan mudah pula. Hal ini terlihat pada perilaku si Raja yang hanya karena menyembunyikan selendang Putri Bungsu ia bisa memperistrinya dengan sangat mudah. Pesan moral yang kedua adalah bahwa hendaknya kita tidak menyalahi adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat karena hal itu akan mendatangkan musibah seperti halnya yang terjadi pada si Raja.
Photo-Photo Regina dan Keluarga di Sulteng
Photo-Photo Kenangan Regina pada saat berumur 3 tahun pada saat di ajak papi pulang kampung ke Sulawesi tengah. (Tahun 2004)
Lagi mau beli baju Renang di Palu Mitra Utama Supermarket, salah satu supermarket terbesar pada saat itu di Kota Palu. (2004)
Sunset bareng Mami di Desa Rerang Kec Dampelas (Dok 2004)
Desa Rerang ini dapat di tempuh dari Kota Palu sekitar 167 KM arah barat kota Palu, sehingga dikenal juga sbagai daerah Pantai Barat. untuk sampai ke Desa ini kita harus melewati beberapa Kecamatan al : Kec Tawaeli, Kec Sindue(Toaya), Kec Sirenja (Tompe), Kec Balaesang (Tambu) dan Kec Damsol(Sabang)...dalam lingkup Kab Donggala Prop Sulteng
Sedang berkunjung ke Desa Bayang (Tetangga Desa Rerang) utk megunjungi Saudara Papi, yaitu Rumahnya om Cun yang buka Usaha Dagang di desa Bayang. sekitar 10 KM dari desa Rerang. (tampak pada gambar diatas Istri OM Cun dan Tetangganya yang ingin beli barang)
Photo saudara Regina(Left) dan Regina(Right) yang pada waktu itu baru berumur 3 thn
Photo Pernikahan
Cerita Rakyat Papua : Danau Keramat
Danau Walait terletak di daerah Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Menurut cerita, danau ini terkenal angker sehingga suku Walait yang tinggal di sekitarnya tidak berani untuk mendekatinya. Ada apa di danau itu sehingga dikeramatkan? Simak kisahnya dalam cerita Danau Walait yang Keramat berikut ini!Dahulu, di Lembah Baliem hiduplah sebuah suku yang bernama suku Walait. Lembah Baliem yang berada di puncak Gunung Jayawijaya ini dikelilingi oleh hamparan hutan lebat. Di dalam hutan itu banyak terdapat binatang buas, terutama babi hutan. Itulah sebabnya, sebagian besar warga suku Walait bekerja sebagai pemburu babi hutan. Sebagian hasil tangkapannya dimakan untuk lauk sehari-sehari, dan sebagian yang lain untuk diternakkan.
Di antara penduduk suku Waliat ada seorang gadis bernama Jelita. Ia hanya tinggal bersama dengan ayahnya karena ibunya telah meninggal dunia. Sehari-harinya, gadis cantik itu bekerja sebagai penggembala babi, sedangkan sang Ayah pergi ke hutan untuk mencari kayu, umbi-umbian, dan hasil hutan lainnya.
Sang Ayah selalu berpesan kepada Jelita agar tidak menggembalakan babi di sekitar Danau Walait yang berada tidak jauh permukiman penduduk.
“Jelita, putriku! Jangan sekali-kali kamu menggembalakan babi di sekitar danau itu!” ujar sang Ayah.
“Baik, Yah,” jawab si Jelita.
Suatu hari, Jelita lupa pada pesan ayahnya. Ia membiarkan babinya berkeliaran di sekitar Danau Walait. Rerumputan di sekitar danau itu memang tumbuh subur dan hijau karena tak seorang pun yang berani menggembalakan babi di sana. Sambil menunggu babi peliharaannya
merumput, gadis cantik itu duduk berteduh di bawah sebuah pohon. Tak berapa lama kemudian, babi-babinya tiba-tiba mati bergelimpangan setelah memakan sesuatu di tepi danau itu. Melihat kejadian tersebut, Jelita menjadi panik.
“Aduh, Ayah pasti akan marah sekali jika mengetahui hal ini,” gumam si Jelita.
Dengan perasaan takut, Jelita pulang ke rumah untuk memberitahukan kejadian itu kepada ayahnya. Sang Ayah mendengar kabar buruk itu pun menjadi murka.
“Dasar anak tidak bisa diatur!” hardik sang Ayah, ”Ayah sudah melarangmu menggembala di sana, tapi kamu tidak mendengar nasehat Ayah. Pergi dari rumah ini!”
“Maafkan Jelita, Ayah! Jelita benar-benar lupa pada nasehat Ayah. Ampun Ayah, jangan usir Jelita! Jelita tidak punya siapa-siapa lagi selain Ayah,” rengek Jelita di hadapan ayahnya.
Meskipun Jelita sudah merengek-rengek, sang Ayah tetap mengusirnya. Dengan hati yang hancur, gadis yang malang itu pun pergi meninggalkan rumahnya. Karena bingung harus pergi ke mana, ia pun memutuskan untuk pergi ke Danau Walait. Di pinggir danau itu, ia duduk termenung memikirkan nasibnya yang malang.
“Ya, Tuhan! Tak ada gunanya lagi hamba hidup di dunia ini. Hamba tidak memiliki siapa-siapa lagi,” keluh gadis itu.
Usai berkata demikian, Jelita mencebur ke dalam Danau Walait. Atas kuasa Tuhan, ia berubah menjadi seekor ikan mungil. Sejak itulah, itulah gadis yang telah berbuah menjadi ikan itu hidup di danau itu.
Sementara itu, di seberang Danau Walait, tinggal pula sebuah suku bernama Akeima yang dipimpin oleh Hulogolik. Jumlah wanita di suku Akeima ketika itu masih sedikit sehingga banyak laki-laki yang belum menikah, termasuk Hulogolik. Suatu ketika, Hulogolik pergi bertapa di sebuah gua untuk meminta kepada Dewata agar dianugerahi seorang istri untuk melanjutkan keturunannya. Ketika ia asyik bersemedi, tiba-tiba ia mendengar suara bisikan di telinganya.
“Wahai, Hulogolik. Jika kamu mendapatkan istri, usirlah suku Walai yang ada di sekitar Danau Walait!” seru suara itu.
Hulogolik pun menuruti pesan gaib itu. Bersama dengan warga sukunya, Hulogolik memerangi suku Waliat dan berhasil mengusir mereka dari tempat itu. Karena kelelahan, kepala suku itu beristirahat di bawah sebuah pohon di tepi Danau Walait hingga terlelap. Dalam lelapnya, ia mendapat perintah dari Dewa agar mencopot kepalanya.
“Wahai, Hulogolik. Penggallah kepalamu hingga terpisah dari tubuhmu. Setelah itu, masuklah ke dalam Danau Walait!” seru sang Dewa.
Begitu terbangun, Hulogolik segera menuruti perintah itu. Dengan tubuh tanpa kepala, ia segera mencebur ke dalam danau. Ikan-ikan yang ada di dalam danau itu pun masuk ke dalam tubuhnya hingga penuh. Setelah kembali ke darat, Hulogolik mengeluarkan semua ikan yang ada di tubuhnya ke rerumputan. Setelah itu, kepala dan tubuhnya kembali menyatu. Ajaibnya, ikan-ikan tersebut tiba-tiba menjelma menjadi gadis-gadis yang cantik jelita. Rupanya, ikan-ikan tersebut merupakan penjelmaan gadis-gadis yang sering hilang di sekitar Danau Walait. Akhirnya, Hulogolik membawa pulang gadis-gadis itu ke kampungnya untuk dinikahinya dan juga orang-orang sukunya yang memang banyak yang belum beristri.
Namun, tanpa sepengetahuan Hulogolik, salah seorang anak buahnya memperhatikan tingkah lakunya saat ia mencebur ke dalam Danau Walait. Keesokan harinya, warga itu ingin melakukan seperti yang dilakukan oleh Hulogolik dengan meminta bantuan kepada roh jahat.
“Baiklah, aku akan membantumu, tapi dengan syarat kamu harus membujuk Hulogolik untuk kembali memerangi suku Walait,” ujar roh jahat itu.
Warga itu menyanggupi persyaratan itu. Alhasil, ia berhasil membujuk kepala sukunya itu sehingga peperangan antara dua suku pun kembali berkobar. Peperangan itu memakan banyak korban. Setelah perang tersebut selesai, anak buah Hulogolik itu mendekati Danau Walait dan melakukan seperti melakukan seperti yang dilakukan oleh tuannya.
Namun, tanpa ia sadari pula, ternyata ada seorang warga lain yang mengintipnya dari balik semak-semak. Begitu ia mencebur ke danau tanpa kepala, warga yang mengintip itu mengambil kepalanya dan cepat-cepat pergi. Ketika anak buah Hulogolik itu kembali darat, kepalanya sudah tidak ada. Pada saat itulah, ia tiba-tiba menjelma menjadi seekor ular raksasa.
Sang Dewa yang mengetahui peristiwa itu menjadi murka kepada Hulogolik karena lalai mengawasi warganya.
“Hai, Hulogolik! Kenapa kamu menyerang suku Walait tanpa melalui perintahku? Karena kamu telah bertindak sewenang-wenang, maka sebagai hukuman jasadmu kelak tidak akan membusuk sampai kapan pun,” ujar sang Dewa dalam mimpi Hulogolik.
Alangkah terkejutnya Hulogolik saat terbangun. Ia baru menyadari bahwa dirinya telah termakan hasut oleh anak buahnya itu. Namun, apa boleh, buat nasi sudah menjadi bubur. Hulogolik tinggal menunggu hukuman itu setelah ia mati kelak.
Sementara itu, isti Hulogolik telah berkumpul kembali dengan keluarganya. Saat mereka berbincang-bincang, tiba-tiba ada orang yang menyinggung perihal hilangnya seorang warga di Danau Walait. Ia juga mengakui bahwa dirinyalah yang memisahkan kepala dan tubuh anak buah Hulogolik itu.
Mendengar cerita itu, cepat-cepatlah Hulogolik berlari menuju ke Danau Walait. Setiba di tepi danau, tiba-tiba seekor ular raksasa menyerangnya. Saking cepatnya serangan ular itu sampai-sampai Hulogolik tidak sempat menghindar. Akhirnya, kepala suku Akeima itu pun tewas. Tubuhnya pun mengeras dan berwarna hitam. Karena tak seorang pun warga yang menyaksikan peristiwa itu, jasad Hulogolik masih terapung-apung di tengah danau itu hingga berhari-hari.
Warga yang berada di perkampung pun mulai cemas karena kepala suku mereka tidak pulang-pulang. Istri Hulogolik pun mengerahkan seluruh warga untuk mencarinya ke Danau Walait. Melihat kedatangan orang-orang, ular naga segera membuat lubang besar di dasar danau dan bersembunyi di dalamnya. Ia takut keluar karena itu akan membahayakan dirinya.
Sementara itu, para warga yang baru tiba di tempat itu dikejutkan oleh sesosok tubuh sedang terapung-apung di tengah danau.
“Hai lihat, bukankah itu jasad Hulogolik?” teriak salah seorang warga.
“Iya, sepertinya benar,” sahut istri Hulogolik.
Beberapa warga segera berenang ke tengah danau untuk mengambil jasad Hulogolik. Tak berapa lama kemudian, para warga itu kembali ke darat dengan membopong jasad kepala suku mereka. Mereka kemudian membawa pulang mayat itu ke perkampungan untuk disemayamkan di sebuah honay (rumah adat orang Papua). Sungguh ajaib, mayat honay itu benar-benar tidak pernah membusuk.
Demikian cerita Danau Walait yang Keramat dari Provinsi Papua. Cerita di atas termasuk kategori mitos yang di dalamnya terkandung pesan-pesan moral. Salah satunya adalah bahwa seorang anak harus menuruti nasehat orang tua agar orang tua tidak murka kepada kita. Demikian pula sebagai orang tua, semurka-murkanya kepada anak hendaknya tidak terlalu berlebihan seperti mengusirnya dari rumah karena akan mendatangkan musibah yang lebih besar.
Cerita Rakyat Sumatera Selatan : Putri Kemarau
Putri Jelitani adalah seorang putri raja di sebuah kerajaan di daerah Sumatra Selatan. Suatu ketika, negeri sang Putri dilanda kemarau yang amat panjang. Keadaan yang sulit itu baru akan pulih jika ada seorang gadis yang mau berkorban dengan mencebur ke laut. Oleh karena tak seorang pun yang mau berkorban, maka dengan ikhlas sang Putri rela melakukannya demi keselamatan rakyatnya dari bahaya kelaparan. Bagaimana nasib Putri Kemarau selanjutnya? Simak kisahnya dalam cerita Pengorbanan Putri Kemarau berikut ini!Dahulu, di Sumatra Selatan ada seorang putri raja bernama Putri Jelitani. Namun, ia akrab dipanggil Putri Kemarau karena dilahirkan pada musim kemarau. Ia merupakan putri semata wayang sang Raja. Ibunda sang Putri baru saja wafat. Sebagai putri tunggal, ia pun amat disayangi oleh ayahnya. Sementara itu, ayahnya adalah seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. Negeri dan rakyatnya pun hidup makmur dan tenteram.
Suatu ketika, negeri itu dilanda kemarau yang sangat panjang. Sungai-sungai kekeringan dan air danau pun menjadi surut. Padang rumput sudah hangus terbakar terik matahari. Ternak-ternak warga banyak yang mati. Tanah menjadi kering dan pecah-pecah sehingga hasil panen pun gagal. Warga banyak yang terserang penyakit dan dilanda kelaparan. Melihat keadaan tersebut, sang Raja yang arif dan bijaksana itu pun segera bertindak. Ia segera mencari peramal untuk mencari jalan keluar dari kesulitan tersebut. Sudah banyak peramal yang ditemui, namun belum seorang pun yang mampu memberinya jalan keluar.
Suatu hari, sang Raja mendengar kabar bahwa di suatu desa yang terpencil ada seorang peramal yang terkenal sakti. Ia pun mendatangi peramal itu.
“Wahai, tukang ramal. Negeriku sedang dalam kesulitan. Tolong katakan bagaimana caranya mengatasi masalah ini,” pinta sang Raja.
“Baginda, petunjuk mengenai jalan keluar dari kesulitan akan melalui mimpi putri Baginda,” jawab peramal itu.
“Baiklah, kalau begitu. Hal ini akan kutanyakan langsung kepada putriku,” kata sang Raja yang segera kembali ke istana.
Setiba di istana, sang Raja mendapati putrinya sedang duduk termenung seorang diri di taman.
“Ayahanda baru saja menemui seorang juru ramal yang sakti,” kata sang Raja kepada putrinya.
Mendengar itu, Putri Kemarau sontak menatap wajah ayahandanya.
“Apa kata juru ramal itu Ayahanda?” tanya Putri Kemarau.
“Menurut juru ramal itu bahwa petunjuk mengenai jalan keluar dari kesulitan ini akan datang melalui mimpi Andanda. Apakah Ananda sudah bermimpi tentang hal itu?” sang Raja balik bertanya.
“Belum, Ayahanda,” jawab Putri Kemarau, “Tapi, alangkah baiknya jika semua masalah ini kita serahkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” lanjut sang Putri.
Alangkah terkejutnya sang Raja mendengar perkataan putrinya. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika putri kesayangannya itu memiliki pemikiran yang cerdas. Ia pun menyadari kekeliruannya selama ini.
“Benar juga katamu, Putriku. Perkataanmu itu membuat Ayanda sadar. Maafkan Ayah, Putriku!” ucap raja yang bijaksana itu.
Putri Kemarau kemudian menyarankan kepada Ayandanya agar seluruh rakyat negeri itu melakukan upacara berdoa bersama kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Maka, berkat doa bersama tersebut, Putri Kemarau pun mendapat petunjuk melalui mimpinya. Dalam mimpi itu, sang Putri didatangi oleh ibundanya.
“Wahai, Putriku. Kesulitan yang dialami negeri akan berubah jika ada seorang gadis yang mau berkorban dengan menceburkan diri ke laut,” ujar ibu Putri Kemarau.
Begitu terjaga, sang Putri pun menceritakan perihal mimpi itu kepada ayahandanya. Ternyata, sang Raja pun telah bermimpi mendapat bisikan gaib yang menyampaikan pesan yang sama. Maka, pada esok harinya, sang Raja segera mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk menyampaikan pesan itu.
“Wahai, seluruh rakyatku. Ketahuilah bahwa negeri ini akan kembali makmur jika ada seorang gadis yang dengan ikhlas mengorbankan dirinya mencebur ke dalam laut. Siapakah di antara kalian yang ingin melakukannya demi kebaikan kita semua?” tanya sang Raja di depan rakyatnya.
Tapi, tak seorang pun gadis yang berani mengajukan diri. Di tengah keheningan, tiba-tiba Putri Kemarau yang duduk di samping ayahandanya bangkit dari tempat duduknya lalu berkata.
“Ananda rela mengorbankan jiwa hamba dengan ikhlas demi kemakmuran rakyat negeri ini,” kata Putri Kemarau dengan suara lantang.
Seketika seluruh yang hadir tersentak kaget, terutama sang Raja. Ia tidak ingin anak semata wayangnya itu yang menjadi korbannya.
“Jangan, Putriku. Engkaulah satu-satunya milik Ayahanda. Engkaulah yang akan meneruskan tahta kerajaan ini. Jangan lakukan itu, Putriku!” cegah sang Raja.
Namun, Putri Kemarau tetap pada pendiriannya. Keinginan sang Putri sudah tidak dapat dibendung lagi.
“Lebih baik Ananda saja yang menjadi korban daripada seluruh rakyat negeri ini,” tegas sang Putri, “Barangkali ini sudah menjadi takdir Ananda.”
Sang Raja pun tak kuasa menahan keinginan putrinya. Maka, pada malam harinya, sang Putri dengan diantar oleh ayahanda dan seluruh rakyat pergi ke ujung tebing laut. Sebelum terjun ke laut, ia berpesan kepada ayahanda dan rakyatnya.
“Ikhlaskan kepergian Ananda, maafkan semua kesalahan Ananda,” pinta sang Putri.
Sang Raja tak kuasa menahan rasa haru. Air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Namun, apa hendak dibuat, tak seorang pun yang sanggup menahan keinginan putrinya. Putri Kemarau pun terjun ke laut. Bersamaan dengan terceburnya tubuh sang Putri ke dalam air laut, langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan hujan pun turun dengan lebatnya. Dalam waktu singkat, seluruh wilayah negeri itu pun digenangi air. Tentu saja hal itu menjadi pertanda bahwa tumbuh-tumbuhan akan kembali menghijau dan tanah menjadi subur.
Seluruh rakyat negeri itu dirundung rasa suka cita, terutama sang Raja. Di satu sisi, negerinya akan kembali makmur, namu di sisi lain ia telah kehilangan putri yang amat disayanginya. Demikian pula yang dirasakan oleh seluruh rakyatnya.
Hujan semakin deras. Sang Raja dan rakyatnya pun segera meninggalkan tebing laut itu. Setiba di istana, raja itu langsung tertidur karena kelelahan. Betapa terkejutnya ia karena tiba-tiba mendengar suara bisikan yang menyuruhnya kembali ke tebing laut.
“Segeralah kembali ke tebing laut. Temuilah purimu di sana!” demikian pesan suara itu.
Begitu terbangun, sang Raja bersama rakyatnya pun bergegas kembali ke tebing itu.
Sesampainya di sana, mereka mendapati Putri Kemarau berdiri di atas sebuah karang di tengah laut dengan membawa penerangan dan harapan baru. Rupanya, sang Putri diselamatkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa karena keikhlasannya berkorban demi kepentingan orang banyak. Namun ajaibnya, semula tidak ada batu karang di tengah laut itu.
“Terima kasih, Tuhan! Engkau telah menyelamatkan putriku,” ucap sang Raja.
Usai berucap syukur, raja itu segera memerintahkan pengawalnya untuk menjemput sang Putri dan membawanya kembali ke istana. Beberapa tahun kemudian, sang Raja akhirnya menyerahkan kekuasaannya kepada putrinya. Sejak itulah, Putri Kemarau menjadi ratu di negeri itu. Ia memerintah dengan arif dan bijaksana. Rakyatnya pun hidup makmur dan sejahtera.


















