Archive for August 2012

Cerita tentang sepak bola hewan

Sulawesi selatan adalah sebuah propinsi yang terletak di pulau Sulawesi yang pulaunya berbentuk huruf K dengan ibu kota Makasar. dan memiliki banyak panorama yang indah salah satunya adalah pantai LOSARI. berikut adalah salah satu cerita menarik dari propinsi tersebut :

Pada umumnya, pertandingan sepak bola dilakukan oleh manusia. Namun, apa jadinya jika yang bertanding sepak bola itu adalah hewan atau binatang? Di daerah Sulawesi Selatan, Indonesia, ada sebuah cerita rakyat yang mengisahkan tentang pertandingan sepak bola antarbinatang. Bagaimana para binatang tersebut bermain bola? Binatang apa saja yang ikut bertanding dan siapakah yang keluar sebagai juara dalam pertandingan sepak bola tersebut?  Temukan jawabannya dalam cerita
Sepak Bola Binatang berikut ini!

Konon, di sebuah daerah di Sulawasi Selatan, ada sebuah padang rumput yang terbentang luas yang menjadi tempat berbagai jenis binatang seperti sapi, kerbau, gajah, keledai, kijang, dan lain sebagainya untuk merumput.

Pada suatu hari, gerombolan sapi dan kerbau bertemu di padang rumput tersebut. Kebetulan mereka datang bersamaan dan hendak merumput di bagian padang rumput yang hijau dan subur. Mereka bergerombol dan saling berebut untuk menguasai di tempat itu.

“Hei, Sapi! Rumput ini bagian kami. Kalian pindah ke tempat lain!” seru seekor kerbau.
“Tidak! Kami juga berhak makan di sini. Lagi pula kita datang bersamaan,” jawab seekor sapi.
Oleh karena tidak ada yang mau mengalah, akhirnya mereka saling dorong dan akhirnya terjadilah perkelahian. Para binatang lainnya yang juga merumput di padang itu bersorak-sorai memberi semangat. Maka makin serulah perkelahian antara gerombolan sapi dan kerbau. Perkelahian tersebut tampak seimbang. Mereka saling tanduk dan saling dorong dengan sekuat tenaga. Sesekali gerombolan sapi itu mengeluarkan bunyi lenguh yang sangat keras.

“Mooohhhh......!!!”
Hingga siang hari, perkelahian tersebut masih berlangsung dan belum ada yang kalah atau pun menang. Tidak lama kemudian, Singa sang Raja Hutan, tiba-tiba muncul dari balik semak belukar di pinggir padang rumput. Melihat perkelahian itu, ia pun segera mengaung.

“Auuunngggg.........!!!”

“Hei, hentikan perkelahian itu!” seru sang Singa dengan marah.
Mendengar seruan itu, gerombolan sapi dan kerbau itu pun berhenti berkelahi. Para binatang lain yang menjadi penonton pun berhenti bersorak-sorai. Semuanya menundukkan kepala dan tidak berani bergerak sedikit pun, karena takut kepada sang Raja Hutan.

“Berkelahi lagi, berkelahi lagi...! Hampir setiap hari terjadi perkelahian di tempat ini. Kemarin rusa dengan kambing berkelahi karena rumput. Dua hari yang lalu keledai dan kuda juga berkelahi memperebutkan rumput. Sekarang kerbau dan sapi juga berkelahi. Semuanya gara-gara rumput,” kata sang Raja Hutan.
Oleh karena tidak ingin kembali terjadi pertikaian, Sang Raja Hutan menyuruh semua binatang untuk berkumpul di tengah padang rumput.

“Dengarkan kalian semua! Aku tidak ingin melihat lagi ada perkelahian di antara kalian. Untuk itu, aku ingin mengusulkan bagaimana kalau diadakan pertandingan sepak bola untuk membina persahabatan di antara penghuni hutan ini?” usul sang Raja Hutan.
“Setujuuu....!” teriak seluruh binatang yang hadir di tempat itu.

Mereka menyambut gembira usulan itu, karena di samping dapat membina persahabatan juga menjadi hiburan bagi mereka, baik sebagai peserta maupun penonton. Mereka yang ingin mengikuti pertandingan itu segera mendaftarkan timnya. Tim yang paling pertama mendaftar adalah kerbau, kemudian menyusul sapi, gajah, keledai, kuda, kambing, domba, dan seterusnya. Sedangkan sang Raja Hutan hanya berperan sebagai wasit, karena jika timnya ikut dalam pertandingan tersebut, pasti binatang lain akan segan kepadanya.
Keesokan harinya, pertandingan sepak bola antarbinatang itu pun dimulai. Pada pertandingan hari pertama, tim kambing berhadapan dengan tim domba. Kedua tim itu tampak bersiap-siap menempati posisi masing-masing. Sementara binatang lainnya yang menjadi penonton telah memenuhi pinggir lapangan. Mereka sudah tidak sabar lagi ingin menyaksikan pertandingan seru itu.

“Ayo...! Ayo..., kalian bisa...!” terdengar suara penonton memberi semangat kepada tim kesayangan mereka.
Setelah kedua tim bersiap, sang Wasit pun meniup peluitnya sebagai tanda pertandingan dimulai. Pertandingan itu pun berlansung seru dan menarik. Terkadang pula menimbulkan kelucuan, sehingga mengundang tawa para penonton. Pada pertandingan itu tim kambing menang 2 – 1 atas tim domba. Pertandingan berikutnya dilanjutkan keesokan harinya dan seterusnya.

Setelah pertandingan berlansung beberapa hari, maka tinggallah empat tim yang berhasil masuk ke babak semifinal, yaitu tim kuda, gajah, kerbau, dan sapi. Pada semifinal pertama, tim kuda berhadapan dengan tim sapi. Pada pertandingan itu, tim kuda tampil kurang bersemangat, karena sehari sebelumnya, raja mereka meninggal dunia dimakan usia. Akhirnya, pertandingan itu dimenangkan oleh tim sapi dan berhasil masuk ke babak final.
Keesokan harinya, semifinal kedua, tim gajah berhadapan dengan tim kerbau. Sesaat sebelum pertandingan dimulai, tiba-tiba turun hujan deras sehingga lapangan padang rumput tergenang air. Melihat kondisi itu, tim gajah menolak untuk bertanding hari itu. Namun, tim kerbau merasa keberatan jika pertandingan itu ditunda. Oleh karena kedua tim tidak ada yang mau mengalah, akhirnya terjadilah pertengkaran. Melihat keadaan itu, sang Wasit pun segera turun tangan.

“Untuk tidak mengecewakan para penonton yang sudah berdatangan ingin menyaksikan permainan kalian, maka pertandingan semifinal kedua ini harus dilangsungkan hari ini juga, walaupun lapangan banjir,” tegas sang Wasit.

Oleh karena sudah merupakan keputusan wasit yang tidak dapat diganggu gugat, maka pertandingan antara tim gajah dan kerbau harus dilangsungkan pada hari itu juga. Akibatnya, tim gajah selalu mendapat serangan bertubi-tubi dari tim kerbau. Tim gajah tidak dapat bergerak dan berlari, karena lapangan becek dan licin. Beberapa kali tim gajah terjatuh dan terjungkal di lapangan, sehingga menjadi sebuah tontonan yang lucu dan menarik.

Sementara itu, tim kerbau dengan leluasa bergerak dan berlari kesana kemari sambil menggiring bola, karena mereka sudah terbiasa bermain-main dan mandi di kubangan yang becek dan banjir. Sudah dapat dipastikan sebelumnya bahwa pertandingan itu dimenangkan oleh tim kerbau. Tim kerbau menang dengan skor 3 – 0 atas tim gajah. Akhirnya di babak final, tim kerbau bertemu dengan musuh bebuyutannya, yakni tim sapi yang sudah masuk babak final terlebih dahulu.

Sebelum para pemain dan penonton bubar, wasit mengumumkan bahwa jadwal pertandingan babak final akan dilangsungkan dua hari lagi.

“Saya sengaja menunda jadwal pertandingan babak final ini sampai dua hari lagi untuk memberi waktu para pemain untuk beristirahat, agar kedua tim tersebut dapat tampil lebih baik dan menarik, sehingga para penonton dapat terhibur,” kata sang Wasit.

“Kami juga setuju jika pertandingan ini ditunda. Kami harus memulihkan tenaga terlebih dahulu,” kata kapten kesebelasan tim sapi.

“Kami juga setuju,” sahut kapten kesebelsan tim kerbau.
 Setelah itu, para penonton dan pemain membubarkan diri. Kedua tim yang akan bertanding di babak final beristirahat selama dua hari untuk memulihkan tenaga. Di samping itu, kedua tim juga sedang mempersiapkan dan menyusun strategi masing-masing.

Tidak terasa, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, yakni pertandingan babak final antara tim kesebelasan kerbau berhadapan dengan tim kesebelasan sapi. Para penonton telah memadati pinggir lapangan ingin menyaksikan pertandingan seru itu. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, hari itu cuaca sangat panas. Oleh karena itu, kedua tim tersebut membuka baju masing-masing. Mereka pun bertanding tanpa pakaian. Sorak-sorai penonton pun semakin ramai.

Tidak berapa lama, wasit pun meniup peluit sebagai tanda pertandingan babak final dimulai. Pertandingan itu berlansung seru dan menarik. Kedua tim saling memperlihatkan ketangkasan mereka menendang dan menggiring bola dengan teknik yang tinggi. Kedua tim silih berganti menyerang. Sudah beberapa menit pertandingan berlangsung, namun belum ada tim yang mencetak gol ke gawang tim lawan. Makin lama, permainan pun tampak keras. Mereka saling ganjal-mengganjal jika tim lawan membawa bola.

Di tengah pertandingan itu berlansung, tiba-tiba cuaca menjadi mendung. Tak lama kemudian, turun hujan lebat disertai dengan angin kencang. Butiran-butiran air hujan yang turun dari langit sebesar batu-batu kerikil. Jika tertimpa air hujan itu, akan terasa sakit dan menusuk. Para penonton mulai panik. Mereka berlarian kesana-kemari mencari tempat berteduh untuk menghindari air hujan.

Para pemain pun sudah tidak mendengar lagi komando dari wasit. Kedua tim berlarian menuju ke tempat penyimpanan pakaian. Pada saat itu, tim kerbau yang pertama kali berlari salah alamat, karena dilanda kepanikan dan kesakitan terkena hujan. Mereka berlari ke tempat penyimpanan pakaian tim sapi, lalu memakai pakaian sapi tersebut. Setelah itu, mereka berlari berpencar entah ke mana. Sementara tim sapi yang datang terlambat, terpaksa memakai pakaian tim kerbau yang tertinggal, lalu berlari berpencar untuk mencari tempat berteduh.

Sejak kejadian itu, pakaian (kulit) sapi terlihat lebih longgar atau kebesaran, karena memakai pakaian kerbau. Demikian sebaliknya, pakaian (kulit) kerbau terlihat kesempitan atau kekecilan, karena memakai pakaian sapi.  Itulah sebabnya, di punggung sapi terdapat bagian yang cekung (berongga) dan di bagian leher bawahnya bergelambir, sedangkan pada kerbau tidak demikian.

Cerita I Laurang dari Sulawesi selatan

Di kalangan masyarakat Bugis Sulawesi Selatan, Indonesia, beredar sebuah cerita rakyat tentang seorang pemuda bernama I Laurang. I laurang dalam bahasa Bugis terdiri dari tiga suku kata, yaitu I, la dan urang. I berarti si (menunjuk kepada seseorang), la berarti dia laki-laki, dan urang berarti udang. Jadi, I laurang berarti si laki-laki udang atau manusia udang. Dalam cerita itu, I Laurang dikisahkan menjadi rebutan tujuh orang putri raja. Mengapa pemuda itu dinamakan I Laurang dan menjadi rebutan para putri raja? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita I Laurang berikut ini.

Alkisah,  di sebuah daerah di Sulawesi Selatan, Indonesia, ada sepasang suami-istri yang sudah lama menikah, namun belum juga dikaruniai anak. Mereka sangat menginginkan kehadiran seorang anak agar hidup mereka tidak kesepian. Oleh karena itu, setiap malam mereka senantiasa berdoa kepada Tuhan. Namun, hingga berusia paruh baya, mereka belum juga dikaruniai anak. Akhirnya, mereka pun mulai putus asa.
Pada suatu malam, kedua suami-istri itu berdoa kepada Tuhan dengan berkata:

 “Ya Tuhan, karuniakanlah kepada kami seorang anak, walaupun hanya berupa seekor udang!”
Beberapa lama kemudian, sang Istri pun hamil dan melahirkan. Namun, alangkah terkejutnya sang Istri saat melihat bayi yang keluar dari rahimnya adalah seorang bayi laki-laki yang berbentuk dan berkulit udang. Ia dapat hidup di darat maupun dalam air. Oleh  karena itu, ia diberi nama I Laurang (Manusia Udang).
“Bang! Kenapa anak kita seperti udang?” tanya sang Istri heran.

“Adik tidah usah heran. Bukankah kita pernah meminta seorang anak walaupun hanya berupa seekor udang? Rupanya Tuhan mengabulkan doa kita,” jawab sang Suami.

“Iya, Bang! Adik ingat sekarang. Kita memang pernah berdoa seperti itu?” kata sang Istri.
Menyadari hal itu, kedua suami-istri itu merawat I Laurang dengan penuh kasih sayang. Mereka memasukkannya ke dalam sebuah tempayan yang berisi air. Beberapa tahun kemudian, I Laurang pun tumbuh menjadi besar. Oleh karena badannya sudah tidak muat lagi, ia pun dikeluarkan dari tempayan. Sejak saat itu, I Laurang tidak lagi hidup dalam air. Ia hidup layaknya manusia lainnya. Namun, ia tidak dapat berjalan karena kakinya terbungkus oleh kulit udang. Walaupun hanya tinggal di dalam rumah, ia banyak tahu tentang keadaan dan peristiwa-peristiwa di sekitarnya yang didengar dari cerita-cerita ibunya.
Suatu waktu, ibunya bercerita bahwa raja yang memerintah negeri itu memiliki tujuh orang putri yang semuanya cantik jelita. Rupanya sejak mendengar cerita ibunya itu, ia selalu termenung dan membayangkan kecantikan wajah para putri raja. Ia juga selalu berangan-angan ingin menikah dengan salah seorang di antara mereka.

“Alangkah bahagianya aku jika mempunyai istri yang cantik. Tapi, mungkinkah aku dapat menikah dengan putri raja dengan kondisiku seperti ini?” tanya I Laurang dalam hati.
“Ah, aku tidak boleh putus asa dan menyerah sebelum mencoba,” tambahnya dengan penuh semangat.
Keesokan harinya, ia pun memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya itu kepada kedua orang tuanya.

“Ayah, Ibu! Sekarang ananda sudah dewasa. Ananda ingin berumah tangga dan mempunyai keturunan,” ungkap I Laurang.

“Memang kamu mau menikah dengan siapa?” tanya ibunya.
“Ananda ingin menikah dengan putri raja, Bu,” jawab I Laurang.
“Ha, dengan putri raja! Sungguh berat permintaanmu, Nak,” kata ayahnya dengan terkejut.
“Benar, Nak! Mana mungkin raja berkenan menerimamu sebagai menantunya dengan kondisi tubuhmu seperti ini,” tambah ibunya.

“Tapi, apa salahnya kita mencoba dulu, Bu. Bukankah putri raja itu ada tujuh orang dan cantik semua. Siapa tahu di antara mereka ada yang mau menikah denganku,” kata I Laurang mendesak kedua orang tuanya.
Setelah berkali-kali didesak, akhirnya kedua orang tua I Laurang pergi menghadap kepada sang Raja yang terkenal arif dan bijaksana itu untuk menyampaikan pinangan I Laurang.

“Ampun Baginda, jika kami yang miskin ini sudah lancang masuk ke istana yang megah ini. Maksud kedatangan kami adalah ingin menyampaikan pinangan anak kami kepada salah seorang putri Baginda,” jelas ayah I Laurang sambil memberi hormat.

Mendengar penjelasan itu, sang Raja pun tersenyum manggut-manggut sambil mengelus-elus jenggotnya yang sudah mulai memutih.

“Baiklah, kalau begitu! Aku akan menanyakan hal ini kepada tujuh putriku terlebih dahulu. Siapa di antara mereka yang bersedia menerima pinangan I Laurang,” kata Raja.

Setelah itu, Raja memerintahkan kepada Bendaharanya untuk mengumpulkan seluruh putrinya. Tidak berapa lama, ketujuh putri raja sudah berkumpul di ruang sidang. Raja kemudian menanyai satu per satu putrinya mulai dari yang sulung hingga kepada yang paling bungsu tentang pinangan I Laurang.
“Wahai, Putri Sulung! Bersediakah engkau menikah dengan I Laurang?” tanya Raja.
“Maafkan Nanda, Ayah! Nanda tidak mau menikah dengan I Laurang. Masih banyak pangeran dan pemuda tampan yang sepadan dengan Nanda,” kata si Putri Sulung menolak pinangan I Laurang.
Selanjutnya, Raja bertanya kepada putri keduanya. Namun, jawabannya sama dengan jawaban yang diberikan oleh si Putri Sulung. Demikian pula putri-putrinya yang berikutnya, mereka memberikan jawaban penolakan terhadap pinangan I Laurang. Akan tetapi, ketika pertanyaan itu ditujukan kepada si Bungsu, ia pun menjawab:

“Ampun Ayahanda! Jika Ayahanda berkenan, Nanda bersedia menikah dengan I Laurang”.
“Baiklah, Putriku! Ayahanda akan merestui kalian. Pesta pernikahan kalian akan kita langsungkan tiga hari lagi,” kata Raja.

Mendengar jawaban si Putri Bungsu dan restu dari Raja, ayah dan ibu I Laurang sangat gembira. Dengan perasaan suka cita, mereka pun mohon pamit kepada Raja untuk segera menyampaikan berita gembira itu kepada I Laurang.

“Benarkah Raja menerima pinanganku, Ibu?” tanya I Laurang seakan-akan tidak percaya mendengar berita itu.

“Benar, Anakku! Putri bungsu Raja yang bersedia menikah denganmu,” jawab ibu I Laurang.
Yakin pinangannya diterima, I Laurang langsung keluar dari kulit kepompong udangnya. Alangkah terkejutnya kedua orang tuanya saat melihat wajah anaknya.
“Waaah, ternyata kamu tampan dan gagah, Anakku!” seru ibunya dengan takjub sambil mengamati seluruh tubuh I Laurang dari ujung kaki hingga ke ujung rambut.

“Putri Bungsu pasti akan senang sekali mempunyai suami setampan kamu, Nak,” ujar ayah I Laurang.
Setelah itu, dengan ditemani ibunya, I Laurang pergi mencukur rambutnya yang sangat panjang, karena sejak kecil tidak pernah dipotong. Setiap bertemu warga di jalan, ibu I Laurang selalu ditanya tentang orang yang berjalan bersamanya.

“Siapa lelaki tampan yang berjalan di sampingmu itu?” tanya salah seorang warga kepada ibu I Laurang.
“Dia anakku, I Laurang, yang akan menikah dengan putri raja,” jawab ibu I Laurang.
Semua orang tercengang ketika mengetahui bahwa lelaki tampan itu adalah I Laurang. Selama ini, mereka mengenal I Laurang berwajah buruk seperti udang.

Saat pesta pernikahan berlangsung, seluruh keluarga istana terkejut melihat ketampanan I Laurang, terutama si Putri Bungsu dan keenam kakaknya. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata I Laurang seorang pemuda yang tampan. Berbeda dengan berita yang mereka dengar bahwa I Laurang itu buruk rupa seperti udang.

Si Putri Bungsu pun hidup berbahagia bersama I Laurang. Sementara keenam kakaknya iri hati dan dengki kepadanya. Mereka berniat merebut suami adiknya dengan cara mencelakai si Bungsu. Namun, niat jelek mereka diketahui oleh I Laurang. Oleh karena itu, I Laurang selalu menemani si Bungsu ke mana pun pergi, agar tidak diganggu oleh keenam kakaknya.

Pada suatu hari, I Laurang terpaksa harus meninggalkan istrinya, karena mendapat tugas dari aja untuk pergi berdagang ke daerah lain. Sebelum berangkat, I Laurang berpesan kepada istrinya.
“Dinda! Abang akan pergi berdagang ke negeri seberang. Dinda harus berhati-hati terhadap kakak-kakak Dinda. Rupanya mereka iri hati dan ingin mencelakai Dinda. Oleh karena itu, ambil dan bawalah pinang dan telur ini ke manapun Dinda pergi,” ujar I Laurang kepada istrinya.

“Baik, Kanda! Dinda akan selalu mengingat pesan Kanda,” jawab sang Putri Bungsu.
Setelah suami si Putri Bungsu berangkat, keenam kakaknya mengajaknya bermain ayunan di tepi laut. Si Bungsu pun menerima ajakan mereka tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Sesampainya di tepi laut, mereka bergiliran diayun. Ketika giliran si Putri Bungsu diayun, mereka beramai-ramai mengayunnya dengan kencang.

“Kak, hentikan! Kepalaku sudah pening dan peruktu mual. Hentikan...!!!” teriak si Putri Bungsu dengan ketakutan.

Keenam kakaknya tidak menghiraukan teriakannya. Mereka justru mengayunnya lebih kencang sehingga si Putri Bungsu terlempar ke laut dan tenggelam. Melihat kejadian itu, keenam kakaknya bersorak gembira dengan perasaan puas. Setelah itu, mereka pun pulang ke istana melapor kepada Raja bahwa si Bungsu meninggal dunia karena dimakan ikan saat mandi di tepi laut. Maka tersebarlah berita bahwa istri I Laurang meninggal dunia karena dimakan ikan.

Sementara itu, berkat pertolongan Tuhan, si Putri Bungsu yang tenggelam di laut masih hidup. Ia pun teringat dengan buah pinang dan telur pemberian suaminya. Buah pinang itu ia tanam di dasar laut, sedangkan telurnya ia pecahkan. Lama-kelamaan pecahan telur menjadi besar dan masuklah ia ke dalamnya untuk berlindung.

Beberapa bulan kemudian, buah pinang yang ditanamnya itu tumbuh menjadi pohon besar dan tinggi, sehingga melebihi permukaan air laut. Selang beberapa minggu, si Putri Bungsu menjelma menjadi seekor ayam dan kemudian bertengger di atas pohon pinang. Setiap ada perahu yang lewat, ayam itu selalu berkokok dan bertanya tentang keberadaan suaminya.

“Kuk kuruyuk...!!! Di manakah suamiku I Laurang? Bunga Putih nama perahunya!”
Demikian yang terus dilakukan ayam itu setiap ada perahu lewat.
Pada suatu hari, dari jauh tampaklah sebuah perahu yang akan melewati tempat ayam itu bertengger. Ketika kapal itu sudah dekat, ayam itu berkokok dengan sekeras-kerasnya dan menanyakan keberadaan suaminya.
“Kuk kuruyuk...!!! Di manakah suamiku I Laurang?”

Mendengar teriakan ayam itu, tiba-tiba seorang lelaki tampan keluar dari dalam kapal dan berdiri di anjungan.
“Aku I Laurang,” teriak lelaki tampan itu.
Kapal itu mendekati ayam yang sedang bertengger di atas pohon pinang. Saat kapal itu semakin dekat, ayam itu langsung terbang ke kapal sambil menangis.
“Bang! Ini aku Putri Bungsu, istrimu,” kata ayam itu.

I Laurang pun segera mengelus-ngelus ayam itu sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra. Beberapa saat kemudian, atas kuasa Tuhan, ayam itu berubah kembali menjadi si Putri Bungsu. Kedua suami-istri itu berpelukan sambil menangis. Setelah itu, si Putri Bungsu menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga ia menjelma menjadi seekor ayam.

“Sudahlah, Dinda! Mari kita kembali ke istana. Tentu ayahanda, ibunda, serta keenam kakakmu sudah lama menunggumu,” ujar I Laurang kepada istrinya.

“Tapi, Bang! Bagaimana dengan keenam kakakku? Mereka pasti akan mencari cara lain untuk menyingkirkan Dinda, sehingga mereka bisa menikah dengan Abang,”  kata si Putri Bungsu dengan perasaan cemas.

“Dinda tidak usah khawatir. Abang mempunyai cara agar keenam kakak Dinda itu menjadi jera dan tidak akan mengganggu Dinda lagi,” ujar I Laurang menenangkan istrinya.
“Bagaimana caranya, Bang?” tanya si Putri Bungsu penasaran.
“Dinda bersembunyi di dalam peti itu. Kemudian Abang memberi Dinda jarum besar. Jika ada yang memikul peti itu, maka tusuklah pundaknya,” jelas I Laurang.
“Baik, Bang!” jawab si Putri Bungsu sambil mengangguk-angguk.

Ketika kapal yang mereka tumpangi merapat di pelabuhan, seluruh keluarga istana datang menyambut kedatangan I Laurang, tidak terkecuali keenam kakak si Putri Bungsu. Mereka senang sekali I Laurang telah kembali. Dalam hati mereka bertanya-tanya siapa di antara mereka yang akan dipilih oleh I Laurang untuk menjadi istrinya. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha mencari perhatian I Laurang. Ternyata I Laurang pun sudah memahami sikap dan gerak-gerik mereka.

“Barangsiapa di antara kalian yang mampu memikul peti itu sampai ke istana, maka dialah yang akan menjadi istriku,” ujar I Laurang sambil menunjuk peti yang berisi Putri Bungsu.

Mendengar pernyataan I Laurang itu, maka berlomba-lombalah mereka ingin mengangkat peti itu. Giliran pertama jatuh pada putri yang sulung. Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat peti itu ke atas pundaknya. Namun, baru beberapa langkah berjalan, ia menghempaskan peti itu, karena tidak kuat menahan rasa sakit akibat terkena tusukan jarum di pundaknya. Putri Sulung gagal menjadi istri I Laurang. Selanjutnya giliran putri kedua yang mengangkat peti itu. Namun, baru beberapa meter berjalan, ia menjatuhkan peti itu, karena tidak mampu menahan rasa sakit di pundaknya. Demikian pula putri ketiga, keempat, kelima dan keenam, gagal memikul peti itu sampai ke istana.

“Oleh karena tidak seorang pun yang berhasil, maka kalian gagal menjadi istriku,” kata I Laurang dengan perasaan puas.

Setelah itu, I Laurang memerintahkan beberapa orang pengawal untuk mengikat peti itu dengan tali, lalu mengangkatnya beramai-ramai ke istana. Sesampainya di istana, I Laurang kemudian menjelaskan apa sebenarnya isi peti itu.

“Pengawal! Buka peti itu!” seru I Laurang kepada salah seorang pengawal.
“Baik, Tuan!” jawab pengawal itu.

Setelah peti terbuka, alangkah terkejutnya keenam putri raja tersebut, karena ternyata isi peti itu adalah si Putri Bungsu yang mereka kira sudah meninggal dunia. Oleh karena tidak kuat menahan rasa malu kepada adiknya dan I Laurang, keenam kakaknya itu berlari berhamburan. Putri Sulung berlari ke arah pintu, putri kedua dan ketiga berlari ke dapur, putri keempat dan kelima berlari keluar dari istana, dan putri keenam berlari ke dekat sumur.

Akhirnya, si Putri Bungsu pun diangkat menjadi Raja untuk menggantikan ayahnya, sedangkan keenam kakaknya menjadi pelayannya. Putri Sulung yang berlari ke arah pintu bertugas membuka dan menutup pintu; putri kedua dan ketiga yang berlari ke dapur bertugas memasak; putri keempat dan kelima yang berlari keluar istana bertugas menumbuk padi di lesung; dan putri keenam yang berlari ke dekat sumur bertugas mencuci.

- Copyright © Regina Theyser - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -